Menjelaskan Diagnosis  Infeksi Helicobacter Pylori dengan singkat

Kuman Helicobacter pylori  bersifat mikroaerofilik  dan hidup di lingkungan yang unik,  dibawah mukus dinding lambung yang bersuasana  asam. Kuman  ini mempunyai  enzim urease  yang dapat memecah ureum menjadi amonia  yang bersifat  basa,  sehingga tercipta lingkungan mikro yang memungkinkan kuman  ini bertahan  hidup.  Karena itu prosedur diagnostik  cukup sulit  karena  harus melakukan tindakan yang invasif yaitu dengan  melakukan  gastroskopi untuk mendapatkan  spesimen  yang diperlukan  untuk pemeriksaan  langsung,  histopatologi  ataupun kultur mikrobiologi. Selain  itu terdapat pemeriksaan  non  invasif seperti  tes serologi  dan urea breath  test (UBT).

Tujuan pemeriksaan diagnostik  infeksi  Hp adalah untuk menetapkan  adanya  infeksi  sebelum memberikan pengobatan atau untuk  penelitian epidemiologi.  Selain  itu untuk mengamati  apakah  telah  tercapai  eradikasi  sesudah pemberian  obat antibiotik.

Ada 2 macam cara diagnosa infeksi H. pylori yaitu diagnosa invasif yang memerlukan endoskopi dan biopsi mukosa lambung, dan diagnosa noninvasif yang tidak memerlukan endoskopi dan biopsi.

  • Diagnosa invasif meliputi :
    1. Deteksi kuman H. pylori dengan cara pemeriksaan histopatologik
    2. Tes urease cepat yang mendeteksi adanya enzim urease dalam spesimen biopsi lambung.
    3. Pembiakan kuman H. pylori dari spesimen biopsi lambung.
    4. Pemeriksaan PCR spesimen biopsi lambung
  • Diagnosa noninvasif meliputi :
    1. Tes Nafas Urea (Urea Breath Test) untuk mengukur enzim urease yang ada dalam lambung yang diproduksi oleh kuman H. pylori.
    2. Tes Immunoserologic untuk deteksi antibodi terhadap kuman H. pylori dalam darah penderita.
    3. Deteksi antigen fekal untuk mendeteksi fragmen kuman H. pylori yang didapatkan dalam tinja.

Serologi

Pemeriksaan  serologi  banyak  digunakan  dalam penelitian epidemiologi  karena  relatif murah  dan dapat  diterima oleh kelompok  pasien asimtomatik  atau anak-anak  yang  tidak mau diperiksa dengan cara yang  invasif seperti gastroskopi.

Pada umumnya yang  diperiksa  adalah antibodi IgG terhadap  kuman Helicobacter  pylori. Cara ini sering digunakan untuk penetitian  epidemiologi atau untuk evaluasi  sebelum pemberian  terapi eradikasi.  Teknik yang dipakai  adalah  dengan menggunakan ELIS A, Westernblot, fiksasi  komplemen,  dan  imunofluoresen.  ELISA paling  luas penggunaannya.  Studi prevalensi di Indonesia  dilakukan dengan menggunakan  metode PHA, Sedangkan  studi  klinik umunnya.  menggunakan ELISA.

Dewasa ini secara  komersial  telah cukup banyak  tes ELISA yang tersedia dengan  cara  penggunaan yang relatif sederhana dan hasil yang akurat. Yang menjadi masalah adalah sensitivitas dan spesifisitas  yang  bervariasi secara geografis. Hal ini diduga  karena pengaruh  faktor  antigen lokal yang berbeda  atau akibat  titer  yang relatif rendah, misalnya pada kelompok pasien  anak atau populasi tertentu. Dengan  demikian  dianggap  perlu untuk melakukan validasi  tes sebelum digunakan  secara meluas di suatu wilayah.  Sebagai contoh,  studi di Jakarta menggunakan  tes Elisa buatan Roche menunjukkan sensitivitas  dan spesifisitas  yang  relatif  lebih  rendah dibandingkan  dengan laporan  dari negara  Barat. Untuk meningkatkan  sensitivitas dan spesifisitasnya,  dapat dilakukan  dengan menetapkan  cut offpoint sebagai  batas hasil yang positif  dan negatif dalam  suatu  populasi. Penelitian  di Jakarta menunjukkan,  dengan menetapkan cut offpoint 1800 EU/L dapat  ditingkatkan  sensitivitas  tes ELISA.

Dalam perkembangannya  cara ELISA  telah dipakai pula untuk  tes di ruang praktek  dokter,  in ffice Hp  test, dengan cara yang  sederhana,  tanpa sentrifugasi,  bersifat  kualitatif dan hasilnya  diperoleh dalam waktu 5 – l0 menit.

