Menjelaskan Azas-azas Bimbingan dan Konseling dengan singkat

Dalam setiap kegiatan yang dilakukan, seharusnya ada suatu azas atau dasar yang melandasi dilakukannya kegiatan tersebut. Atau dengan kata lain ada azas yang dijadikan dasar pertimbangan kegiatan itu.demikian pula halnya dalam kegiatan Bimbingan dan konseling, diantaranya:

 

  • Azas Kerahasian

Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam kegiatan bimbingan dan konseling. Kadang-kadang klien harus menyampaikan hal-hal yang sangat pribadi/rahasia kepada koselor. Oleh karena itu konselor harus menjaga kerahasiannya data yang diperoleh dari kliennya. Kerahasian data perlu dihargai dengan baik, karena hubungan menolong dalam bimbingan dan konseling hanya dapat berlangsung dengan baik jika data atau informasi yang dipercayakan kepada konselor atau guru pembimbing dapat dijamin kerahasiannya.

Azas ini dikatakan sebagai azas kunci dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dengan adanya azas kerahasiaan ini dapat menimbulkan rasa aman dalam diri klien. Di samping itu azas kerahasiaan ini juga akan menghilangkan kekhawatiran klien terhadap adanya keinginan konselor untuk menyalah gunakan rahasia dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya sehingga merugikan klien.

  • Azas Kesukarelaan

Dalam memahami pengertian bimbingan dan konseling telah dikemukakan bahwa bimbingan merupakan proses membantu individu. Perkataan membantu disini mengandung arti bahwa bimbingan merupakan suatu paksaan. Oleh karena itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling diperlukan adanya kerjasama yang demokratis antara konselor dan kliennya. Kerjasama akan terjalin bilamana klien dapat dengan sukarela menceritakan serta menjelaskan masalah yang dialaminya kepada konselor.

  • Azas Keterbukaan

Azas keterbukaan merupakan asas penting bagi konselor karena hubungan tatap muka antar konselor dank lien merupakan pertemuan batin tanpa tedeng aling-aling. Dengan adanya keterbukaan ini dapat ditumbuhkan kecenderungan pada klien untuk membuka dirinya, untuk membuka kedok hiidupnya yang menjadi penghalang bagi perkembangan psikisnya.

Menurut Truax dan Carkhuff menyimpulkan bahwa ada hubungan yang erat antara keterbukaan konselor dan kemampuan klien membuka diri (self explorasion). Dengan demikian konselor yang dalam proses konseling membuka diri, tidak bersikap dibuat-buat atau pura-pura akan mendorong klien mengekpresikan pengalaman pribadinya.

  • Azas Kekinian

Pada umumnya pelayanan bimbingan dan konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan klien saat sekarang atau kini. Namun pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling itu sendiri menjangkau dimensi wktu yang lebih luas, yaitu masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.

permasalahan yang dihadapi oleh klien sering bersumber dari rasa penyesalannya terhadap apa yang terjadi pada masa lalu dan kekhawatiran dalam menghadapi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, sehingga ia lupa dengan apa yang harus dikerjakannya pada saat ini. Dalam hal ini konselor dapat mengarahkan klien untuk memcahkan masalah yang sedang dihadapinya sekarang.

  • Azas Kemandirian

Salah satu tujuan pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah agar konselor berusaha menghidupkan kemandirian didalam diri klien. Pada tahap wal konseling, biasanya klien menampakan sikap yang lebih tergantung dibandingkan pada tahap akhir konseling, sebenarnya sikap ketergantungan klien terhadap konselor ditentukan respon-respon yang diberikan oleh konselor terhadap kliennya. Oleh karena itu konselor dan klien harus berusaha menumbuhkan sikap kemandirian itu di dalam diri klien dengan cara memberikan respon yang cermat.

  • Azas Kegiatan

Dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling kadang-kadang konselor memberikan beberapa tugas dan kegiatan kepada kliennya. Dalam hal ini klien harus mampu melakukan sendiri kegiatan-kegiatan tersebut dalam rangka mencapai tujuan bimbingan dan konseling yang telah ditetapkan. Di pihak lain konselor harus berusaha/mendorong agar kliennya mampu melakukan kegiatan yang telah ditetapkan tersebut.

  • Azas Kedinamisan

Keberhasilan usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku klien kearah yang lebih baik.untuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku itu membutuhkan proses dan waktu tertentu sesuai dengan kedalaman dan kerumitan masalah yang dihadapi klien.konselor dan klien diminta untuk memberikan kerjasama sepenuhnya agar pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat dengan cepat menimbulkan perubahan dalam sikap dan tingkah laku klien.

  • Azas Kenormatifan

Asas kenormatifan yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap layanan dan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada, yaitu norma-norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku.

Bukanlah layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan dan pelaksanaannya tidak berdasarkan norma-norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

  • Azas Keahlian

Untuk menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, para petugas harus mendapatkan pendidikan dan latihan yang memadai. Pengetahuan, ketrampilan, sikap dan kepribadian yang ditampilkan oleh konselor akan menunjang hasil konseling.

  • Asas Keterpaduan

Azas keterpaduan yaitu azas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan  dan  kegiatan  bimbingan  dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Untuk ini kerjasama  antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

  • Azas Alih Tangan

Bimbingan dan konseling merupakan kajian profesional yang menangani masalah yang cukup pelik.disamping pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh konselor juga terbatas, maka ada kemungkinan suatu masalah belum dapat diatasi setelah proses konseling berlangsung.dalam hal ini konselor perlu mengalih tangankan (referral) klien pada pihak lain yang lebih ahli untuk menangani masalah yang sedang dihadapi oleh klien tersebut.

  • Azas Tut Wuri Handayani

Sebagaimana yang telah dipahami dalam pengertian bimbingan dan konseling bahwa bimbingan dan konseling itu merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis, sengaja, berencana dan terus menerus dan terarah kepada suatu tujuan. Oleh karena itu kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan adanya pada saat klien mengalami masalah dan menghadapkannya kepada konselor saja. Kegiatan bimbingan dan konseling harus senantiasa diikuti secara terus menerus dan aktif sampai sejauh mana klien telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan.