Menjelaskan Adat Istiadat Suku Pamona dengan singkat

Tradisi yang paling sering dijumpai pada suku Pamona ialah tradisi Katiana , yaitu upacara selamatan kandungan pada masa hamil yang pertama seorang ibu. Upacara Katiana ini biasanya dilakukan apabila kandungan itu sudah berumur 6 atau 7 bulan, saat kandungan dalam perut sang ibu sudah mulai membesar. Maksud penyelenggaraan upacara Katiana ini adalah untuk memohon keselamatan ibu, rumah tangga, dan khususnya keselamatan bayi di dalam kandungan. Dengan upacara ini, bayi di dalam kandungan diharapkan dapat tumbuh subur, sempurna, dan tidak banyak mengganggu kesehatan sang ibu. Secara psikologis, upacara ini memberikan pegangan bagi sang ibu dan seluruh sanak kerabat agar tetap tabah dan kuat menghadapi hal-hal yang cukup kritis dalam kurun waktu 9 bulan masa kehamilan.

Lalu tradisi Pandungku yaitu,ucapan syukur setelah panen.Setelah panen masyarakat Pamona selalu mengadakan ucapan syukur atas berkat kesuksesan yang di berikan Tuhan Yesus. Meskipun masyarakat Pamona sebagian besar  bukan petani tetapi harus mengadakan ucapan syukur tersebut dan ucapan syukur tersebut di laksanakan di gereja dan setelah ibadah ucapan syukur setiap orang bisa berkunjung satu sama lain. Tanpa pengecualian kepada siapa saja akan berkunjung karena acara tersebut di buat setahun sekali. Makanannya enak-enak kalau acara besar seperti ini.

Selanjutnya adat perkawinan yang di gunakan untuk mengatur mas kawin yang di tanggung oleh mempelai laki-laki yang akan di serahkan kepada orang tua mempelai perempuan, mas kawin tersebut sering di sebut dengan “Sampapitu”.  Nah, dalam melaksanakan adat perkawinan tersebut masih ada sampai sekarang tradisi gotong royong atau membantu dalam perkawinan yang biasanya di sebut dengan “Posintuwu”. Bantuan yang di berikan berupa bahan-bahan makanan, tenaga, uang dan sebagainya. Wujud bantuan seperti itu atau Posintuwu akan terus ada karena setiap orang yang sudah di beri Posintuwu akan membalasnya di kemudian hari jika pemberi suatu hari mengadakan pernikahan.

Ada lagi upacara pemindahan mayat yang disebut dengan Ndatabe. Jenazah tersebut disimpan pada tambea (tempat penyimpanan jenazah) sampai menjadi tulang belulang yang bersih dan letaknya agak jauh terpisah dari penduduk. Bila jenazah tersebut tinggal tulang belulang, diadakan upacara Mompemate (memindahkan tulang belutang tersebut ke gua-gua).