Menjelaskan Faktor Pertumbuhan Mieloid dengan singkat

Pengendali Granulopoesis : Faktor Pertumbuhan Mieloid

Seri granulosit berasal dari sel progenitor sumsum tulang yang makin lama terspesialisasi. Banyak faktor pertumbuhan yang terlibat dalam proses pematangan ini termasuk interleukin-1 (IL-1), IL-3, IL-5 (untuk eosinofil), IL-6, IL-11, faktor pertumbuhan koloni granulosit-makrofag (granulocite-macrophage colony stimulating factor, GM-CSF), CSF granulosit (G-CSG) dan CSF monosit (M_CSF). Faktor-faktor pertumbuhan tersebutmerangsang terjadinya proliferasi, diferensiasi, serta mempengaruhi fungsi sel matur tempat faktor tersebut bekerja (misalnya fagositosis, pembentukan superoksida dan sitotoksisitas dan produksi sitoksin lain oleh monosit.

Produksi granulosit dan monosit yang bertambah akibat adanya infeksi diinduksi oleh meningkatnya produksi faktor pertumbuhan dari sel stroma dan limfosit T, yang dirangsang oleh endotoksin, IL-1, atau faktor nekrosis tumor (tumor necrosis factor, TNF) (Hoffbrand dkk, 2005).

Aplikasi Klinis Faktor Pertumbuhan Mieloid

Pemberian G-CSF secara intravena atau subkutan dalam klinik telah terbukti menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah netrofil, sedangkan pemberian GM_CSF meningkatkan jumlah netrofil, eosinofil dan monosit. Obat-obat ini telah banyak dipakai dalam praktik klinik dan beberapa indikasinya adalajjjh sebagai berikut :

  • Pasca-kemoterapi, radioterapi atau transpalantasi sumsum tulang.
    Pada keadaan ini GM_CSFdan G_CSF mempercepat pemulihan hemopoietik dan mempersingkat periode netropenia. Sehingga hal ini mengurangi lama rawat inap dirumah sakit, pemakaian antibiotik dan kekerapan infeksi, tetapi periode netropenia berat setelah kemoterapi intensif tidak dapat dicegah atau dipersingkat.
  • Leukemia mielositik akut.
    G-CSFdigunakan dalam beberapa protokol untuk merangsang sel blas mieloid masuk ke dalam siklus sel yang meningkatkan sensivitasnya terhadap kemoterapi.
  • Mielodisplasia.
    Faktor pertumbuhan granulosit telah diberikan secara tersendiri atau bersama dengan zat seperti eritropoietin sebagai usaha untuk memperbaiki fungsi sumsum tulang tanpa mempercepat transformasi leukemia.
  • Netropenia berat.
    Netropenia konginetal dan dapat (termasuk netropenia siklik dan netropenia yang diinduksi obat) telah terbukti berespons baik terhadap pemberian G-CSF.
  • Infeksi berat.
    GM-CSF dan G-CSF telah digunakan sebagai adjuvan untuk terapi antimikroba dan GM-CSF dapat sangat membantu pada penyakit jamur invasif.
  • Transplantasi sel induk darah tepi.
    G-CSF digunakan untuk meningkatkan jumlah progenitor multipoten dalam darah, dan meningkatkan panen sel induk darah tepi yang cukup untuk transplantasi (Hoffbrand dkk, 2005).