Menjelaskan Kebutuhan Yang Terpuaskan Melalui Pekerjaan dengan singkat

Secara garis besar, kebutuhan manusia dapat dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

  1. Kebutuhan phisik
  2. Kebutuhan rasa aman
  3. Kebutuhan sosial
  4. Kebutuhan ego

Cara lain untuk mengelompokkan kebutuhan manusia adalah berdasarkan sarana, dengan hal apa kebutuhan-kebutuhan ini terpuaskan. Beberapa bentuk kepuasan dinikmati di luar kerja, misalnya, seseorang membelanjakan gajinya di luar tempat kerjanya. Kebutuhan lainnya terpuaskan melalui lingkuangn kerja yang menggembirakan dan memuaskan di sekitar pekerjaan. Bentuk kepuasan ketiga dapat diperoleh hanya melalui proses bekerja dan dengan demikian dapat disebut kepuasan intrinsik atau melalui pekerjaan. Pengelompokan menjadi tiga kategori ini sangat penting artinya bagi motivasi para pekerja.

Bila manajemen menekankan pemenuhan kepuasan di luar pekerjaan, maka pada hakekatnya manajemen menciptakan keadaan dimana karyawan akan menganggap bahwa pekerjaan adalah sebagai hukuman yang harus ditanggung para pekerja. Bila para manajer menekankan kepuasan di sekitar pekerjaan, berusaha membuat lingkungan kerja menjadi suatu yang menyenangkan, hal itu tidak memberikan motivasi positif yang langsung pada orang, agar terdorong untuk bekerja lebih giat. Bila pemenuhan kebutuhan (kepuasan) dilakukan melalui pekerjaan, maka para pekerja akan bekerja keras. Makin giat mereka bekerja, makin besar kepuasan mereka.

Sampai suatu batas tertentu, kebutuhan phisik terpuaskan di luar pekerjaan, kebutuhan sosial terpuaskan melalui hubungan pribadi di sekitar pekerjaan, sedangkan kebutuhan ego terutama terpuaskan melalui pekerjaan. Tetapi tentunya ada banyak pengecualian atas “kaidah” ini. Misalnya, status adalah kebutuhan sosial, tetapi diperoleh melalui pekerjaan bilamana mendapat jabatan penting.

Status tersebut dinikmati baik di luar pekerjaan maupun di dalam pekerjaan. Seorang wiraniaga dapat memenuhi kebutuhan sosialnya melalui pekerjaan, semakin sering dia menawarkan dagangannya makin besar pula peluangnya untuk bertemu dengan orang lain. Dengan mengingat hal-hal di atas, sekarang kita tinjau berbagai bentuk pemuasan kebutuhan yang diperoleh dari pekerjaan.

 

  1. Kebutuhan Phisik

Tanyalah seseorang, mengapa dia bekerja. Pada umumnya akan dijawab “untuk mencari uang”. Memang kebutuhan mencari nafkah adalah alasan satu-satunya yang paling kuat mendorong orang untuk bekerja, walaupun sebagaimana yang dapat kita lihat, rangsangan yang bukan uang juga adalah penting.

Uang dapat memuaskan hampir segala jenis kebutuhan. Manfaat yang paling utama adalah memenuhi kebutuhan phisik, tetapi status sosial dalam masyarakat juga tergantung pada besarnya penghasilan seseorang. Lalu, dengan memiliki penghasilan yang baik, banyak orang merasa kebutuhan ego, yaitu rasa berhasil, juga telah terpenuhi.  Namun, sebagian orang menolak promosi dengan gaji lebih besar, hanya karena promosi melibatkan “terlalu” banyak tanggung jawab.

Walaupun dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas, penghasilan mungkin hanya menjadi ukuran kasar untuk status, tetapi di dalam pabrik, uang menjadi alat ukur yang paling tepat akan pentingnya suatu pekerjaan. Bahkan, selisih sebesar satu sen pun dalam upah, dapat mempunyai arti penting. The National War Labor Board mengatakan, “tidak ada satu faktor pun dalam seluruh bidang hubungan kerja yang lebih merusak semangat kerja, menciptakan ketidak puasan individu, mendorong kemangkiran, mempertinggi tingkat keluarnya karyawan, dan menghambat produktivitas, selain dari perbedaan yang jelas-jelas tidak adil dalam tingkat upah.

  1. Kebutuhan Rasa Aman

Keamana kerja (job security) merupakan kebutuhan dasar manusia, dan bagi kebanyakan orang, bahkan lebih penting daripada besarnya gaji atau promosi. Dorongan keinginan untuk membentuk Serikat Buruh, masalah yang paling serius pada hubungan atasan dan bawahan, ketakutan akan perobahan teknologi, semua bersumber dari dari kebutuhan akan rasa aman.

Orang belum cukup puas dengan terpenuhinya kebutuhan phisik dari hari ke hari, setiap orang ingin kepastian bahwa kebutuhan tersebut akan tetap terpenuhi di masa mendatang.

  1. Kebutuhan Sosial

Manusia adalah mahluk sosial, menghasratkan persahabatan, tidak berbahagia bila ditinggal sendirian atau terasing dari lingkunaannya. Manusia selalu berusaha bergaul karena haus dan butuh komunitas. Terutama bagi pekerja yang tidak memperoleh kepuasan dalam rumah tangganya, pekerjaan memberikan sebagian besar kepuasan akan kebutuhan sosial mereka.

Karena senda gurau (canda) sosiallah maka banyak pekerjaan jadi dapat dipikul. Bila tidak ada lagi pembicaraan yang konstruktif (bermanfaat), masalah kecil dapat dibesar-besarkan dan kebosanan dan atau kejenuhan dapat disalurkan dengan saling menyebarkan desas desus.

