Menjelaskan Elemen- elemen Dasar Semiotika dengan singkat

Elemen dasar dalam semiotika adalah tanda (penanda/ petanda), aksis tanda (sintagma/ sistem), tingkatan tanda (denotasi/ konotasi), serta relasi tanda (metafora/ metonimi).

  • Komponen tanda

 Saussure menjelaskan tanda sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang— seperti halnya selembar kertas—yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan bentuk atau ekspresi; dan bidang petanda (signified) untuk menjelaskan konsep atau makna.

Berkaitan dengan piramida pertandaan Saussure ini (tanda/ penanda/ petanda), Saussure menekankan perlunya semacam konvensi sosial di kalangan komunitas bahasa, yang mengatur makna sebuah tanda. Satu kata mempunyai makna tertentu disebabkan adanya kesepakatan sosial di antara komunitas pengguna bahasa.

Akan tetapi, pada masa sekarang, terjadi perubahan mendasar tentang bagaimana tanda dan objek sebagai tanda dipandang dan digunakan yang disebabkan oleh adanya arus pertukaran tanda yang tidak lagi berpusar di dalam satu komunitas tertutup tetapi melibatkan persinggungan antar berbagai komunitas, kebudayaan dan ideologi.

  • Aksis Tanda

Analisis tanda dalam strukturalisme bahasa melibatkan aturan pengkombinasian yanng terdiri dari dua aksis, yaitu:

1) aksis paradigmatik, yaitu perbendaharaan tanda atau kata dan

2) aksis sintagmatik, yaitu cara pemilihan dan pengkombinasian tanda-tanda, berdasarkan aturan atau kode tertentu, sehingga dapat menghasilkan sebuah ekspresi bermakna.

 Cara pengkombinasian tanda- tanda biasanya dilandasi oleh kode tertentu yang berlaku di dalam sebuah komunitas bahasa. Kode adalah seperangkat aturan atau konvensi bersama yang di dalamnya tanda- tanda dapat dikombinasikan, sehingga memungkinkan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lain.

Kode, menurut Umberto Eco, di dalam A Theory of Semiotics, adalah “… aturan yang menghasilkan tanda- tanda sebagai sebagai penampilan konkretnya di dalam hubungan komunikasi.” Implisit  dalam pengertian kode di atas adalah adanya kesepakatan sosial di antara anggota komunitas bahasa tentang kombinasi seperangkat tanda- tanda dan maknanya.

 

Bahasa adalah struktur yang dikendalikan oleh aturan main tertentu. Menurut Saussure, aturan main pertama adalah prinsip perbedaan (differance). Sebagai contoh kata topi dan kopi memiliki makna karena memiliki perbedaan makna. Selain itu, perbedaan dalam bahsa dimungkinkan karena adanya aksis paradigma dan sintagma.

Paradigma adalah satu perangkat tanda yang melaluinya pilihan- pilihan dibuat, dan hanya satu unit dari pilihan tersebut yang dapat dipilih. Sintagma adalah kombinasi tanda dengan tanda lainnya dari perangkat yanng ada berdasarkan aturan tertentu, sehingga menghasilkan ungkapan bermakna. Berdasarkan aksis tersebut, Roland Barthes mengembangkan model relasi antara sistem, yaitu perbendaharaan kata dan sintagma, yaitu cara pengkombinasian tanda berdasarkan aturan main tertentu.

  • Tingkatan tanda

Roland Barthes mengembangkan dua tingkatan pertandaan, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti. Sedangkan konotasi adalah tingkat pertandaan yang menghasilkan makna yang implisit dan tersembunyi. Selain itu, Barthes juga melihat makna yang berkaitan dengan mitos, yaitu pengkodean makna dan nilai- nilai sosial sebagai sesuatu yang dianggap alamiah.

  • Relasi antar tanda

Ada dua bentuk interaksi utama, yaitu:

1) Metafora adalah sebuah model interaksi tanda , yang di dalamnya sebuah tanda dari sebuah sistem digunakan untuk menjelaskan makna untuk sebuah sistem yang lainnya.

2) Metonimi adalah interaksi tanda, yang didalamnya sebuah tanda diasosiasikan dengan tanda lain, yang didalamnya terdapat hubungan antara bagian dengan keseluruhan.