Menjelaskan Asal-Usul Kehidupan Suku Pamona dengan singkat

Asal kata Pamona diambil dari nama bukit bernama Pamona di Tentena, suatu desa di pesisir utara danau Poso. Bukit tersebut dinamai Pamona karena banyak ditumbuhi pohon Pamona. Di atas bukit tersebut dibangun sebuah istana kerajaan. Raja yang berkuasa di daerah tersebut diberi nama Raha Pamona, sesuai dengan nama bukit yang ditumbuhi banyak pohon Pamona. Pohon ini juga tumbuh di sekitar istana raja. Lama-lama kerajaan ini besar hingga meliputi negeri yang berada di sekitar danau Poso. Nenek Moyang Suku Pamona berasal dari dataran Salu Moge (luwu Timur). Karena berada di atas gunung yang jauh dari pusat pemerintahan, sehingga mereka diturunkan oleh Macoa Bawalipu mendekati pusat pemerintahan, yaitu di sekitaran wilayah Mangkutana (luwu Timur).

Suku ini menggunakan Bahasa Pamona dalam komunikasinya. Bahasa ini merupakan rumpun dari bahasa Malayo-Polinesia dan turun ke bahasa Kaili-Pamona. Bahasa Pamona hanya memiliki ragam lisan saja, tidak memiliki ragam tulisan atau aksara. Tahun 1912 bahasa Pamona pernah diteliti, dan bahasa ini kemudian disebut dengan bahasa Bare’e. dari hasil penelitian tersebut, bahasa Pamona sekelompok dengan bahasa Napu, Besoa, dan Ledoni. Penuturan Bahasa Pamona dipakai oleh sebagian besar suku yang mendiami daerah Poso.

Di Poso Provinsi Sulawesi Tengah, terdapat berbagai macam suku. Namun suku yang mendominasi wilayah Poso adalah suku Pamona. Makanya, kadang suku Pamona disebut juga dengan suku Poso atau orang Poso. Padahal suku Poso tidak ada, yang ada hanyalah wilayah Poso yang didiami oleh sebagian besar suku Pamona. Suku Pamona sebagian besar menganut agama Kristen. Agama ini masuk daerah sekitar 100 tahun yang lalu dan sampai sekarang diterima sebagai agama rakyat. Saat ini semua gereja-gereja yang sealiran dengan gereja ini bernaung dibawah naungan organisasi Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena, kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Seperti halnya dengan suku-suku lain seperti Batak, Toraja dan lainnya, suku Pamona juga menggunakan marga untuk mengikat kekerabatan satu darah. Misalnya marga Torau, Awundapu, Banumbu, Bali’e, Baloga, Belala, Betalino, Beto, Botilangi, Bulinde, Bungkundapu, Bungu, Buntinge, Dike, Dongalemba, Gilirante, Gimbaro, Gugu, Gundo, Kampindo, Kambodji, Kalembiro, Kalengke, Karape, Karebungu, Kayori, Kayupa, dan masih banyak lagi.

Suku Pamona memiliki pakaian adat yang sangat unik. Sebutan pakaian adat suku asli Poso adalah Tuana Mahile. Pakaian adat asli Pamona terbuat dari kulit kayu yang di sebut dengan Kaliken. Tidak sembarang kulit kayu untuk membuat pakaian adat tersebut, mereka mengambilnya dari pohon-pohon yang berada di sekitar pegunungan dan masih sangat alami. Pakaian tersebut hanya bisa digunakan pada saat pernikahan dan penyambutan tamu karena hasil tekstil pakaian tersebut mudah rusak jika terkena air. Namun, seiring dengan berjalannya waktu pakaian tersebut sudah hampir punah karena untuk pembuatan baju adat tersebut sangat lama. Sehingga sekarang di gunakan pakaian adat yang terbuat dari kain khusus dan di hiasi dengan manik-manik yang berwarna-warni.

Tarian adat tradisional Poso yang sangat terkenal yaitu tarian dero. Tarian ini merupakan tarian suku Pamona. Tarian ini melambangkan sebuah ungkapan sukacita masyarakat Poso terutama suku Pamona. Tarian ini di laksanakan di tempat yang luas karena seluruh peserta yang melakukan tarian ini masyarakat itu sendiri tanpa memandang status sosial, umur dan gender. Tarian ini merupakan tarian massal dan melibatkan seluruh masyarakat. Tarian ini sangat sederhana dan mudah untuk di pelajari.

Hanya berdampingan dan bergandeng tangan kemudian melakukan hentakan sekali ke kiri kemudian dua kali ke kanan dan mengikuti alunan lagu yang nyanyikan oleh penari dero. Alat musik yang di gunakan untuk mengiringi tarian tersebut adalah ganda (seperti gendang) dan nggongi (gong). Tarian ini sering di lakukan saat acara pernikahan dan acara besar adat lainnya.

