Menjelaskan Jenis Infeksi Telinga dengan singkat

Infeksi Aurikula

  • Selulitis aurikular

Selulitis auricular adalah infeksi pada kulit yang melapisi bagian luar telinga dan biasanya didahului riwayat trauma. Gejala selulitis dapat berupa nyeri, eritem, bengkak dan hangat pada bagian luar telinga terutama lobul namun tanpa keterlibatan meatus auditorius atau struktur lainnya.

Terapi berupa kompres hangat dan antibiotik oral seperti dicloxacillin yang aktif terhadap patogen kulit dan jaringan lunak (terutama S.aureus dan streptokokus). Antibiotik  intravena seperti sefalosporin generasi pertama jarang digunakan kecuali pada kasus yang sangat berat.

  • Perikondritis

Perikondritis merupakan infeksi pada perikondrium dari kartilago aurikular yang biasanya didahului trauma. Infeksi dapat menyebar ke dalam kartilago dan menjadi kondritis.

Gejala infeksi menyerupai selulitis aurikular, terdapat eritem dan nyeri yang luar biasa pada pinna, namun lobul tidak begitu terlibat. Etiologi tersering adalah P. Aeruginosa dan S. Aureus.

Terapi dengan memberikan antibiotik sistemik yang sensitif terhadap etiologi tersering. Jika perikondritis tidak memberikan respon yang baik terhadap terapi antibiotik, penyebab inflamasi lain harus dipikirkan. Dapat terjadi komplikasi berupa mengkerutnya daun telinga akibat hancurnya tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga (cauliflower ear).

Infeksi Otitis Eksterna

Otitis eksterna adalah radang liang telinga akibat infeksi bakteri, jamur dan virus. Ada 2 jenis otitis eksterna yaitu otitis eksterna akut dan otitis eksterna kronik.

Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya otitis eksterna, yaitu :

  1. Derajat keasaman (pH). pH basa mempermudah terjadinya otitis eksterna. pH asam berfungsi sebagai protektor terhadap kuman.
  2. Udara yang hangat dan lembab lebih memudahkan kuman bertambah banyak.
  3. Trauma ringan misalnya setelah mengorek telinga.
  4. Perubahan warna kulit liang telinga dapat terjadi setelah terkena air.

Otitis eksterna merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap pembentukan lokal otitis eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi bakteri patogen yang paling umum disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus dan proteus, atau jamur.

Penyakit ini sering diumpai pada daerah-daerah yang panas dan lembab dan jarang pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis eksterna sangat komplek dan sejak tahun 1844 banyak peneliti mengemukakan faktor pencetus dari penyakit ini seperti Branca (1953) mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab dan menimbulkan kekambuhan.

Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas, lembab dan trauma terhadap epitel dari liang telinga luar merupakan faktor penting untuk terjadinya otitis eksterna. Howke dkk (1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat menyebabkan terjadi otitis eksterna baik yang akut maupun kronik.

 

Klasifikasi Otitis Eksterna

  • Penyebab tidak diketahui :

  1. Malfungsi kulit : dermatitis seboroita, hiperseruminosis, asteotosis
  2. Eksema infantil : intertigo, dermatitis infantil.
  3. Otitis eksterna membranosa.
  4. Meningitis kronik idiopatik.
  5. Lupus erimatosus, psoriasis.
  • Penyebab infeksi

  1. Bakteri gram (+) : furunkulosis, impetigo, pioderma, ektima, sellulitis, erisipelas.
  2. Bakteri gram (-) : Otitis eksterna diffusa, otitis eksterna bullosa, otitis eksterna granulosa, perikondritis.
  3. Bakteri tahan asam : mikrobakterium TBC.
  4. Jamur dan ragi (otomikosis) : saprofit atau patogen.
  5. Meningitis bullosa, herpes simplek, herpes zoster, moluskum kontangiosum, variola dan varicella.
  6. Protozoa
  7. Parasit
  • Erupsi neurogenik : proritus simpek, neurodermatitis lokalisata/desiminata, ekskoriasi, neurogenik.
  • Dermatitis alergika, dermatitis kontakta (venenat), dermatis atopik, erupsi karena obat, dermatitis eksamatoid infeksiosa, alergi fisik.
  • Lesi traumatika : kontusio dan laserasi, insisi bedah, hemorhagi (hematom vesikel dan bulla), trauma (terbakar, frosbite, radiasi dan kimiawi).
  • Perubahan senilitas.
  • Deskrasia vitamin.
  • Diskrasia endokrin.

