Menjelaskan Adat Perkawinan Suku Tidore dengan singkat

Pelaksanaan perkawinan ditata melewati mekanisme formal layaknya mekanisme umum seperti lamaran hingga pelaksanaan akad, pada adat tidore mekanismenya sebagai beriku  :

  • Sari Oras Malaha (Mencari dan menentukan waktu baik)

Kegiatan ini berlangsung sesaat setelah keluarga calon mempelai wanita menerima belanja yang diantarkan oleh keluarga calon mempelai laki-laki. Penentuan bulan, hari dan jam didasarkan pada “saat dan kutika” menurut perhitungan Syaidina Imamul Djafar Sadek.

  • Malam Rorio (Malam kunjungan dan gotong royong)

Kegiatan ini berlangsung semalam sebelum akad nikah dilaksanakan sekitar pukul 19.00 – 23.00. Biasanya wanita /ibu-ibu dari kedua belah pihak keluarga datang membawa hantaran ”antar rorio” untuk persiapan kerja esoknya. Tradisi “rorio” bermakna saling menolong. Mereka yang datang pada malam tersebut ke rumah calon pengantin wanita membawa “rorio” dalam bentuk sadaqah beramplop dan balasannya adalah satu dos/bungkus kue ‘rorio’. Malam ini juga biasanya digunakan oleh muda /mudi untuk datang melihat ranjang pengantin yang telah dihiasi (honyoli tua se guba).

  • MUSUSU LAHI (Masuk Minta / Meminang)

Adalah proses lamaran dari kaum pria yang ditemani oleh pihak keluarga atau wali keluarga. Dalam prosesi ini kaum pria yang diwakili oleh wali/orantua menyatakan ungkapannya akan keinginan mempersunting si perempuan.

  • PAKA DEN (Naik ranjang)

Paka den atau naik tempat tidur (pingitan) biasanya tiga hari jelang akad nikah, calon pengantin wanita maupun pengantin pria mengenakan pakaian adat dan sekujur tubuhnya dilulurkan bedak tradisional (pupu lade) yang sebelumnya dibacakan doa-doa. Acara ini memaknai membersihkan diri memasuki alam rumah tangga. Bagi perempuan ini tradisi ini disebut Wadaka (Dengan menggunakan bedak/semacam rempah kosmetik hingga pada hari kedua mempelai bertemu di hari puncak).

  • HOGO JAKO (Mandi membersihkan)

Prosesi ini berlangsung di kediaman mempelai wanita. Utusan calon pengantin wanita dengan menggunakan baju adat menjemput calon pengantin pria. Calon pengantin wanita duduk diatas pangkuan seorang wanita muda dan calon pengantin pria dipangku seorang lelaki muda. Mereka dililitkan dengan kain putih dan kepalanya juga ditutupi kain putih. Didepan pengantin berdiri para wanita paru baya (yaya goa) dengan busana adat (dao) selaku pelaksana prosesi memandikan dan mengusapkan (hogo jako) kedua calon pengantin. Perlengkapan hogo jako terdiri dari bambu (dibu) berisi air yang dililitkan dengan kain putih, telur, buah pisang raja mentah, pinang, mayang pinang yang didalamnya berisi sumbu (jumlahnya ganjil), sirih, kapur, pelita, uang koin, daun beringin putih, daun pohon jawa, dan daun goliho. Makna acara ini adalah upaya menolak segala bencana atau marabahaya menjelang pernikahan maupun sesudahnya. Hogo jako juga dipergunakan pada acara Khitanan.

  • GOLU (Sarang laba-laba / masuk kamar pengantin).

Menandakan jalan tersebut belum dilalui oleh siapapun (sang wanita  belum dinikahi oleh orang lain sebelumnya).  Akad nikah dilaksanakan menurut syariat Islam, yaitu diawali dengan khotbah nikah, Idzab Kabul, ucapan sighat taklik dan diakhiri dengan pambacaan doa. Sesudah Idzab Kabul, pengantin pria masuk ke kamar pengantin wanita (bathal wudhu). Biasanya kamar pengantin wanita dikunci rapat oleh kerabat pengantin wanita. Pintu dibuka setelah pendamping pengantin laki-laki melempari koin golu berulang-ulang ke dalam kamar pengantin wanita.

Baca Juga : 

  • ORO BARAKATI SE SILOLOA (Ambil berkat dan bersuara)

Oro barakati sama halnya dengan mengambil / meminta berkat dari kedua mempelai kepada orang tua atau wali dan kerabat dekatnya. Seusai oro barakat dilanjutkan dengan siloloa dari seseorang yang mewakili pihak kedua keluarga pengantin menyampaikan siloloa atau sekedar prakata kepada yang hadir (menyampaikan sedikit perihal kedua mempelai, mohon maaf atas kekurangan dalam pelayanan dan seterusnya, juga ucapan terima kasih atas segala partisipasi). Siloloa juga dilakukan pada acara-acara lain seperti jelang keberangkatan Jenazah dari rumah duka.

  • MUNARA FOU SARO (Makanan hidangan) 

Seperangkat makanan adat khas Tidore, dihidangkan di atas meja yang diatur dan ditata sedemikian rupa, dan disantap oleh orang-orang yang mengenakan pakaian adat pula. Makanan adat sebelum disantap, dimasukan (disarokan) ke dalam kain putih (di atas taplak meja berwarna putih dan ditutupi kain berwarna putih). Masyarakat Tidore mengenal 3 (tiga) tingkatan pada ngam saro.

  • DOWARO

Yaitu suatu ungkapan dari seorang pawang/joguru yang menceriterakan dengan kata-kata bermakna tentang arti secara simbolis, setiap jenis makanan adat yang disuguhkan dalam acara tersebut. Juga ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, juga kepada seluruh yang telah berpartisipasi. Dowaro ini juga diucapkan oleh pawang/joguru pada acara dina kematian (biasanya pada dina besar hari ke–7 atau ke-9), dan dapat pula diucapkan pada hajatan lainnya seperti peresmian lembaga-lembaga adat dan lembaga-lembaga pemerintah/kerajaan.