Menjelaskan Contoh Teks Anekdot Publik dengan singkat

Teks anekdot publik biasanya mengambil tema layanan publik sebagai sorotannya. Layanan yang dimaksud dapat bersifat sangat luas mulai dari administrasi kependudukan, kesehatan, perpajakan, hingga hukum.

Contoh teks anekdot publik dapat dilihat di bawah ini.

34. Judul: Seret

Siswono sudah 3 kali mendatangi pegawai desa untuk menanyakan e-KTP yang kemarin dibuat secara massal. Semua tetangganya sudah menerima, tinggal dia saja yang belum. Ia pun curhat ke Bendol, tetangganya.

Siswono : Dol, aku ini sudah 3 kali menemui pak Bayan menanyakan e-KTP. Tapi kok belum jadi katanya. Padahal kamu kan daftarnya sesudah aku, malah sudah jadi duluan.
Bendol : Ooh.. itu karena kamu nggak ngasih minum, makanya seret.
Siswono : Maksudnya, aku harus bawa minuman begitu?
Bendol : Bukan. Maksudnya harus ngasih pelicin biar nggak macet.
Siswono : Ealah.. ujung-ujungnya duit lagi, duit lagi.
Bendol : Hehee.. orang mati aja perlu duit jaman sekarang, mah.

Besoknya, Siswono menemui pegawai desa sambil menyerahkan “administrasi”. Sorenya, pak Bayan mengantarkan  e-KTP langsung ke rumah.

“Bayan matre,” maki Siswono dalam hati.

35. Judul: Pocong

Kantor BPJS kota Sudimara dalam keadaan kacau balau. Semua pegawai meringkuk di sudut kantor, sementara para pocong menyerbu ke dalam. Kepala cabang terlihat gemuk dan berkecukupan itu berusaha meredam situasi. Ia berusaha negosiasi dengan para pocong.

“Maaf, Tuan Pocong, kalau boleh  tahu, ada gerangan apa ramai-ramai ke sini. Padahal kami tidak mengadakan acara tahlilan atau kenduri. Tahlilan atau  kenduri kan bukan tanggungan BPJS Kesehatan.”

Pocong yang paling tua menjawab, “Oh, kami di sini mau mengundurkan diri dari BPJS Kesehatan. Karena kalau sudah meninggal kan, klaimnya tidak bisa diwariskan, sedangkan tagihannya tetap harus dibayar ahli waris. Makanya kami ke sini untuk menutup akun BPJS.”

“Ooh, kalau cuma itu, ahli warisnya saja bisa kok, asal bawa surat keterangan kematian. Ndak perlu sampeyan-sampeyan yang ke sini sendiri,” pak Kepala menjelaskan.

“Nganu, pak. Kemarin pas kita ngadu lewat laman twitter, katanya pengurusan BPJS yang meninggal, yang bersangkutan agar datang ke kantor BPJS.”

“Hee.. ngene, pak. Si mas ngademin twitter memang suka  becanda, suka bermain-main kata. Begitu, pak,” ujar pak Kepala sambil pasang senyum kuda.

“Oalah, ngono toh, pak. Yo wis, tah. Kita balik kalau begitu,” kata tetua pocong sambil berbalik. ”Bapak ndak mau ikut ke tempat kami?”

“Eeh.. ndak usah, Pak. Saya masih mau jadi kepala BPJS. Gajinya lumayan,” tolak pak Kepala, buru-buru.

“Hee.. santai aja, Pak. Kami juga suka becanda. Suka main-main kata.”

Dan tetua pocong pun pulang beserta rombongan, meninggalkan kepala BPJS yang meneteskan keringat dingin.

36. Judul: Sama-Sama Butuh

Jono sudah 3 kali bolak-balik ke kantor polres karena tidak lolos tes teknik dasar kendaraan bermotor. Ia sudah lolos di tes lurus dan zigzag, tapi selalu gagal di tes angka delapan. Ia pun bercerita ke temannya, Yono.

 Jono : Yon, aku ni udah bosan bolak-balik polres buat bikin SIM. Gagal maning, inyong.
Yono : Lha, emang kenapa alasannya.
Jono : Itu tes naik motor buat angka delapan susah benar. Lagian kita kan mau naik motor buat transport, bukan buat sirkus.
Yono : Makanya, Jon, kayak aku aja. Ambil yang sehari jadi. Nggak usah pakai tes.
Jono : Kamu enak, Yon. Ada kenal sama calo di sana. Kenalin aku, dong.
Yono : Kata siapa, kenal? Nggak perlu ada kenal. Soalnya yang di sana itu calo semua.  Hahaa..
Jono : Hahaa.. benar juga, kamu Yon. Lagian, sama-sama butuh ini kita ya?