Menjelaskan Distribusi Kehidupan pada Organisme dengan singkat

Pengertian Distribusi Kehidupan

Dispersal atau distribusi kehidupan merupakan komponen dinamika populasi yang menjamin kelangsungan jangka panjang populasi dan jenis hewan. Dispersal adalah perpindahan hewan dari tempat kelahirannya ke daerah baru untuk hidup dan bereproduksi. Perpindahan dalam dispersal bersifat satu arah tanpa perjalanan pulang ke tempat asalnya. Perpindahan hewan yang kembali ke tempat asalnya disebut migrasi (Nybakken, 1988).

Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal disekelilingnya. Setiap faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut disebut faktor lingkungan. Lingkungan mempunyai dimensi ruang dan waktu, yang berarti kondisi lingkungan tidak mungkin seragam baik dalam arti ruang maupun waktu. Kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang, dan akan berubah pula sejalan dengan waktu.

Menurut Mc Naughton dan Wolf (1992) tiap ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda, karena komposisi spesies, komunitas dan distribusi organismenya. Distribusi dalam pola ruang dan waktu mempunyai dua arti dasar, yaitu merupakan hasil dari respon organisme – organisme dengan adaptasinya terhadap heterogenitas lingkungan dalam ruang dan waktu dan organisme – organisme itu sendiri bertindak sebagai pengubah atau memodifikasi heterogenitas lingkungan.

Pola distribusi makhluk hidup dalam waktu

Sebagian besar organisme tersebar pada beberapa tahap dari siklus hidup mereka. Mereka meninggalkan lingkungan asal mereka baik secara permanen maupun musiman untuk habitat yang lebih sesuai. Perpindahan tersebut sangat penting untuk kelangsungan hidup individu, khususnya yang muda, yaitu kelompok yang paling rentan untuk menyebar, karena tidak ada ruang untuk semua dalam lingkungan asal mereka (Backus, 1986).

Pergerakan migrasi dibagi menjadi tiga kategori, yang paling sering terjadi adalah pengulangan perjalanan kembali yang telah dibuat oleh individu. Seperti migrasi harian atau tahunan, jangka pendek atau jngka panjang. Zooplankton dalam lautan bergerak ke bawah menuju wilayah yang lebih dalam seharian dan bergerak ke permukaan pada malam hari. Pergerakan ini muncul sebagai respon terhadap intensitas cahaya.Cacing tanah secara tahunan melakukan  migrasi vertikal lebih dalam ke dalam tanah untuk menghabiskan musim dingin dan kembali ke atas permukaan tanah pada musim gugur dan panas.

Tipe kedua dari migrasi adalah hanya satu perjalanan kembali. Seperti migrasi yang umum untuk beberapa spesies salmon daerah Pasifik. Ikan salmon menetas di laut kemudian melakukan migrasi menuju sungai, lalu tumbuh hingga dewasa dan kembali ke laut untuk bereproduksi dan kemudian akan mati.

Tipe ketiga dari migrasi contohnya pada kupu-kupu monarch, melakukan migrasi dan tidak kembali ke utara namun keturunannya yang kembali ketempat asalnya. Sekitar 70% generasi kupu-kupu monarch terakhir pada musim panas bergerak menuju selatan untuk musim dingin di tanah tinggi Meksiko, perjalanan ini melintasi sekitar 14000 km. Dari musim dingin bergerak pada bulan Januari dan tiba di kedalaman selatan Amerika diawal musim gugur mereka memulai untuk generasi yang baru (Sugianto, 1994).

Faktor Mempengaruhi Distribusi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola distribusi makhluk hidup dalam waktu

  • Faktor Biotik
    Merupakan, faktor hidup, atau terkait dengan kehidupan. Yang termasuk biotik yaitu manusia, hewan (fauna), tanaman (flora), jamur, protista dan bakteri.

    Makhluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam persebaran tumbuhan. Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik, terutama manusia. Manusia juga mampu mempengaruhi kehidupan fauna di suatu tempat dengan melakukan perlindungan atau perburuan binatang. Hal ini menunjukan bahwa faktor manusia berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini.

    Contohnya: daerah hutan diubah menjadi daerah pertanian, perkebunan atau perumahan dengan melakukan penebangan,reboisasi,ataupemupukan. Selain itu faktor hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan flora. Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan faunanya.

    hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan flora. contohnya: serangga dalam proses penyerbukan, kelelawar, burung, tupai membantu dalam penyebaran biji tumbuhan. Peranan faktor tumbuh-tumbuhan adalah untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga mempengaruhi kehidupan faunanya.

