Penjelasan Teori Waisya NJ Krom

Teori Waisya yang dikemukakan oleh NJ Krom menyatakan bahwa berkat peran serta golongan Waisya (pedagang) yang merupakan golongan terbesar masyarakat India yang berinteraksi dengan masyarakat Nusantara.

Para pedagang memiliki hubungan dan kerjasama yang kuat dengan raja-raja di Indonesia. Di sela-sela kegiatan berdagang itu kemudian para Waisya menyebarkan agama Hindu pada masyarakat Indonesia.

Para pedagang yang berasal dari India atau pusat-pusat Hindu lain di Asia ini banyak melakukan hubungan dagang dengan masyarakat atau penguasa pribumi. Kesempatan ini yang membuka peluang bagi masuknya agama Hindu di Indonesia. Teori ini dirasa lebih tepat karena sesuai dengan kondisi Nusantara sebagai Negeri yang sering dilewati perdagangan internasional.

Dampak adanya hubungan perdagangan antara India dan China adalah ikut berkembangnya wilayah di sekitar Selat Malaka, yang ramai didatangi pedagang dari India dan Tiongkok. Perdagangan ini menyebabkan tumbuhnya kota-kota pelabuhan dan kerajaan di sekitar Selat Malaka di wilayah Indonesia.

Perdagangan ini menyebabkan menyebarnya ajaran agama Hindu dan Buddha. Akibat dari perdagangan ini muncul kerajaan yang dipengaruhi agama Hindu Buddha, seperti kerajaan Sriwijaya di pesisir timur pulau Sumatera. Kerajaan Sriwijaya ini menjadi makmur karena perannya sebagai perantara dan tempat singgah dalam perdagangan antara China dan India.

Penyebaran agama Hindu dan Buddha oleh para pedagang merupakan dasar Teori Waisya.

Teori ini menyatakan bahwa agama Hindu dibawa ke Indonesia oleh para pedagang yang berdagang di Indonesia, atau kasta Waisa. Teori ini dikemukakan oleh Nicolaas Johannes (N.J.) Krom, seorang ahli sejarah Belanda. Teori ini menyatakan bahwa para pedagang menggunakan angin muson tropis tiap 6 bulan untuk berlayar dari dan ke India. Bukti dari teori adalah adanya Kampung Keling (kampung pedagang India, diambbil dari nama kerajaan Kalinga di India timur), yang ditemukan di kota-kota pesisir.

Menurut N.J.Krom ada 2 hipotesis tentang Agama Hindu yang disebarkan oleh pedagang. Yang pertama, para pedagang golonan waisya dari India berdang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Melalui interaksi perdagangan itulah agama Hindu disebarkan kepada masyarakat Indonesia.

Yang kedua, para pedagang dari India ini yang singgah di Indonesia kemudian mendirikan pemukiman sembari menunggu angin musim yang cocok untuk membawa mereka kembali ke India. Hingga selama enam bulan merekapun berinteraksi dengan penduduk sekitar dan menyebarkan agama pada penduduk lokal Indonesia. Selanjutnya jika ada yang tertarik dengan penduduk setempat dan memutuskan untuk menikah serta berketurunan maka melalui ikatan inilah agama Hindu disebarkan ke masyarakat sekitar.

Bantahan para ahli terhadap teori Waisya

Yang pertama adalah motif mereka datang sekedar untuk berdagang bukan untuk menyebarkan agama Hindu sehingga hubungan yang terbentuk antara penduduk setempat bahkan pada raja dengan para saudagar (pedagang India) hanya seputar perdagangan dan tidak akan membawa perubahan besar terhadap penyebaran agama Hindu.

Bantahan yang kedua, mereka lebih banyak menetap di daerah pantai untuk memudahkan kegiatan perdagangannya. Mereka datang ke Indonesia untuk berdagang dan jika mereka singgah mungkin hanya sekedar mencari perbekalan untuk perjalanan mereka selanjutnya atau untuk menunggu angin yang baik yang akan membawa mereka melanjutkan perjalanan. Sementara itu kerajaan Hindu di Indonesia lebih banyak terletak di daerah pedalaman seperti Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Sehingga, penyebarluasan agama Hindu tidak mungkin dilakukan oleh kaum Waisya yang menjadi pedagang.

Kemudian bantahan ketiga, meskipun ada perkampungan para pedagang India di Indonesia tetapi kedudukan mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa di tempat itu, mereka yang tinggal menetap sebagian besar hanyalah pedagang-pedagang keliling sehingga kehidupan ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Sehingga pengaruh budaya yang mereka bawa tidaklah membawa perubahan besar dalam tata negara dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

Bantahan keempat, kaum Waisya tidak mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Hindu sebab yang bertugas menyebarkan agama Hindu adalah Brahmana. Lagi pula para pedagang tidak menguasai secara mendalam ajaran agama Hindu dikarenakan mereka tidak memahami bahasa Sansekerta sebagai pedoman untuk membaca kitab suci Weda.

Dan bantahan kelima, tulisan dalam prasasti dan bangunan keagamaan Hindu yang ditemukan di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang hanya digunakan oleh Kaum Brahmana dalam kitab-kitab Weda dan upacara keagamaan.

Kelemahan Teori Waisya

  • Pedagang jaman dahulu tidak punya waktu untuk menyiarkan agama sebab habis menyelesaikan dan menjajakan dagangannya
  • Dalam ajaran Hindhu yang berhak mendalami ajaran agama hanyalah para paderi dari kasta Brahmana sehingga para pedagang tidak memiliki pengetahuan cukup untuk menyebarkan agama.
  • Berdasarkan ajaran Hindhu kasta Waisya hanya berhak tinggal dan beraktivitas di daerah daerah perniagaan saja
  • Pemukiman penduduk masuk dalamkekuasaan politik yang terpisah dengan kewenangan ekonomi
  • Pedagang yang berprestasi jumlahnya terbatas.

Kelebihan Teori Waisya

Banyaknya sumber daya alam di Indonesia membuat para Waisya (kelompok pedagang) tertarik untuk bertransaksi jual beli di Indonesia. Pada saat itu, kebanyakan pedagang yang datang ke Indonesia berasal dari India yang merupakan pusat agama hindu, sehingga ketika mereka berdagang, mereka juga menyebarkan ajaran agama Hindu dan Buddha.