Menjelaskan Faktor – Faktor Patogenitas dengan singkat

Berikut Ini Merupakan Faktor- Faktor Patogenitas.

 

  • Antigen Permukaan

Pada Escherichia coli paling tidak terdapat 2 tipe fimbriae yaitu:

  1. Tipe manosa sensitif (pili)
  2. Tipe manosa resisten (CFAs I dan II)

Kedua tipe fimbriae ini penting sebagai Colonization faktor, yaitu untuk perlekatan sel bakteri pada sel / jaringan tuan rumah. Misalnya: antigen CFAs I dan II melekatkan Enteropathogenic Escherichia  coli pada sel epitel usus binatang.

Antigen kapsul K 1 : seringkali ditemukanpada Escherichia coli yang diisolasi dari pasien-pasien dengan bakteremia serat neonatus yang menderita meningitis. Pertama Antigen K 1 mengahalangi fagositosis sel kuman oleh leukosit.

  • Enterotoksin

Ada 2 macam enterotoksin yang telah berhasil diisolasi dari Escherichia coli:

  1. Toksin LT (termolabil)
  2. Toksin ST (termostabil)

Produksi kedua macam toksin diatur oleh plasmid yang mampu  pindah dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya.

Terdapat 2 macam plasmid:

  1. 1 plasmid mengkode pembentukan toksin LT dan ST
  2. 1 plasmid lainnya mengatur pembentukan toksin ST saja.

Seperti toksin kolera, toksin LT bekerja merangsang enzim adenil siklase yang terdapat di dalam sel epitel mukosa usus halus, menyebabkan peningkatan aktivitas enzim tersebut dan terjadinya peningkatan permeabilitas sel epitel usus. Sehingga terjadi akumulasi cairan didalam usus dan berakhir dengan diare. Toksin LT seperti juga toksin kolera bersifat cytopathic terhadap Y1- sel tumor adrenal dansel ovarium Chinese hamster serta meningkatkan permeabilitas kapiler pada tes Rabbit skin.

Kekuatan toksin LT adalah 100x lebih rendah dibandingkan toksin kolera dalam menimbulkan diare. Toksin ST tidak merangsang aktivitas enzim adenil siklasedan tidak reaktif terhadap test Rabbit skin. Untuk mendeteksi tosin ST dipakai cara tes Suckling mouse, dimana setelah 4jam inokulasi akan memberikan hasil positif.

Toksin ST adalah asam amino dengan berat molekul 1970 dalton, mempunyai satu atau lebih ikan sulfida, yang penting untuk mengatur stabilitas Ph dan suhu. Toksin ST bekerja dengan cara mengaktivasi enzim guanilat siklase menghasilkan siklik guanosin monofosfat, menyebabkan gangguan absorbsi klorida dan natrium, selain itu ST menurunkan motilitas usus halus.

 

  • Endotoksin

Escherichia coli yang menimbulkan diare dengan invasi langsung lapisan epitelium dinding usus. Kelihatannya mungkin bahwa sekali invasi lapisan usus terjadi, penyakit diaremungkin terjadi karena pengaruh racun lipopolisakarida dinding sel.

  • Hemolisin

Pembentukannya diatur oleh plasmid yang berukuran 41 mega dalton, bersifat toksik terhadap sel biakan jaringan. Peranan hemolisin pada infeksi oleh Eshericia coli tidak jelas tapi strain hemolitik Escherichia coli ternyata lebih patogen daripada strain yang nonhemolitik.