  • Faktor Abiotik
    Merupakan, komponen-komponen yang tidak hidup atau benda mati. Yang termasuk komponen abiotik adalah, tanah, batu dan iklim, hujan, suhu, kelembaban, angin, serta matahari. Abiotik tidak memiliki ciri sebagaimana faktor biotik, seperti bernapas, tumbuh, berkembang biak, makan dan minum, berekresi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Faktor abiotik adalah faktor pendorong untuk biotik sehingga biotik dapat hidup dan melakukan aktivitas.
  • Faktor Sejarah Geologi
    Pada awal tahun 1960-an, bukti-bukti mengenai pergerakan/pergeseran benua (continental drift) berhasil ditemukan. Benua-benua yang tergabung dalam Pangea mulai memisah secara bertahap. Terbukanya laut Atlantik Selatan dimulai kira-kira 125-130 juta tahun lalu, sehingga Afrika dan Amerika Selatan bersatu secara langsung. Namun, Amerika Selatan juga telah bergerak perlahan ke Amerika Barat dan keduanya dihubungkan tanah genting Panama.

    Ini terjadi kira-kira 3,6 juta tahun yang lalu. Saat “jembatan” Panama terbentuk secara sempurna, beberapa hewan dan tumbuhan dari Amerika Selatan termasuk Oposum dan Armadillo bermigrasi ke Amerika Barat. Pada saat yang bersamaan beberapa hewn dan tumbuhan dari Amerika Barat seperti oak, hewan rusa, dan beruang bermigrasi ke Amerika Selatan. Jadi perubahan posisi baik dalam skala besar maupun kecil berpengaruh besar dalam pola distribusi organisme, seperti yang kita saksikan saat ini. Contoh lain adalah burung-burung yang tidak dapat terbang, misalnya ostriks, rhea, emu, kasuari dan kiwi terlihat memiliki divergensi percabangan sangat awal dalam perjalanan evolusi dari semua kelompok burung lainnya. Akibatnya terjadilah subspesies tadi.

  • Faktor Penghambat Fisik
    Faktor penghambat fisik disebut juga penghalang geografi atau barrier (isolasi geografi) seperti daratan (land barrier), perairan (water barrier), dan penggentingan daratan (isthmus). Contohnya adalah: gunung yang tinggi, padang pasir, sungai atau lautan membatasi penyebaran dan kompetisi dari suatu spesies. Contoh kasusnya adalah terjadinya subspesies burung finch di kepulauan Galapagos akibat isolasi geografis. Di kepulauan tersebut, Charles Darwin menemukan 14 spesies burung finch yang diduga berasal dari satu jenis burung finch dari Amerika Selatan. Perbedaan burung finch tersebut akibat keadaan lingkungan yang berbeda. Perbedaannya terletak pada ukuran dan bentuk paruhnya. Perbedaan ini ada hubungannya dengan jenis makanan (Sugianto, 1994).

Pola distribusi makhluk hidup dalam Ruang

Menurut Odum (1971) distribusi hewan dipengaruhi oleh ada atau tidaknya batasan – batasan (barrier) dan individu – individu yang tidak dapat dipisahkan (vagility). Batasan yang ada di dalam distribusi tidak lepas dari hukum minimal, hukum toleransi dan gabungan dari dua hukum tersebut.

Organisme di alam dikendalikan oleh :

  1. Jumlah dan keragaman material untuk memenuhi kebutuhan minimum dan faktor – faktor fisik yang ekstrim.
  2. Batas – batas toleransi organisme itu sendiri terhadap keadaan tertentu dan komponen – komponen lainnya.

Penyebaran organisme dari suatu tempat ke tempat lainnya melintasi berbagai faktor penghalang. Faktor-faktor penghalang ini menjadi pengendali penyebaran organisme. Faktor penghalang yang utama adalah iklim dan topografi. Selain itu, faktor penghalang reproduksi dan endemisme menjadi pengendali penyebaran organisme. Akibat dari hal tersebut di atas maka di permukaan bumi ini terbentuk kelompok-kelompok hewan dan tumbuhan yang menempati daerah yang berbeda-beda. Luas daerah yang dapat ditempati tumbuhan maupun hewan, berkaitan dengan kesempatandan kemampuanmengadakan penyebaran.

Penyebaran hewan berdasarkan luas cakupannya dapat dibedakan menjadi cakupan geografis, cakupan geologis, dan cakupan ekologis. Cakupan geografis yaitu daerah penyebarannya meliputi daratan dan sistem perairan. Cakupan geologis, yaitu keadaan daratan dan lautan di masa lampau. Cakupan ekologis adalah daerah penyebarannya dengan kondisi lingkungan yang sesuai. Faktor-faktor yang mempengaruhi biota tersebut adalah adanya tekanan dari individu lain yang mendominasi suatu tempat tertentu. Faktor lain adanya kompetisi, predator, penyakit, kekurangan persediaan makanan, perubahan musim dan kurangnya tempat untuk berlindung.