Menjelaskan Cara Ber-Etika Pancasila dengan singkat

Sudah jelas bahwa untuk ber-etika Politik Pancasila, pemahaman istilah “politik” harus dari seginya yang ilmiah, bukan dari seginya yang non-ilmiah. Jadi “politik” di sini harus diartikan dalam konteks filsafat politik Pancasila, yaitu seperangkat keyakinan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dibela dan diperjuangkan oleh para penganutnya, dalam hal ini manusia manusia Pancasila yang sedang berusaha dan berjuang menyelenggarakan suatu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan Pancasila.

Dalam rangka upaya untuk ber-Etika Politik Pancasila, dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Sikap ilmiah, kejujuran ilmiah, hasrat ilmiah, dan suasana ilmiah
  • Pemahaman isi tulisan-tulisan ilmiah mengenai Pancasila, baik sebagai filsafat maupun sebagai ilmu khusus

Karena pemahaman istilah “politik” untuk ber-Etika Pancasila harus dari seginya yang ilmiah, bukan yang non-ilmiah, maka untuk dapat memiliki kemampuan ber-Etika politik Pancasila orang dituntut memiliki sikap ilmiah, kejujuran ilmiah, hasrat ilmiah dan mampu menjaga dan menyelenggarakan suasana ilmiah. Sikap ilmiah meliputi:

  1. Mengosongkan diri sendiri, yakni membebaskan diri dari segala prasangka, baik atau pun buruk
  2. Mengobjektifkan diri sendiri, adalah bersikap seperti apa adanya, mengatakan sesuatu yang baik bukan karena cinta atau simpatinya, dan mengatakan sesuatu yang buruk bukan karena benci atau tidak senangnya.