Otitis Eksterna Sirkumskripta

Oleh karena kulit di sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka di tempat itu dapar terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentk furunkel. Kuman penyebab biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus.

Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar di bawahnya sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri juga dapat timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga.

Otitis Eksterna Difus

Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya. Kuman penyebab biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain yang dapat  sebagai penyebab ialah Staphylococcus albus, Escherichia coli dan sebagainya. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis.

Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri tekan serta terdapat secret yang berbau, secret ini tidak mengandung lender (musin) seperti sekret yang keluar dari kavum timpani pada otitis media.

Otitis Eksterna Maligna

Otitis eksterna maligna adalah infeksi difus di liang telinga luar dan struktur lain di sekitarnya. Biasanya terjadi pada orang tua dengan penyakit diabetes melitus yang diakibatkan peningkatan pH serumen sehingga lebih rentan terhadap otitis eksterna. Kondisi immunocompromise dan mikroangiopati dapat menyebabkan otitis eksterna berkembang menjadi otitis eksterna maligna.

Pada otitis eksterna maligna peradangan meluas secara progresif ke lapisan subkutis, tulang rawan dan tulang sekitar sehingga menyebabkan kondritis, osteitis dan osteomielitis yang menghancurkan tulang temporal.

Gejala otitis eskterna maligna berupa rasa gatal di liang telinga yang dengan cepat diikuti oleh nyeri, sekret yang banyak serta pembengkakan liang telinga. Liang telinga dapat tertutup oleh pertumbuhan jaringan granulasi. Jika saraf fasialis mengalami kerusakan, dapat terjadi paresis atau paralisis fasial.

Pada pemeriksaan dapat ditemukan :

  • Adanya inflamasi yang terlihat pada liang telinga luar dan jaringan lunak periaurikuler
  • Nyeri yang hebat, ditandai kekakuan jaringan lunak ramus mandibula dan mastoid
  • Jaringan granulasi terdapat pada dasar hubungan tulang dan tulang rawan.
  • Nervus kranialis harus (V-XII) diperiksa
  • Status mental harus diperiksa.
  • Membran timfani intak
  • Demam tidak umum terjadi.
  • CT scan, scan tulang, dan scan gallium dapat membantu menentukan adanya penyakit ini

Infeksi Otomikosis

Otomikosis adalah infeksi jamur superfisial atau subakut pada kanalis auditorius externus. Liang telinga merupakan tempat yang ideal untuk tumbuhnya organisme saprofit seperti jamur tertentu karena liang telinga dihubungkan dengan udara luar oleh suatu lubang yang sempit, sehingga dapat berfungsi sebagai tabung biakan dan merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan jamur.

Jamur biasanya menginvasi secara sekunder pada jaringan luka yang pertama kali disebabkan oleh infeksi bakteri, cedera fisik atau penimbunan serumen yang berlebihan di kanalis auditorius externus.

Otomikosis dapat diklasifikasikan menjadi otomikosis primer dan sekunder. Otomikosis primer biasanya terjadi pada keadaan lembab saat atmosfir mengandung kelembapan yang tinggi. Kelembapan yang tinggi ini membuat kulit liang telinga luar membengkak dan berair. Hal ini menjadi predisposisi infeksi jamur.

Otomikosis sekunder terjadi sebagai immunocompromised seseorang dan pada orang yang mengalami OMSK. Pasien dengan OMSK biasanya menggunakan tetes telinga antibiotik spektrum luas. Tetes telinga ini tidak hanya membunuh patogen tetapi juga komensal alami yang menyebabkan infeksi jamur sekunder.

Jamur dapat sebagai penyebab utama dari suatu infeksi primer, tetapi biasanya juga disertai dengan infeksi bakteri kronik yang berasal dari kanalis eksterna ataupun telinga tengah. Otomikosis sekunder dapat terjadi jika penyebab infeksi primer tidak diatasi.

Semua jamur dapat berkembang pada lingkungan yang suasananya lembab, hangat dan gelap. Dari ketiga faktor tersebut suasana lembab merupakan faktor predisposisi yang mempercepat pertumbuhan jamur.

