Menjelaskan Kebudayaan Suku Dayak dengan singkat

  • Pakaian Adat Suku Dayak 

Pakaian adat untuk wanita dinamakan Ta’a dan untuk para lelakinya bernama sapei sapaq. Biasanya pakaian adat tersebut digunakan saat acara besar dan menyambut tamu agung. Ta’a terdiri dari da’a yaitu semacam ikat kepala yang terbuat dari pandan yang umumnya digunakan oleh orang tua. Atasan atu baju yang mereka kenakan disebut sapei inoq dan bawahannya berupa rok yang disebut dengan Ta’a. Baik atasan maupun bawahan semua dihiasi dengan manik-manik agar terlihat cantik.

Wanita yang memakai ta’a ini biasanya dilengkapi dengan uleng atau hiasan kalung manik sampai bawah dada. Sedangkan untuk para lelaki masyarakat Dayak mengenakan pakaian yang disebut dengan Sapei sadaq dengan corak dan motif yang hampir sama dengan pakaian adat perempuan dayak. Namun, pada sapei sapaq atasan dibuat rompi dan bawahannya adalah cawat yang disebut abet kaoq.

Umunya , para pria dayak melengkapi penampilan mereka dengan mandau ayng terikat pada pinggang mereka. Pada umumnya , tidak ada perbedaan mencolok dari motif antara lelaki dan perempuan maupun si bangsawan dan si rakyat biasa, hanya saja di beberapa daerah yang masih mengenal kasta jika anda memakai pakaian adat yang bercorak enggang atau harimau berarti yang memakainya adalah keturunan bangsawan.

Baca Juga : 

Jika anda memakai motif tumbuhan berarti anda adalah orang biasa. Pada umumnya , pakaian adat suku dayak kebanyakan mengambil motif kehidupan binatang dan alam namun yang paling banyak tetap saja kehidupan amrga satwa terutama burung. Demikian pula dengan tari-tariannya yang sering menggambarkan kehidupan burung dengan bulu cantik yang sedang melakukan gerakan terbang. Sungguh menarik bukan , jika anda ingin mengetahuinya lebih dalam lagi , anda jangan sedih , semua hal ini bisa anda rasakan jika anda berkunjung Ke kalimantan.

  • Rumah Adat Suku Dayak

Rumah Betang atau rumah Panjang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman sku Dayak. Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter.

Umumnya rumah Betang dibangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga hingga lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit pemukiman bisa memiliki rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Betang yang besar tersebut.

Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagai makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang.

Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama, ataupun latar belakang sosial.

Baca Juga :