Selain  serum, tes ELISA  telah dilakukan  pula pada saliva pasien  terutama  pada  anak. Sensitivitas  dan spesifisitasnya lebih  rendah  dibandingkan  dengan  serum tetapi diduga kadar antibodi  dalam saliva menurun  lebih awal  pasca  terapi eradikasi  sehingga  mungkin dapat digunakan  untuk menilai hasil  terapi  antimikrobial.

Urea Breath Test (UBT)

Pemeriksaan  ini merupakan baku  emas untuk deteksi  infeksi H. pylori secara non  invasif yang pertama kali dikemukakan  pada  tahun 1987 oleh Graham dan Bell. Cara kerjanya adalah  dengan menyuruh  pasien menelan urea yang mengandung  isotop  Carbon, baik 13C ataupun  l4C. Bila ada aktivitas urease  dari kuman H. pylori akan dihasilkan  isotop karbon dioksida yang diserap  dan dikeluarkan melalui  pernapasan. Hasilnya dinilai  dengan membandingkan kenaikan ekskresi  isotop dibandingkan dengan  nilai dasar. Bila hasilnya  positif berarti  terdapat infeksi  kuman H. pylori.  l3C merupakan  isotop nonradioaktif, ditemukan  pada  l,ll % karbon  dioksida yang  keluar melalui  udara pernapasan normal. Dianggap positif bila  terjadi kenaikan minimal 0,01 % kadar  isotop, sehingga dibutuhkan  alat mass spectrometer  yang sangat sensitif  tetapi  harganya  sangat mahal. Mula-mula  diambil sampel  udara  pernapasan untuk menentukan nilai dasar. Kemudian diberikan tes mealberupacairan  dengan  kalori tinggi atau  larutan  0,1 N asam sitrat untuk memperlambat pengosongan  lambung  sehingga  kontak antara  isotop dengan  mukosa  lambung  lebih baik.

Dosis 13C yang diberikan adalah dalam  bentuk urea sebanyak 75-100 mg yang memberikan akurasi  lebih dari Terdapat berbagai modifikasi  protokol sehingga setiap perubahan memerlukan  validasi  untuk mempertahankan  akurasi pemeriksaan.

Isotop 14 C memancarkan  radiasi yang dapat dianalisis dengan  scintillation  counter. Pengambilan sampel dilakukan sesudah  10 dan 20 menit  baik  dengan  atau tanpa tes meal. Cara ini relatif murah,  tetapi  harus diperhatikan standar keamanan  yang  baik, walaupun sebenamya dosis radiasi sangat kecil. Cara  ini tidak dianjurkan pada perempuan hamil  ataupun anak-anak.

Dalam  hal akurasi,  kedua cara  ini setara,  dengan sensitivitas dan spesifisitas  lebih  dari 90 %. Hasil positif palsu harus dipertimbangkan bila diduga ada mikroorganisme  lain yang  juga menghasilkan  urease pada keadaan  aklorhidria.  Hasil negatifpalsu  dapat  terjadi bila pasien mendapat antibiotik. antasid- bismuth. atau anti sekresi asam.  Karena  itu dianjurkan  unruk menghentikan obat  tersebut  dua minggu  sebelum  dilakukan  pemeriksaan. Penggunaan  UBT mempunyai kelebihan  dibandingkan dengan  tes yang meng-eunakan  spesimen  biopsi karena mewakili  seluruh  permukaan  mukosa lambung. Aplikasi klinis digunakan  untuk deteksi infeksi pada studi epidemiologi  dan  individu pasien dan konfirmasi keberhasilan  terapi  eradikasi  yang  dilakukan sesudah 4 Minggu kemudian.

Dapat  disimpulkan bahwa  indikasi  tes serologi dan UBT agak  tumpang  tindih,  sehingga  pemanfaatannya harus disesuaikan  dengan  tujuan  yang ingin dicapai. Pemeriksaan serologi  lebih mudah, murah sehingga  sangat cocok untuk suatu penelitian  populasi yang luas. Pemeriksaan UBT  tidak memerlukan  validasi  lokal, menetapkan  adanya  infeksi  yang aktif, dan merupakan pemeriksaan  baku  emas untuk konfirmasi  hasil terapi eradikasi.  Dengan adanya pemeriksaan  noninvasif,  terbuka kesempatan untuk melakukan penatalaksanaan pasien dispepsia  ditingkat  pelayanan  primer  oleh dokter umum, dengan memperhatikan  latar  belakang  prevalensi  infeksi H. pylori sertapenyakit  yang menyertainya,  terutama  tukak peptik  dan keganasan  lambung.

Pemeriksaan lnvasif

Pemeriksaan  invasif untuk  diagnosis  infeksi H. Pylori dilakukan dengan mengambil spesimen  biopsi mukosa lambung  secara  endoskopik.  Selanjutnya spesimen  yang diambil dengan persyaratan  dan cara  tertentu  akan diperiksa  dengan  teknik khusus sesuai dengan  tujuan diagnostik yatg akan dicapai. Persyaratan  yang dimaksudkan  adalah upaya untuk mengurangi kemungkinan  terjadinya hasil negatif palsu akibat pengaruh obat-obatan yang dipergunakan  sebelum pengambilan  sampel  biopsi. Biasanya dianjurkan  untuk menghentikan  obat antibiotik, anti sekresi asam  lambung terutama  golongan  inhibitor pompa proton, bismuth selama satu atau dua minggu sebelum pemeriksaan. Biopsi  standar  untuk diagnosis  infeksi H. pylori diambil dari antrum (2) dankorpus  (2), sedangkan untuk menilai adanya metaplasia  intestinal biasanya diambil  biopsi pada angulus. Spesimen  untuk kultur mikrobiologi harus diambil pertama  kali karena harus dilakukan secara steril.  kemudian  untukbiopsy  urease  test dan histopatologi.

Biopsy Urease Test  (BUT)

Tersedia  berbagai pilihan mulai yang dibuat  sendiri  dalam bentuk  cairan ataupun  padat seperti tes CLO. Dasarnya adalah adanya enzim urease dari kuman H. pylori yang mengubah urea menjadi  amonia  yang bersifat  basa sehingga  terjadi  perubahan warna media menjadi merah. Hasilnya  dapat  dibaca dalam beberapa menit  sampai 24 jam, dan pengambilan  lebih dari  satu spesimen  akan meningkatkan  akurasi pemeriksaan  ini. Sensitivitas pemeriksaan  ini sekitar 89-98%  sedangkan  spesifisitasnyamencapai  l00%.

Penggunaan antibiotik atau penghambat  pompa proton akan menghambat  pertumbuhan kuman sehingga harus dihentikan  satu minggu sebelumnya. Cara  ini tidak  dapat digunakan  untuk menilai  hasil pengobatan terapi eradikasi.

Histopathology

Pemeriksaan  histopatologi  dapat digunakan  untuk mendeteksi  infeksi H. pylori  serta menilai  derajat  inflamasi gastritis.Pemeriksaan standar  dengan  pewarnaan  H & E untuk  deteksi kuman mempunyai  sensitivitas  93 % dari spesifisitas  87%  dengan  akurasi  92o/o.Pewarnaan  khusus secara Giemsa, Genta atau Warthin-Starry  memberikan gambaran H. pylori yang  lebih  jelas, sedangkan  dengan pewarnaan Genta gambaran metaplasia gastrik  akan tampak  lebih  jelas. Densitas kuman  akan menurun  bila sebelumnya diberikan  obat antibiotik  atau  inhibitor  pompa proton, sehingga akan menurunkan  sensitivitas pemeriksaan.

Biakan Mikrobiologi

Dalam  penatalaksanaan penyakit  akibat  infeksi  H. pylori. kultur  tidak dilakukan secara  rutin karena  dua alasafi. Cara diagnostik  lain baik yang non invasif maupun yang  invasif memberikan hasil yang memuaskan  dengan akurasi  yang tinggi. Selain  itu pemeriksaan  kultur sendiri tidak mudah dilakukan,  dengan  sensitivitas yang relatif rendah,  berkisar Antara 66-98  %. Teknik  yang dianjurkan  adalah  dengan  tes difusi agar atau dengan E test di mana sekaligus dapat ditentukan konsentrasi inhibisi minimal dari antibiotik yang diuji. Pemeriksaan  kultur akan sangat membantu untuk pengobatan kegagalan  terapi eradikasi,  sehingga dapat dipilih  antibiotik yang  sesuai.

Polymerase Chain Reaction (PCR)

Polymerase  Chain Reaction merupakan  pilihan  yang menarik  karena  sensitivitas yang  tinggi  (94-100%)  serta spesifisitas  yang  tinggi  pula  (100 %  Bahan yang digunakan adalah  spesimen  biopsi  baik  yang  sudah diparafin  maupun bekas  tes urease seperti CLO. Keuntungannya  adalah kemampuannya  unfuk mendeteksi  infeksi dengan  densitas yang  rendah, bahkanjuga  ekspresi  dari berbagai  gen bakteri seperti Cag.A. Selain biopsi mukosa  lambung,  PCR  dapat pula mendeteksinfeksi  H. pylori dengan memeriksa cairan lambung,  yang perlu dijaga  jangan sampai  terjadi kontaminasi  baik dari skop  endoskopi maupun dari  rongga mulut atau plak gigi karena  dapat memberikan  hasil positif palsu.  PCR dapat  juga dipergunakan  untuk menilai  hasil terapi  eradikasi  . Cara  ini termasuk pemeriksaan  yang canggih dengan  biaya  yang  cukup mahal.