Menjelaskan Bentuk Hubungan Sosial dengan singkat

Menurut Gillin Dan Gillin, terjadinya sebuah hubungan sosial dapat dibedakan menjadi 2, proses sosial assosiatif dan proses sosial dissosiatif.

Proses Sosial Assosiatif

Terjalinnya hubungan sosial yang mengarah pada bentuk  jalinan sosial yang erat, saling membutuhkan, dan terbentuk suatu kerjasama merupakan proses sosial assosiatif. Melalui proses assosiatif terjadi kecenderungan terjalinya kesatuan dan meningkatnya solidaritas antar anggota kelompok

Proses assosiatif dapat berbentuk akomodasi, kerjasama, dan asimilasi.

Akomodasi

Akomodasi adalah suatu proses di mana orang perorang atau kelompok manusia yang mula-mula saling bertentangan, kemudian saling mmenyesuaikan diri untuk mengatasi kekurangan-kekurangan.

Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga pihak lawan tidak kehilangan pribadinya.

Tujuan akomodasi, antara lain :

  • Mengurangi pertentangan orang perorang maupun kelompok sebagai akibat perbedaan paham.
  • Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu.
  • Memungkinkan kerjasama anatar individu atau kelompok sosial.
  • Mengupayakan peleburan antar kelompok sosial yang berbeda.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak cara untuk melakukan akomodasi agar suatu hubungan sosial yang semula diliputi ketegangan dapat berubah menjadi bentuk hubungan sosial yang menyenangkan. Beberapa bentuk-bentuk akomodasi yang dapat kita temukan antara lain :

  1. Arbitrasi (arbitration)
    Arbitrasi adalah menyelesaikan suatu perkara atau upaya untuk mengurangi ketegangan dengan melibatkan pihak ketiga yang bersifat netral.
  2. Ajudikasi
    Banyak kasus yang dapat diselesaikan secara damai di meja hijau pengadilan. Cara mendamaikan masalah melalui pengadilan tersebut disebut ajudikasi.
  3. Toleransi
    Toleransi merupakan bentuk sikap yang muncul secara tidak sadar dan tidak direncanakan yang berypa memaklumi keadaan orang lain sehingga terhindar dari perselisihan. Misalnya saat asyik sedang bermain musik, tiba-tiba tetangga sebelah meninggal dunia, secara spiontan orang yang sedang bermain musik menghentikan permainannya. Pada hakikatnya toleransi merupakan sikap saling menghargai dan menghormati orang lain, sehingga terjalin hubungan sosial yang menetramkan.
  4. Stalemate
    Pasca perang dunia ii berakhir dan sebelum negara uni sovyet runtu, di dunia terdapat dua negara adikuasa, yakni uni sovyet dan amerika serikat. Mereka dikenal sebagai negara super power yang saling bersaing untuk menggungguli kekuatan masing-masing. Namun, karena kekuatan mereka seimbang , mereka justru tidak terlibat perang terbuka, sehingga lebih dikenal denagn perang dingin (cold war). Mereka dalam keadaan diam tidak saling bertikai karena kekuatan mereka seimbang, keadaan ini disebut stalemate.
  5. Mediasi
    Penyelasain permasalahan yang terjadi antar dua individu atau kelompok sosial kadang dapat diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Misalnya ketegangan yang terusmenerus terjadi antara pemerintah ri dengan gam (gerakan aceh merdeka) akhirnya dapat diselesaikan secara damai setelah melibatkan pihak ketiga, yakni negara swedia yang memberikan fasilitas bagi terselengaranya pertemuan antara perwakilan dua kelompok tersebut untuk saling menjalin kesepakatan damai. Upaya perdamaian yang demikian ini disebut mediasi.
    Sepintas pengertian mediasi sama dengan arbitrasi. Letak perbedaannya dalah jika mediasi pihak ketiga benar-benar pihak yang netral dan tidak berwenang memberikan keputusan dan hanya sebatas memfasilitasi saja. Adapun pada arbitrasi pihak ketigalah yang mendamaikan /memberikan keputusan damai pada pihak-pihak yang bersengketa.
  6. Coercion
    Coercion merupakan cara akomodasi yang dilakukan terhadap pihak yang keadaannya lemah, sehingga mau tidak mau harus tunduk pada pihak yang lebih kuat kedudukannya dan berkuasa atas dirinya. Misalnya pekerja dituntut untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan majikan tidak segera membayar upah yang menjadi hak pekerja. Meskipun demikian pekerja tidak banyak melakukan protes karena adanya tekanan jika majikan tidak puas akan hasil kerjanya akan dikeluarkan dari pekerjaannya. Padahal mencari pekerjaan baru bukan hal mudah. Pekerja terpaksa pasrah meskipun tridak diperlakukan tidak adil. Hal tersebut merupakan contoh coercion, yakni bentuk akomodasi yang terjadi karena faktor paksaan.
  7. Kompromi
    Dalam berita kriminal yang ditayangkan televisi, mungkin kalian pernah melihat adanay pertikaian antar buruh dan majikan yang masing-masing memiliki tuntutan tertentu, sehingga terjadilah aksi unjuk rasa bahkan pemogokan kerja. Pihak penguasa menghendaki keuntungan yang besar dengan cara menekan upah buruh seminimal mungkin tetapi dengan menuntut buruh untuk bekerja semaksimimal mungkin. Adapun dari pihak buruh menghendaki upah yang pantas dengan berbagai fasilitas seperti tunjangan hari raya, hak cuti, hak pengobatan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan . pertikaian terjadi tatkala antara tuntutan keduanya tidak menemui suatu kata sepakat. Cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan dua kubu yang berbeda kepentingan tetapi saling ketergantungan ini adalah melalui cara compromise atau kompromi, yaitu masing-masing mengurangi tuntutannya untuk kata seapakat, sehingga perdamaian dapat dicapai.
  8. Konsiliasi (Conciliation)
    Pada umumnya, pihak-pihak yang berselisih masing-masing memiliki keinginan tertentu. Untuk mencapai perdamaian dapat dilakukan melalui konsiliasi, yakni mempertemukan keinginan-keinginan pihak yang berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama. Misalnya untuk menyelesaikan pertikaian antara buruh dan pengusaha dibentuk adanya tim kerja yang terdiri dari perwakilan pihak buruh dan pengusaha serta wakil dari pemerintah, dalam hal ini departemen tenaga kerja untuk duduk bersama saling menyelesaikan permasalahan bersama, sehingga tercapai suatu kesepakatan damai.