Menjelaskan dengan singkat

Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan. Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan. Melalui berbicara orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain.

 

Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi lisan, dua-duanya tak terpisahkan. Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara sedang sisi belakang ditempati kegiatan menyimak.

Sebagaimana mata uang tidak akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun tak akan berjalan bila kedua kegiatan tidak berlangsung saling melengkapi. Pembicara yang baik selalu berusaha agar penyimaknya mudah menangkap isi pembicaraannya Keterampilan berbicara juga menunjang keterampilan menulis dan membaca.

Bukankah berbicara pada hakikatnya sama dengan menulis, paling tidak dalam segi ekspresi atau produksi informasi? Hasil berbicara bila direkam dan disalin kembali sudah merupakan tulisan.dan ini sudah merupakan wujud keterampilan menulis. Penggunaan bahasa dalam berbicara banyak kesamaannya dengan penggunaan bahasa dalam teks bacaan. Apalagi organisasi pembicaraan kurang lebih sama dengan pengorganisasian isi bahan bacaan Retorika atau keterampilan berbicara merupakan suatu seni berbicara yang dipunya seseorang.

Seni bericara tersebut dipunya seseorang dengan alami atau juga dengan memakai latihan secara khusus. Keterampilan berbicara tersebut adalah seni tentang berbicara yang merupakan sarana komunikasi dengan bahasa lisan yakni proses dalam meyampaikan pikiran, gagasan, ide dengan maksud tujuan melaporkan, meyakinkan atau menghibur orang lain.

Dalam proses penyampaian gagasan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

  • pembicara
  • lambang (bahasa lisan)
  • lawan bicara (penyimak)
  • maksud, pesan, ide atau gagasan