Menjelaskan Cara Pencegahan dan Penanganan Tindakan Bullying dengan singkat

Berikut Ini Merupakan Cara Pencegahan dan Penanganan Tindakan Bullying:

 

  • Pencegahan dan penanganan pada korban bullying

Pencegahan :

Pencegahan agar tidak menjadi korban bullying dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti berikut :

  1. Jangan membawa barang-barang mahal atau uang yang berlebihan. Merampas, merusak, atau menyandera barang-barang korban adalah tindakan-tindakan yang biasanya dilakukan pelaku bullying. Karena itu, sebisa mungkin jangan beri mereka kesempatan dengan membawa barang-barang mahal atau uang yang berlebihan ke sekolah. Jika terpaksa, sembunyikan di tempat yang aman, titipkan ke guru atau teman yang dipercaya, atau setidaknya hindarkan meletakkan barang atau uang tersebut di tempat terbuka yang bisa menarik perhatian pelaku bullying.
  2. Jangan sendirian. Pelaku bullying melihat anak yang penyendiri sebagai mangsa yang potensial. Karena itu, jangan sendirian di dalam kelas, di lorong sekolah, atau di tempat-tempat sepi lainnya. Kalau memungkinkan, beradalah di tempat di mana guru atau orang dewasa lainnya dapat melihat anda. Akan lebih baik lagi jika anda bersama-sama dengan teman, atau mencoba berteman dengan anak-anak penyendiri lainnya yang kemungkinan juga telah menjadi korban. Anda mungkin tidak berdaya menghadapi pelaku bullying sendirian, namun anda akan lebih aman bersama-sama dengan yang lain.
  3. Jangan cari gara-gara dengan pelaku bullying. Jika anda tahu ada anak-anak tertentu yang tidak menyukai anda, atau sudah dikenal luas sebagai pelaku bullying, sebisa mungkin hindari berada di dekat mereka atau di area yang sama dengan mereka. Ini termasuk area di luar sekolah, seperti jalan yang biasa anda lewati ketika pergi atau pulang sekolah atau di dalam kendaraan jemputan. Kalau terpaksa, pastikan di situ ada orang dewasa (orangtua, guru, pegawai) yang bisa melerai perilaku bullying atau teman-teman anda.
  4. Bagaimana jika suatu saat anda tetap terperangkap dalam situasi bullying? Kuncinya adalah tampil percaya diri. Jangan perlihatkan diri anda seperti orang yang lemah atau ketakutan, seperti berdiri dengan postur yang tidak tegap, menunduk ketika diajak bicara atau menjawab dengan gugup. Tetaplah tenang, utarakan keberatan anda dengan tegas, lalu tinggalkan mereka.

    Jangan biarkan emosi anda terpancing dan membalas perbuatan mereka kecuali anda merasa punya cukup kemampuan untuk itu; jika tidak (misalnya karena pelaku membawa senjata atau jumlah pelaku jauh lebih banyak), anda hanya akan membuat situasi bertambah buruk. Lakukan perlawanan hanya sebagai alternatif terakhir untuk mempertahankan diri jika tidak memungkinkan untuk pergi dari situ.

  5. Terakhir, bullying hanya akan berhenti untuk seterusnya jika anda berani melapor pada orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya yang anda percayai. Anda sama sekali bukan pengecut; butuh jauh lebih banyak keberanian untuk bertindak dan mencoba mengubah kondisi yang salah semampu anda daripada hanya berdiam diri dan berharap semua penderitaan yang anda rasakan akan berlalu dengan sendirinya.

Peran orang tua dalam pencegahan seorang anak agar tidak menjadi korban bullying sangat besar.  Berikut adalah tips bagi orang tua agar anak tidak menjadi korban bullying:

  1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa/guru/orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.
    1. Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari), kesehatan yang prima.
    2. Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah.
  2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di atas. Maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.
  3. Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
  4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena :
  5. Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku bullying pada teman lainnya.
  6. Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
  7. Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami.

Penanganan :

  1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi pada korban bullying. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.
  2. Bantu korban mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Jangan pernah menyalahkan korban atas tindakan bullying yang ia alami.
  3. Minta bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan korban ke kondisi normal, jika dirasakan perlu dan untuk menangani pelaku.
  4. Bagi orang-orang yang dekat dengan korban (seperti orang tua), hendaknya amati perilaku dan emosi korban, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Mereka harus bekerja samalah dengan pihak sekolah (guru) untuk membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak mereka. Waspada terhadap perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua/guru/pengasuh).
  5. Bagi orang tua, bina kedekatan dengan teman-teman anak. Cermati cerita mereka tentang anak. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.
  • Pencegahan dan penanganan pada pelaku bullying

Pencegahan :

Peran orang tua dalam pencegahan seorang anak agar tidak menjadi pelaku bullying sangat besar.  Berikut adalah tips agar anak tidak menjadi pelaku bullying:

 

  1. Anak dapat menjadi pelaku bullying antara lain bila ia mengalami rasa rendah diri. Karena itu, upayakan untuk mendidik anak dalam suasana penuh kasih sayang yang mendidik anak untuk memiliki kebanggaan pada dirinya sendiri. Kasih sayang yang nyata juga membuat anak merasa aman dan cenderung lebih mau bekerja sama dengan orang tua/guru. Namun hati-hati jangan sampai memanjakan anak yang berdampak kerugian di pihak anak.
  2. Waspada jika anak menunjukkan agresifitas yang berlebihan, terutama pada mereka yang lebih lemah (adiknya, pengasuh, teman bermain yang lebih kecil atau pendek badannya) atau bahkan binatang, tanaman dan mainannya.
  3. Jika anak anda pernah menjadi korban bully, untuk mencegah ia menjadi pelaku bullying di kemudian hari, mintalah bantuan ahlinya agar masalah terselesaikan dengan baik dan tidak ada dendam di kemudian hari. Amati perilaku dan kondisi emosi anak dari waktu ke waktu, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu.
  4. Usahakan selalu bersikap terbuka dan rajin berdiskusi dengan anak tentang berbagai hal. Selalu siap memberi komentar positif dan hindari menghakimi anak. Namun jangan sampai “mencelakakan” anak dengan memanjakan anak berlebihan.

Penanganan :

  1. Segera ajak pelaku bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahlinya agar masalah tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas.
  2. Cari penyebab pelaku melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban. Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya yang berbeda.
  3. Posisikan diri untuk menolong pelaku dan bukan menghakimi pelaku.

 

DAFTAR PUSTAKA
Amrih, Dian Pitoyo. 2008. “STOP BULLYING!”. http://www pitoyo.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=331. diakses pada 11 November 2012 pukul 13.32 WIB
Catshade. 2007. ““Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2a): Mengenal Korban Lebih Jauh”.  http://popsy.wordpress.com/2007/07/20/%E2%80%9Cbullying%E2%80%9D-dalam-dunia-pendidikan-bagian-2a-mengenal-korban-lebih-jauh/. diakses pada 11 November 2012 pukul 13.37 WIB
Catshade. 2007. “Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2b): Pelaku Juga Adalah “Korban.http://popsy.wordpress.com/2007/07/28/%E2%80%9Cbullying%E2%80%9D-dalam-dunia-pendidikan-bagian-2b-pelaku-juga-adalah %E2%80%9
Ckorban%E2%80%9D/. diakses pada 11 November 2012 pukul 13.48 WIB
Ohandi, Max Andre. 2012. “Bullying di Sekolah”. http://edukasi.kompasiana com/2012/08/02/bullying-di-sekolah/. diakses pada 11 November 2012 pukul 14.03 WIB
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. 2005. ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13