Menjelaskan Efek Kelebihan Dan Kekurangan Hormone Prostaglandin dengan singkat

Penyelidikan dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa peningkatan kadar prostaglandin penting peranannya sebagai penyebab terjadinya nyeri haid. Terjadinya spasme miometrium dipacu oleh zat dalam darah haid, mirip lemak alamiah yang kemudian diketahui sebagai prostaglandin, kadar zat ini meningkat pada keadaan nyeri haid dan ditemukan di dalam otot uterus (Dawood, 2006). Ditemukan kadar PGE2 dan PGF2α sangat tinggi dalam endometrium, miometrium dan darah haid wanita yang menderita nyeri haid primer (Pickles dkk, 1975).

Prostaglandin menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut saraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan tekanan intra uterus sampai 400 mm Hg dan menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu disimpulkan bahwa prostaglandin yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan hiperaktivitas miometrium. Kontraksi miometrium yang disebabkan oleh prostaglandin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika prostaglandin dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka akan timbul efek sistemik seperti diare, mual, muntah (Harel, 2006).

  1. Kelebihan :
  • Polip;
  • Rasa nyeri pada saat
  1. Kekurangan :
  • Jika jumlah prostaglandin dalam air mani ini kurang dapat juga menjadi masalah infertilitas.
  • Kelainan-kelainan yang terdapat dalam rahim dapat mengganggu dalam hal implantasi, pertumbuhan intrauterine (dalam kandung rahim), nutrisi, serta oksigenisasi janin.

Daftar Pustaka:

  • Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.
  • Chandra Mohan, Antibiotics – A Brief Overview, EMD Bioscience, San Diego, 2008. Chandra Mohan, Antibiotics and Antibiotic Resistance, EMD Bioscience, San Diego, 2009. Neal, Michael.J.2006. “At a Glance Farmakologi Medis”. Erlangga: Jakarta
  • Neal M. J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga
  • Pratiwi, Sylvia T. 2008. “Mikrobiologi Farmasi”. Erlangga : Jakarta Sylvia T. Pratiwi, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, 2008.
  • Tjay Tan Hoan. 2007. “Obat-obat Penting”. PT.Gramedia: Jakarta
  • Dawood, M. 2006. Primary Dysmenorrhea  Advances  in  Pathogenesis  and Management. Journal Obstetric and Gynaecology Vol. 108, No.  2,  August. Published by Lippincott Williams & Wilkins. ISSN:  0029- 7844/06
  • Harel, Zeev MD. 2006 . Dysmenorrhea in Adolescents and Young Adults:  Etiology and Management .J Pediatr Adolesc Gynecol 19:363-371
  • Jacobsen, C. 2004. Developing polyunsaturated fatty acids as functional ingredients.
  • In:    Functional foods, cardiovascular disease and diabetes. Edited by: A. Arnoldi. 2004. CRC Press. Boca Raton. Pp. 308 – 322.
  • Muntholib. 2001. Penghambatan biosintesis prostaglandin oleh asam asetil salisilat.Malang: Universitas Negeri Malang.
  • Pickles, VR.,    Hall, WJ., Best, FA . 1975. Prostaglandin in  endometrium  and menstrual fluid from normal and dysmenorrhoea subjects. J Obstet  Gynecol Br Comm; 72: 185.
  • Kudo, I.; Murakami,M., (2005) Prostaglandin E Synthase, a Terminal Enzyme for Prostaglandin E2 Biosynthesis, Journal of Biochemistry and Molecular Biology, Vol. 38, No.6, pp. 633-638
  • Thoren, S. et.al. (2003) Human Microsomal Prostaglandin E Synthase-1, The Journal of Biological Chemistry, Vol. 278, No.25, pp. 22199-22209.