Pekerjaan sering memuaskan kebutuhan sosial lain disamping kebutuhan akan persahabatan. Bergabung dalam suatu kelompok khusus, memberikan suatu rasa identifikasi dan keikut sertaan pada pekerja, dan mereka memaksakan terbentuknya “kelompok informasl” walaupun terkadang harus menghadapi tentangan manahemen. Bila mereka tidak dapat mencapai identifikasi tadi, pekerjaan menjadi kurang menggairahkan.

Memang ada bukti bahwa pekerja yang bergabung dalam kelompok kerja kecil dan terpadu, mempunyai semangat yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang bekerja sendiri atau mereka yang bekerja diantara kelompok yang besar, dengan siapa mereka mempunyai hubungan yang kurang akrab.

Hanya dengan bekerjasama saja, atau bergotong royong, sudah membantu membangkitkan semangat kerja. Kebanyak orang, senang membantu orang lain. Juga pada saat kita membutuhkan, kita merasa senang bila dibantu oleh prang lain.

Rangkaian kebutuhan sosial lainnya, berkembang dari hubungan antara bawahan dan atasannya. Biasanya bawahan ingin diperhatikan dan diperlakukan secara adil. Ia mengharapkan dengar pendapat yang adil, bila pada dasarnya atasan telah mengambil keputusan yang keliru, dan dia ingin memperoleh hak untuk mengajukan pendapat. Pada umumnya orang akan merasa senang mendapat pujian bila mereka mengerjakan sesuatu dengan baik. Pekerja juga mengharapkan pengakuan dari atasannya. Akhirnya, ia ingin mengetahui posisinya.

 

  1. Kebutuhan Ego

Merasa “berarti”

“Yang menjadi persoalan dalam pekerjaan ini adalah, bahwa saya tidak berarti, tidak mengerjakan sesuatu yang bernilai, tidak mempunyai arah. Peranan saya sangat kecil, sedemikian kecilnya sehingga orang tidak merasa kehilangan atau tidak memperhatikan bila saya tidak ada. Seseorang akan merasa tidak senang dengan pekerjaannya bila mengalami hal demikian.

Dua orang peneliti bangsa Inggeris, dalam penelitian di sebuah pabrik permen, pernah menemukan bahwa pusat ketidak-puasan terbesar adalah suatu kelompok kerja kecil, yang pekerjaannya terdiri dari membuka kembali bungkus coklat yang kurang baik, yang merupakan bagian dari operasi penyelamatan produk. Para pekerja merasa bahwa pekerjaan mereka jauh kurang bermanfaat dibandingkan dengan pekerja lainnya.

Operator tangga berjalan, penjaga pintu dan penjaga lantai dasar — semua ingin merasa bahwa pekerjaan mereka penting.

Merasa “berhasil”

Saya tidak tahu mengapa saya tidak pernah dianggap berprestasi dalam pekerjaan saya. Saya merasa tidak pernah berhasil mencapai sesuatu, padahal orang lain selalu mendapat penghargaan”. Salah satu kebutuhan manusia yang paling kuat adalah merasa berhasil. Seseorang yang merasa berhasil dalam pekerjaannya, akan merasa bangga pada pekerjaan tersebut.

Pekerjaan yang tampaknya tanpa tujuan, biasanya menimbulkan frustrasi. Salah satu hukuman yang paling tidak enak dalam kalangan militer adalah disuruh menggali lubang kemudian harus ditutup kembali. Bandingkan ini dengan penghargaan besar yang diterima oleh orang yang mengerjakan tugas kasar sekalipun dalam sebuah rumah sakit, karena merasa “menolong sesamanya”

Pekerja akan merasa bangga dan puas pada waktu melihat hasil kerjanya: “Saya merasa sangat puas tiap kali saya melihatnya dipajang di dalam toko” demikian dia akan berkata dengan bangga, atau: “Buatan kami adalah yang terbaik dari seluruh barang sejenis dengan produk kami”.

Otonomi (Kebebasan Atas Diri Sendiri).

Ada suatu hal yang aneh. Saya bekerja sepanjang hari di pabrik, kemudian saya pulang, dan apa yang saya lakukan?. Saya bekerja lagi di bengkel dalam gudang saya, saya senang mengerjakan sesuatu dengan tangan saya sendiri. Aneh, itu yang saya lakukan di pabrik, tetapi saya merasa berbeda. Di rumah saya menjadi majikan sendiri — dan itu betul-betul nikmat.

Kebanyakan orang suka menjadi majikan bagi dirinya sendiri. Tetapi dalam industri modern hanya sedikit pekerja yang benar-benar memiliki perasaan ini. Proses spesialisasi telah mengakibatkan individu pekerja kehilangan kebebasan untuk merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaan sendiri. Akibatnya, banyak pekerjaan kehilangan kesempatan akan spontanitas dan kreativitias pekerja.

Terkadang, ada obrolan iseng yang dituturkan oleh para pekerja, yang menunjukkan adanya keinginan mereka yang tersembunyi, untuk melakukan pekerjaan dengan cara mereka sendiri.

Ada cerita di pabrik gelas, seorang peniup gelas mulai merasa bosan membuat gelas berbentuk kelinci dengan telinga tegak. Suatu hari ia memutuskan untuk membiarkan telinga kelinci terkulai. “Saya pikir ini mungkin merupakan perubahan yang manis” demikian pernyataannya kepada manajemen yang tercengang melihat bentuk baru produk mereka.