Bahasa Suku Pamona

Ahli etnolinguistik seperti Adriani mengelompokkan orang Pamona ke dalam kelompok berbahasa bare’e “ingkar, tidak atau tak” kemudian bahasa mereka lebih dikenal sebagai bahasa Pamona.

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Akar kata Ja’a Jahat Evil, Bad
Awalan Maja’a
Kaja’a
Rusak, Jahat
Kejahatan
Spoilt, Damage
Crime, Wickedness
Akhiran Ja’andaya
Ja’anya
Ja’asa
Ja’ati
Kemarahan
Kerugiannya, sayangnya
Alangkah jahatnya
Dirusaki
Anger
Loss
How wicked is that
Tempered, Damaged
Imbuhan Kakaja’ati Sayang (untuk barang yang rusak) How wasted, What a waste
Sisipan Ja’a-ja’a Buruk Bad, Not good

Contoh lain:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Akar kata Monco Benar True
Imbuhan Kamonconya Sesungguhnya, Sebenarnya Indeed, Actually
Akhiran Moncoro
Moncou
Bersiaga
Terayun
Alert
Swung
Sisipan Monco-monco Sungguh-sungguh Earnest

Ada juga beberapa kata-kata akar yang diklasifikasikan sebagai kata-kata inventif (seperti contoh sebelumnya yang merupakan bagian dari kata-kata inventif namun tidak diklasifikasikan sebagai kata-kata inventif) dengan hanya perubahan posisi abjad, sehingga menciptakan makna lain. Sebagai contoh:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Soe Ayun Swing
Soa Kosong Empty
Sue Mencontoh Imitate
Sia Sobek Torn
Sou, Sau Turunkan Lower down
Sua Masuk Enter
Sai Kais As in a chicken digging the ground with its claws
Seo Sobek (karena lapuk) Worn out

Bahasa Pamona termasuk unik karena memiliki banyak fase suku kata yang bisa diputar untuk membentuk arti yang berbeda, misalnya:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Mekaju Mencari kayu bakar Finding firewood
Mokuja Sedang berbuat apa? What are you doing?
Makuja Bertanya mengenai jenis kelamin bayi yang baru lahir Inquiring the gender of a newborn baby
Makijo Bunyi teriakan riuh sebangsa monyet Sound of a primate shouting
Mokeju Bersanggama Copulate

Contoh lain:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Koyo Usung Stretcher
Kuya Jahe Ginger
Kayu Usungan yang terbuat dari pelepah rumbia A sort of stretcher made of sago palm leaves
Koyu Simpul tali berkali-kali pada suatu rentang tali Weaving of knots into a form of a rope
Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Lio Wajah Face
Lou Ayun badan kebawah Swinging downwards
Lau Berada di tempat yang lebih rendah Located at lower lands
Lua Muntah Vomit
Loe Jinjing Tote
Liu Lewat Late

Mata Pencaharian Suku Pamona

Mata pencaharian utama masyarakat ini ialah pertanian di ladang tebang bakar dan berpindah, walaupun sebagian sudah ada pula yang bercocok tanam menetap di sawah dan kebun. Tanaman utamanya ialah padi, disamping jagung, sayur-mayur dan palawija. Pada masa sekarang mereka semakin tertarik kepada pertanian menetap, terutama sejak diperkenalkannya tanaman komoditi seperti cengkeh dan kopi. Sebagian anggota masyarakatnya masih memiliki mata pencaharian sebagai peramu hasil hutan dan berburu binatang liar.

Kekerabatan Suku Pamona

Prinsip hubungan kekerabatan orang Pamona pada dasarnya bilateral, pasangan keluarga baru biasanya tinggal di lingkungan rumah pihak isteri, sampai mereka mempunyai anak pertama dan sudah merasa sanggup untuk berdiri sendiri.

Agama Dan Kepercayaan Suku Pamona

Pada masa sekarang orang Pamona sudah memeluk agama Islam atau Kristen. Sistem kepercayaan asli mereka bersifat animisme dan mempercayai adanya dewa-dewa “pue” yang mempengaruhi alam dan kehidupan. Tokoh dewa yang paling mereka segani ialah Pue N’Palaburu yaitu dewa pencipta alam yang berdiam di tempat matahari terbit dan terbenam, karena itu juga dikenal sebagai Dewa Matahari.

Tokoh dewa yang sering dimintai pertolongan dalam pengobatan penyakit karena gangguan roh jahat ialah Pue Ni Songi. Dewa yang sering pula dihubungi untuk berbagai upacara keagamaan ialah Wurake. Selain dewa-dewa kekuatan adikodrati lain mereka anggap berasal dari roh-roh nenek moyang.

Kekuatan makhluk gaib itu hanya bisa dihubungi dengan perantaraan para syaman. Roh para leluhur perlu diberi sesajian dalam setiap tahap proses perputaran lingkaran hidup, serta untuk meminta perlindungan agar jangan diganggu oleh makhluk jadi-jadian yang disebut tau mepongko.