Menjelaskan Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial dengan singkat

Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan sosial yaitu sempitnya waktu masyarakat tani terhadap upacara adat yang biasa dilakukan dalam berusaha tani.  Telah terjadi perubahan mendasar pada berbagai kegiatan budidaya pertanian di Tana Toraja terutama yang menyangkut berbagai upacara adat. Berbagai bentuk upacara seperti mangkaro kalo’ (sebelum tanam), menamu (ketika padi sudah mulai berisi), mepase (ketika padi akan dipotong, manglika (menaikkan padi ke lumbung), dan buka allang (mengambil padi dari lumbung) sekarang sudah tidak dilakukan lagi. Hal ini terkait dengan semakin sempitnya waktu masyarakat tani dan perhatian terhadap upacara tersebut yang semakin menurun.

Beberapa kegiatan teknologi pertanian lainnya, baik pra panen dan pasca panen juga telah mengalami perubahan. Perubahan teknologi pertanian yang terjadi di Desa Lembang Turunan saat ini keadaannya tidak jauh berbeda dengan daerah pertanian dataran rendah lain. Tetapi diketahui bahwa perubahan tersebut lebih lambat dibanding dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan karena hasil pertanian padi bukan merupakan satu-satunya tumpuan bagi keluarga di Toraja, meskipun padi merupakan lambang kemakmuran bagi keluarga, yang ditandai dengan banyaknya lumbung yang dimiliki.

Penerapan teknologi pertanian akan meningkatkan produksi hasil yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan petani. Untuk petani yang berhasil, akan membeli menyewa atau membeli sawah di tempat lain yang pada akhirnya akan meningkatkan status sosialnya. Tetapi diketahui bahwa peningkatan status ini bersifat ‘semu’.

Untuk pertanyaan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya perubahan, hanya 4 responden yang menyatakan bahwa perubahan teknologi pertanian merupakan inisiatif petani sendiri (faktor internal). Jawaban atas pertanyaan yang lebih mendalam (depth interview), kira-kira apa yang mendorong munculnya inisiatif sendiri tersebut adalah: (1) tayangan televisi, (2) pengalaman melihat dari daerah lain yang lebih maju, dan (3) ada kebutuhan dari diri sendiri untuk meningkatkan diri dengan memperbarui teknologi yang ada.

Sementara itu 31 responden sisanya mengaku perubahan teknologi yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti: kebijakan pemerintah dan penyuluhan. Pada wawancara yang lebih mendalam diketahui bahwa faktor eksternal tersebut ternyata selalu berubah sehingga sangat mempengaruhi produktivitas hasil pertanian yang dicapai. Bahkan pada era desentralisasi ini perhatian pemerintah dalam bidang pertanian dirasa menurun jika dibanding dengan era sentralisasi. Jika dahulu ada berbagai program seperti inmas, insus, supra insus dan sebagainya, sekarang tidak ada lagi. Untuk program penyuluhan, pada era sentralisasi dahulu ditangani langsung dari pusat. Sementara itu pada era desentralisasi saat ini, fungsi dan peran dan fungsi penyuluh tidak jelas. Di tingkat pusat, penyuluhan tidak lagi ditangani secara khusus tetapi merupakan bagian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sedangkan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, kebijakannya berbeda-beda, bahkan di Tana Toraja kedudukan penyuluh tidak jelas .

Margono Slamet yang lebih berorientasi pada adanya suatu kekuatan dari dalam dan dari luar yang mendorong seseorang untuk berubah yang disebut dengan motivational forces, Soerjono Soekanto menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendorong perubahan-perubahan dalam masyarakat antara lain sebagai berikut.

