Latar belakang pertempuran Medan Area

Selamat berjumpa kembali kawan-kawan, admin akan mencoba memberikan penjelasan tentang latar belakang pertempuran Meda Area. Semoga saja ulasan singkat tentang latar belakang pertempuran Meda Area ini bermanfaat banyak.

Latar belakang pertempuran Medan Area adalah:

  1. Ulah seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak lencana merah putih.
  2. Ultimatum agar pemuda Medan menyerahkan senjata kepada Sekutu.
  3. Bekas tawanan yang menjadi arogan dan sewenang-wenang.
  4. Pemberian batas daerah Medan secara sepihak oleh Sekutu dengan memasang papan pembatas yang bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area (Batas Resmi Medan Area)” di sudut-sudut pinggiran Kota Medan.

Sejarah Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan area diawali dengan kedatangan pasukan Sekutu pada 9 Oktober 1945 di Sumatra Utara. Pasukan tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal T. E. D Kelly.

Sekutu membawa satu brigade, yaitu Brigade 4 dari Divisi India ke-26. Kedatangan brigade itu turut dibocengi oleh orang-orang Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang diam-diam dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan  Indonesia.

Pada awalnya pemerintah RI di Sumatra Utara memperkenankan mereka menempati beberapa hotel di kota Medan, seperti Hotel de Boer, Grand Hotel, Hotel Astoria dll. Pejabat Sumatra Utara tidak mengetahui tujuan mereka sebenarnya, melainkan semata-mata ingin menghormati tugas mereka untuk mengurus tawanan perang yang ditahan oleh Jepang.

Sebagian anggota Sekutu dan NICA kemudian ditempatkan di Binjai, Tanjung Morawa, dan beberapa tempat lainnya dengan memasang tenda-tenda lapangan.

Sehari setelah mendarat di Medan, tim dari Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) telah mendatangi kamp-kamp tawanan di Pulau Berayan, Saentis, Rantau Prapat, Pematang Siantar dan Berastagi untuk membantu membebaskan tawanan dan dikirim ke Medan atas persetujuan Gubernur M. Hassan.

Tanpa disangka, para tawanan perang itu justru langsung dibentuk menjadi batalyon KNIL. Perubahan sikap pun langsung tampak dari para bekas tawanan tersebut. Mereka bersikap congkak karena merasa sebagai pemenang dalam Perang Dunia II.

Dalam mengantisipasi kedatangan Sekutu dan NICA, para pemuda segera membentuk Divisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di kota Medan pada 13 September 1945.

Sikap congkak dari bekas tawanan itu memicu timbulnya berbagai insiden dengan para pemuda Sumatra Utara. Insiden pertama pecah di hotel di Jalan Bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945. Insiden itu diawali dengan adanya seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak-nginjak lencana merah-putih yang dipakai oleh seorang pemuda.

Kapan Dimulainya Pertempuran Medan Area?

Insiden lencana itu sekaligus menandai dimulainya Pertempuran Medan Area. Hotel tersebut diserang dan dirusak oleh para pemuda. Dalam insiden ini jatuh sekitar 96 orang mengalami luka-luka, sebagian besar adalah orang-orang NICA.

Insiden kemudian menjalar di beberapa kota lainnya seperti Pematang Siantar dan Berastagi.

Sebagaimana di kota-kota lain di Indonesia, Inggris memulai aksinya untuk memperlemah kekuatan para pejuang dengan melakukan intimidasi melalui pamflet kepada bangsa Indonesia agar menyerahkan senjata mereka kepada Sekutu.

Usaha yang sedemikian rupa juga dilakukan oleh Brigadier Jenderal T. E. D. Kelly terhadap pemuda Medan pada tanggal 18 Oktiber 1945. Sejak saat itu pula pasukan Sekutu dan NICA  mulai melakukan aksi-aksi teror di kota Medan, sehingga permusuhan dengan kalangan pemuda pun tidak terhindarkan.

Di sisi lain, akibat permusuhan dengan kalangan pemuda, patroli-patroli Inggris ke luar kota tidak pernah merasa aman. Keselamatan mereka tidak dijamin oleh pemerintah RI.

Bertambahnya korban di pihak Inggris, menyebabkan mereka memperkuat kedudukannya dan menentukan sendiri secara sepihak batas kekuasaan.

Pertempuran Medan Area

Bagaimana terjadinya pertempuran Medan Area?

Pertempuran Medan Area adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Medan, Sumatera Utara setelah mendaratnya pasukan Sekutu (Inggris) yang diikuti oleh NICA (Belanda), 9 Oktober 1945, dengan tujuan mengambil alih pemerintahan.

Kedatangan tersebut memancing berbagai insiden terjadi pada sebuah hotel di Jalan Bali, Kota Medan, Sumut, 13 Oktober 1945. Saat itu, seorang penghuni merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia sehingga mengundang kemarahan sampai akhirnya barisan pemuda dan TKR bertempur melawan Sekutu dan NICA dalam upaya merebut dan mengambil alih gedung-gedung pemerintahan dari tangan Jepang.

Inggris kemudian mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Sekutu meski tak dihiraukan oleh kaum pribumi. Selanjutnya, pada 1 Desember 1945, Sekutu memasang papan yang tertuliskan `Fixed Boundaries Medan Area` (batas resmi wilayah Medan) di berbagai pinggiran Kota Medan hingga dianggap sebagai tantangan bagi para pemuda.

Tak lama berselang, Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kota Medan pada 10 Desember 1945 hingga menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak hingga akhirnya penjajah berhasil menduduki Kota Medan pada April 1946.

Akhirnya, perlawanan Sekutu semakin sengit pada 10 Agustus 1946 di Tebing Tinggi setelah pusat perjuangan rakat Medan sebelumnya dipindahkan ke Siantar. Kemudian diadakanlah pertemuan di antara para Komandan pasukan yang berjuang di Medan Area dan memutuskan dibentuk nya satu komando yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat untuk memperkuat perlawanan di Kota Medan.

Perang gerilya dan frontal itu terjadi selama dua tahun lamanya, bahkan tak hanya terjadi di Kota Medan, melainkan juga di hampir seluruh wilayah Sumatera terjadi perlawanan rakyat terhadap Jepang, Sekutu dan Belanda untuk mengusir mereka dari wilayah Indonesia, khususnya Kota Medan saat terjadi peristiwa Pertempuran Medan Area tersebut.