Terdapat beberapa faktor yang memudahkan timbulnya otomikosis :

  1. Terjadinya perubahan pH epitel liang telinga yang semula bersifat asam menjadi bersifat basa.
  2. Temperatur dan kelembaban udara.
  3. Trauma, kebiasaan mengorek telinga dengan bahan yang kurang bersih, atau mengorek telinga terlalu keras sehingga menimbulkan goresan pada kulit liang telinga.
  4. Korpus alienum (benda asing) dalam telinga seperti air, timbunan serumen atau serangga.
  5. Kelainan kongenital, yaitu bentuk liang telinga yang sempit dan melekuk lebih tajam sehingga menghalangi pembersihan serumen atau menyebabkan kelembaban yang tinggi pada liang telinga.
  6. Penggunaan antibiotika dan steroid yang lama pada telinga.
  7. Imunnocompromised condition.
  8. Penyakit kulit seperti dermatitis seboroik

Gejala awal otomikosis adalah perasaan penuh pada telinga dan rasa gatal pada liang telinga. Kadang-kadang juga ditemukan adanya cairan. Penyumbatan liang telinga dapat menyebabkan penurunan pendengaran dan mendengar bunyi mendenging (tinitus).

Pada pemeriksaan otoskopi menunjukkan adanya kumpulan kotoran (debris), tampak meradang (eritema) dan pembengkakan liang telinga. Jika penyebabnya adalah Aspergillus niger sering ditemukan adanya spora berwarna kehitaman.

 

Penatalaksanaan terpenting adalah menghilangkan faktor predisposisi, penggunaan antijamur dan menjaga kebersihan liang telinga. Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2-5% dalam alkohol yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-kadang diperlukan juga obat anti-jamur (sebagai salep) yang diberikan secara topikal.

Infeksi Herpes Zoster Otikus

Herpes Zoster Otikus adalah infeksi virus pada telinga dalam, telinga tengah dan telinga luar. HZO manifestasinya berupa otalgia berat yang disertai dengan erupsi kulit biasanya pada CAE dan pinna. Bila disertai dengan paralisis n VII maka disebut sebagai Ramsay Hunt Syndrome.

Patofisiologi : merupakan reaktifasi dari varicella-zoster virus (VZV) yang terdistribus sepanjang saraf sensoris yang menginervasi telinga, termasuk didalamnya ganglion genikulatum. Apabila gejala disertai kurang pendengaran dan vertigo, maka ini adalah akibat penjalaran infeksi virus langsung pada N. VIII pada posisi sudut serebelo pontin, atau melalui vasa vasorum.

Anamnesis disertai riwayat : nyeri dan terasa panas pada sekitar telinga, wajah, mulut dan lidah. Vertigo, nausea, muntah. Kurang pendengaran, hiperakusis, tinitus. Rasa sakit pada mata, lakrimasi. Vesikel bisa muncul sebelum, selama maupun sesudah terjadinya paralisis n VII.

Perlu ditanyakan riwayat pernah terkena cacar air sebelumnya, bahkan saat masih kecil. Terapi : sampai saat ini sifatnya hanya suportif misalnya kompres hangat analgetik narkotika dan antibiotika untuk mencegah sekunder infeksi. Sebenarnya antivirus memberikan efek yang baik yaitu penyakit menjadi tidak terlalu berat dan cepat membaik.

Infeksi Kronis Liang Telinga

Penyakit ini merupakan akibat dari infeksi bakteri maupun infeksi jamur yang tidak diobati dengan baik, iritasi kulit yang disebabkan cairan otitis media, trauma belulang, adanya benda asing, penggunaan cetakan (mould) pada alat bantu dengar (hearing aid) dapat menyebabkn tadang kronis. Akibatnya terjadi stenosis atau penyempitan liang telinga da terbentuknya jaringan parut (sikatriks).

Infeksi Otitis Media Akut

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.

1. Etiologi

Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri. Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus dan kadang-kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri.

Bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir.

Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal.

  • Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
  • Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
  • Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius.

    Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.

2. Patofisiologi

Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.

Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri.

Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.

Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.

Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah:

 

  • Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi.

  • Stadium hiperemis (presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat

  • Stadium supurasi

Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani. Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat.

Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur.

  • Stadium perforasi

Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak.

  • Stadium resolusi

Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan.

Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.

Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.

Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (>39,5 derajat celsius), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare, kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani, suhu tubuh akan turun dan anak tertidur.