Faktor Pendorong Perubahan Sosial

  • Sistem Pendidikan yang Maju
    Dengan adanya sistem pendidikan yang maju, membuat seseorang memiliki wacana ilmu pengetahuan yang baru, yang dapat mengubah pola pikir seseorang untuk selalu menciptakan hal yang baru, tentunya yang dapat memajukan suatu kehidupan sosial dalam masyarakat.
  • Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan Keinginan untuk Maju
    Menghargai hasil karya orang lain merupakan suatu sikap yang patut dikembangkan dalam kehidupan sosial di masyarakat. Dengan sikap tersebut, setidaknya ada semacam penghargaan terhadap etos kerja seseorang untuk kemudian memacu jiwa seseorang untuk berpikiran maju dan menuju ke arah perkembangan.
  • Toleransi terhadap Perbuatan-Perbuatan yang Menyimpang
    Tidak setiap penyimpangan itu negatif. Penyimpangan juga ada yang memang diharapkan terjadi, karena adanya sistem yang memang harus dibenahi. Sebab jika tidak disimpangkan, justru upaya untuk mempertahankan sistem yang sudah rusak tersebut akan lebih berbahaya.
  • Sistem Pelapisan Sosial yang Terbuka
    Sistem pelapisan sosial yang terbuka akan lebih mempermudah terjadinya mobilitas sosial yang memungkinkan anggota masyarakat untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan lainnya. Dengan melakukan usaha-usaha tertentu, anggota masyarakat dapat pindah dari lapisan rendah ke lapisan yang lebih tinggi, sehingga akan terjadi perubahan dalam status atau kedudukan. Dengan demikian kita ketahui bahwa dengan adanya mobilitas sosial, maka akan lebih mempercepat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat.
  • Penduduk yang Heterogen
    Heterogenitas dalam kependudukan akan menimbulkan keragaman dalam hal pemikiran dan juga kematangan dalam pengetahuan. Jika hal itu dianggap sebagai sebuah hal yang positif, perbedaan tersebut justru akan mendorong ke arah kemajuan. Namun sebaliknya, jika dilihat dari sisi negatif, hal itu dapat membawa ke arah keruntuhan dan perpecahan.
  • Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Kehidupan Tertentu
    Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas terhadap apa yang telah dimilikinya. Rasa tidak puas tersebut mendorong manusia untuk melakukan perubahan-perubahan pada bidangbidang kehidupan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya ketidakpuasan manusia terhadap mesin ketik karena tidak bisa digunakan untuk menyimpan data-data, mendorongnya melakukan perubahan, yaitu dengan menciptakan komputer.
  • Orientasi ke Masa Depan
    Setiap manusia dan masyarakat pasti menginginkan suatu kemajuan dalam hidupnya. Oleh karena itu diperlukan adanya sikap yang berorientasi ke masa depan. Pandangan yang jauh ke depan merupakan suatu sikap yang memang diharapkan dapat mendorong perubahan sosial. Hal ini terutama harus dimiliki oleh generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa yang dapat dilakukan dengan belajar giat agar dapat mencapai prestasi yang bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, serta bangsa dan negara.
  • Sikap Mudah Menerima Hal-Hal Baru
    Hal-hal yang baru seperti ilmu pengetahuan, penemuanpenemuan baru akan membawa pola pikir seseorang untuk selalu baru juga. Setiap orang yang memiliki sikap seperti itu akan mudah sekali terdorong untuk melakukan perubahan.

Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Ada beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan di dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut :

  1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan yang dapat memperkaya kebudayaan masyarakat tersebut.
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat di sebabkan oleh kehidupan masyarakat tertutup.
  3. Sikap masyarakat yang masih mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif.
  4. Adanya kepentingan yang sudah tertanam kuat ( vested interest ). Orang selalu mengidentifikasi diri dengan usaha dan jasa-jasanya.
  5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan. Masyarakat khawatir ada unsur-unsur luar yang dapat menggoyahkan integrasi dan menimbulkan perubahan pada aspek-aspek tertentu di dalam masyarakat.
  6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup, terutama yang datang dari barat. Pengalaman menimbulkan sikap penuh curiga dan khawatir terhadap datangnya unsur-unsur baru
  7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis. Setiap usaha perubahan pada unsure-unsur budaya rohaniah, biasanya diartikan dengan usaha yang berlawanan dengan ideology masyarakat yang sudah menjadi dasar kehidupan masyarakat tersebut.
  8. Kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.