Menjelaskan Contoh Teks Anekdot Tentang Ekonomi dengan singkat

Anekdot ekonomi termasuk yang paling banyak didapati dalam masyarakat. Mungkin ini dikarenakan tingginya kesenjangan ekonomi yang menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat.

Contoh teks anekdot tentang ekonomi yang kreatif dapat dilihat di bawah ini.

49. Judul: Makan

Eko dan Nomo merupakan sahabat baik sejak lama. Satu saat, mereka sedang menonton acara jalan dan makan di layar televisi. Akhirnya mereka terlibat diskusi.

“Orang itu bisa dilihat kemampuan ekonominya dari rencana makannya,” kata Eko.

“Maksudmu gimana, Ko?” tanya Nomo.

“Kalau  orang menengah ke bawah, dia akan bingung merencanakan besok makan apa. Kalau  orang menengah ke atas, dia akan bingung merencanakan besok makan di mana,” jelas Eko.

“Kalau orang kaya gimana?”

“Kalau orang kaya, biasanya akan merencanakan, besok makan siapa?”

“Wah, benar juga kamu, Ko. Tapi, nggak semua juga, kan?” sanggah Nomo.

“Iya lah, kalau semuanya begitu, bakal habis orang kayak kita dimakan mereka. Hehe..”

50. Judul: Sopir Angkot

Andre seorang magister ekonomi. Suatu sore, ia mampir ke warung kopi langganannya. Di sana, ia bertemu dengan Karyo, temannya waktu SMP yang kini jadi sopir angkot.

Andre : Tumben jam segini udah nongkrong di warung kopi. Nggak narik?
Karyo : Nggak lah, setoran udah kelar. Belanja besok juga udah ada. Tinggal santai-santai aja lah kita. Hehe..
Andre : Wahh.. harusnya jangan gitu lah, kalau mau maju.
Karyo : Emang gimana?
Andre : Coba kamu kerja keras lagi, biar bisa nabung. Terus kalau udah banyak, tabungannya kamu belikan angkot. Jadi punya angkot sendiri, nggak perlu ngasih uang setoran.
Karyo : Terus, kalau udah punya angkot sendiri, ngapain lagi?
Andre : Kamu narik lagi, lah, tapi jadinya nggak perlu setor. Kamu kerja keras lagi, terus nabung lagi, buat dibeliin angkot. Habis itu kamu suruh orang lain narik angkot kamu.
Karyo : Ooh.. berarti nanti punya angkot 2 ya?
Andre : Iya, kamu ulangi  lagi, kerja keras lagi, nambah angkot, nambah pekerja, Terus begitu, sampai pensiun. Kalau udah pensiun, kamu bisa santai-santai minum kopi.
Karyo : Kalau cuma buat santai-santai, ngapain harus nunggu pensiun dan kerja keras. Ribet aja. Sekarang juga udah bisa santai-santai. Kebanyakan teori, lu.

Andre pun tidak menjawab lagi.

51. Judul: Balikin

Anton merupakan pekerja kantoran dengan gaji Rp 8.000.000,00 per bulan. Suatu hari, ia mendapati seorang pemuda belasan tahun sedang mengemis. Ia pun memberikan nasihat.

“Nak, kamu ini masih muda dan sehat, buat apa mengemis. Lebih baik kamu lanjutkan pendidikan agar bisa lulus sarjana dan dapat pekerjaan bagus macam saya. Sayang, hidupmu disia-siakan dengan menjadi pengemis.”

“Iya, Om. Tolong kasihani, saya,” kata anak muda itu sambil mengulurkan tangan.

“Memang  berapa sih penghasilan kamu dari mengemis?”tanya Anton sambil mengulurkan selembar uang 2000-an.

“Ya, bervariasi, Om,” jawab pemuda itu sambil mengambil uang dari tangan Anton. “Kalau tiap jam ada 200 orang lewat, paling cuma 20 orang yang ngasih uang. Anggap masing-masing ngasih dua ribu, jadi tiap jam saya bisa dapat 40 ribu. Kalau tiap hari kerja 10 jam, berarti 400 ribu. Kalau  per bulan saya cuma kerja 25 hari, lima harinya libur, berarti 25 x 400 ribu. Sekitar 10 juta per bulan lah, Om.”

“Semprul, banyakan duit lu, daripada gue. Sini, balikin dua ribu gue,” kata Anton emosi.