Menjelaskan Bahasa Suku Tengger dengan singkat

Bahasa tengger “terkadang disebut bahasa Jawa Tengger” ialah bahasa yang digunakan Suku Tengger di kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru yang termasuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Secara linguistik bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa Jawa dalam cabang rumpun bahasa Formosa “Paiwanik” dari rumpun bahasa Austronesia. Beberapa orang menganggap bahasa Tengger ialah turunan bahasa Kawi dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tak digunakan lagi dalam bahasa Jawa Modern.

Baca Juga : 

Mata Pencaharian Suku Tengger

Di tanah pegunungan yang subur itu mereka mengembangkan pertanian khusus sayur mayur, karena di daerah ketinggian 2.000 meter lebih itu padi tidak mau lagi tumbuh. Hasil sayur mayur mereka mengisi pasaran di Surabaya dan kota-kota Jawa Timur lainnya.

Kekerabatan Suku Tengger

Masing-masing desa dipimpin seorang kepada desa yang mereka sebut petinggi, ia dibantu oleh yang yang disebut caik yakni juru tulis kantor desa. Tokoh penting dalam kehidupan sosio religius mereka ialah para dhukun yang tidak lain ialah pera pemimpin upacara dalam gama Hindu Darma yang mereka anut, sekaligus sebagai pemimpin adat kelompok dukun masing-masing. Seorang dhukun dibantu oleh dua orang yakni seorang wong sepuh yang bertugas mengurus upacara adat kematian dan menyediakan segala macam sesaji dan seorang legen yeng bertugas mengurus upacara perkawinan dan menyiapkan perlengkapannya.

Seorang petinggi juga dibantu oelh sejumlah aparat yakni kampung polisi yang bertugas menjaga keamanan dan ketenteraman desa, kampung gawe bertugas sebagai penghubung/pesuruh desa. Kampung cacar yang bertugas di bidang kesehatan masyarakat dan seoarang kebayan latar yang bertugas di bidang kebersihan desa.

Orang tengger memiliki sistem kekerabatan yang bilateral sifatnya, keluarga-keluarga inti memang menonjol perannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dalam urusan sosial yang lebih besar kelompok kekerabatan bilateral menjadi lebih penting artinya. Sistem pewarisannya sama seperti pada masyarakat Jawa yang diperhitungkan menurut ungkapan sepikul segendongan, sepikul untuk anak laki-laki dan segendongan untuk anak perempuan, artinya sama-sama banyak sumbangannya. Dalam kehidupan sosial masyarakat ini tidak mengenal perbedaan status yang tajam.