Menjelaskan Akulturasi dan Perubahan Sosial dengan singkat

Akulturasi dan Perubahan Sosial Merupakan hal yang senantiasa bergerak terus atau mengalami perubahan dari masa ke masa atau dapat dikatakan tidak statis, itulah   yang dapat digambarkan  mengenai kehidupan sosial. Namun tidak semua orang berpendapat sama dalam mengartikan perubahan sosial.

Dalam perkembangannya pun beberapa ahli mengemukakan pendapat yang berbeda dalam memahami perubahan sosial. Dari sekian banyaknya fenomena sosial yang menjadi fokus analisis antropologi, perubahan sosial mungkin salah satu yang paling sulit dipahami.

Perubahan sosial secara sederhana dapat diartikan sebagai proses yang dalam suatu sistim sosial terdapat perbedaan- perbedaan dapat diukur yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Pola perubahan sosial meliputi; pola linier, siklus, dan gabungan beberapa pola.

Dimensi perubahan sosial sendiri terdiri atas; dimensi strukural, kultural dan interaksional. Perubahan sosial sering juga diartikan sama (meskipun rancu) dengan konsep- konsep seperti; pergeseran sosial, transformasi sosial, pembangunan, evolusi sosial, revolusi sosial, kemajuan dan pertumbuhan.

Secara Umum Agama, Kesenian Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Suku Lani

Sebagian besar suku Lani beragama Kristen Protestan ada kaitan antara manusia dan alam. Orang suku Lani mengenal alat hidup yakni jikin “busur”, male “anak panah”. Dalam kesenian, sali yakni ibu-ibu pakai rok dari kulit kayu. Budi yakni menggunakan burung Cendrawasih. Sistem pengetahuan misalnya obat-obatan tradisional antara lain sebagai berikut:

  • Buah merah untuk mengurangi berbagai penyakit.
  • Daun kayu dolungga, untuk obat bisul dengan cara dipanaskan terlebih dahulu, ibu melahirkan, darah berhenti.
  • Daun gurungga, untuk obat ingus, dipanaskan.
  • Towol, daun gatal untuk obata kecapean seperti balsem.

Buha merha dalam bahasa daerah disebut tawi, kenen, ugi, maler dan yalingga. Cara menanamnya bibitnya dari cabang “stek”, menggali tanah dalamnya 10 cm, lebarnya 30 cm. Sebelum menanam, membuang daun untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, mulai tumbuhnya sekitar 1-2 bulan, setelah 3-4 tahun baru bisa dipanen, panennya dengan gotong royong dan harganya 1 belah 200 ribu.

Daftar Postaka
Agustinus Jarona. 1999. Tema-tema Kebudayaan Irian Jaya (Pendekatan / Aliran Struktural – Fungsionalisme dan Penerapannya). Disampaikan dalam Ceramah Diskusi Ilmiah yang diselenggarakan BKSNT, Jayapura, 25-26 Januari 1999.
Bakker SJ, JWM, 1984. Filsafat Kebudayaan. Yogyakarta: Yayasan Kanisius Bogdan J., Robert., Taylor Steven. 1975. Introduction to Qualitative Research
Methods. USA : A Wiley-Interscience Publication
Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja.
Grafindo Persada
. 2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Davis Keith., Newstrom JW, 1995, Perilaku Dalam Organisasi (Terjemahan Agus Dharm ) Jakarta, Erlangga.
Dumma Socratez Sofyan Yoman. 2010. Kita Minum Air Dari Sumur Kita Sendiri Mengangkat Budaya Orang Suku Lani. Jayapura: Davis Keith dan Newstrom JW, 1995, Perilaku Dalam Organisasi (Terjemahan Agus Dharm ) Jakarta, Erlangga.Cendrawasih Press.
Taylor, Edward B., 1897. Primitive Culture: Researches into the Developmen of Mythology, Philosophy, Religion, Art, and Cumtom. New York: Henry Holt.
Elemberg, J.E. 1965. The Popot Feast Cycle: Acculturated exchange among the Mejprat Papuans. Journal Ethnos Vol.30.
Kartono, Kartini. 1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. CV. Rajawali. Jakarta. Koentjaraningrat. 1963. Lingkungan Alam, Dalam Penduduk Irian Barat.
Penerbit: PT. Penerbit Universitas.
. 1984. Kepemimpinan dan Kekuasaan Tradisional, Masa Kini, Resmi dan Tak Resmi dalam Budiardjo, Miriam (eds.). Aneka Kuasa dan wibawa. Jakarta: Sinar Harapan
. 1990. Pengantar Antropologi. Aksara Baru. Jakarta.