Sejarah Raja Hammurabi

Hammurabi adalah merupakan raja keenam dari Dinasti Babilonia pertama (memerintah 1792-1750 SM), dan ia mungkin juga Amraphel, raja dari Sinoar menurut Bibel (Alkitab).

Hammurabi adalah raja babilonia yang paling terkenal. Karena aturan- aturan yang dia buat itu adalah aturan yang menjadii acuan hukum saat ini.

Raja hamurabi terkenal karena pada masa pemerintahannya di buat kode resmi/hukum tertulis pertama yang tercatat di dunia yang di sebut piagam hamurabi (codex hamurabi).

Raja Hammurabi yang sangat terkenal sebab bisa melakukan suatu perubahan besar pada masa kerajaan babylon lama adalah Raja Hammurabi yang membuat aturan-aturan yang menjadi acuan hukum saat ini dan kode resmi yang dibuatnya, dikenal dengan nama Codex Hammurabi.

Raja hamurabi terkenal adalah karena

  • Membuat undang undang tertulis yang pertama didunia untuk mengatur pemerintahan dan masyarakat
  • Membuat taman diatas bukit yang dikenal dengan sebutan “taman bergantung”
  • Membangun kota secara teratur Dengan town planning
  • Membuat bendungan untuk mencegah meluapnya sungai Eufrat dan Tigris
  • Membangun tembok raksaksa sebagai benteng pertahanan

Contoh isin Piagam Hammurabi

  • Seorang yang gagal memperbaiki saluran airnya akan diminta untuk membayar kerugian tetangga yang ladangnya kebanjiran
  • Pemuka agama wanita dapat dibakar hidup-hidup jika masuk rumah panggung (umum) tanpa permisi
  • Seorang janda dapat mewarisi sebagian dari harta suaminya yang sama besar dengan bagian yang diwarisi oleh anak laki-lakinya
  • Seorang dukun yang pasiennya meninggal ketika sedang dioperasi dapat kehilangan tangannya (dipotong)
  • Seseorang yang berhutang dapat bebas dari hutangnya dengan memberikan istri atau anaknya kepada orang yang menghutanginya untuk selang waktu tiga tahun

Sejarah Kerajaan Babilonia (Raja Hammurabi)

Babilonia marupakan sebuah kerajaan yang didirikan oleh bangsa Amorit, yang dalam perjalanan sejarahnya dikenal dengan bangsa Babilonia. Kerajaan ini memiliki unsur religi yang sangat kental dalam menjalankan setiap kegiatannya, seperti pembuatan kuil di seluruh wilayah kerajaan. Babilonia sendiri berasal dari kata “babilu”, yang berarti gerbang menuju Tuhan. Posisi kerajaan Babilonia terletak tepat di tepian sungai Eufrat, kurang lebih 97 km dari kota Baghdad saat ini.

Babilonia memiliki pusat pemerintahan, sekaligus ibokota kerajaan di Kota Babilon. Selain sebagai pusat pemerintahan, kota Babilon dikenal juga sebagai pusat perdagangan dan keagamaan kerajaan Babilonia. Oleh karenanya, kota Babilon memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan kerajaan Babilonia.

Dalam perjalanannya, Babilonia telah dipimpin oleh banyak penguasa yang memiliki banyak prestasi bagi kemajuan kerajaan itu. Namun dari beberapa penguasa tersebut, Hammurabi menjadi raja yang paling terkenal dalam sejarah kerajaan Babilonia.

Raja Hammurabi berkuasa di Babilonia mulai tahun 1948 SM sampai dengan 1905 SM. Raja Hammurabi membuat banyak kebijakan penting yang tertuang dalam undang-undang kerajaan yang cukup sistematis bagi seluruh rakyat Babilonia. Banyak kisah yang mengatakan bahwa undang-undang yang dibuat oleh Hammurabi merupakan pemberian langsung dari Dewa Marduk.

Undang-undang yang dibuat oleh Hammurabi dipahat pada sebuah lempengan batu besar setinggi 8 kaki. Agar dapat tersampaikan dengan bagi kepada seluruh rakyat Babilonia, pahatan batu raksasa tersebut diletakkan di tengah pusat Kota Babilon.

Undang-undang yang dibuat oleh Hammurabi dikenal dengan Codex Hammurabi. Awalnya rakyat tidak mengerti tulisan yang ada pada pahatan batu tersebut, karena sebagian besar rakyat Babilonia masih buta huruf. Namun, pesannya cepat tersampaikan ketika secara berkala pejabat pemerintah menyampaikan langsung secara lisan. Selain itu pemerintah mulai membuka tempat-tempat untuk mempelajari tulisan bagi seluruh rakyat Babilonia yang masih buta huruf.

Secara umum, Codex Hammurabi berisikan konsep hukum setimpal yang ingin diterapkan oleh Hammurabi, seperti mata dibalas mata, atau nyawa dibalas nyawa. Raja Hammurabi terkenal keras dan tegas dalam menerapkan hukum yang dibuatnya. Salah satu poin dalam Codex Hammurabi mengatakan bahwa jika seseorang kedapatan melakukan pencurian di salah satu rumah, maka pencuri tersebut harus dibakar dan dibunuh di depan rumah tersebut.

Penerapan hukum yang dilakukan oleh Hammurabi nyatanya memberikan efek yang baik bagi kehidupan rakyat di Babilonia. Masyarakat Babilonia menjadi lebih tertib dan teratur dalam menjalani kehidupan mereka. Bahkan hampir dikatakan, pada masa pemerintahan Hammurabi, Babilonia menjadi kerajaan paling aman dan tertib.

Sebutkan Ajaran-Ajaran Hammurabi!

Hukum Hammurabi begitu rinci sehingga seolah-olah ingin menjangkau semua segi kehidupan masyarakat. Tampaknya Hammurabi tak ingin tanggung-tanggung. Dia ingin semuanya bisa diatur dalam sebuah sistem hukum yang komplet sehingga tak satupun segi kehidupan masyarakat yang lolos dari pengaturan.

Hammurabi juga sadar bahwa hukum harus diketahui dan disadari seluruh anggota masyarakat. Hanya dengan begitu, warga bisa menghindari perbuatan yang bisa dijerat sanksi hukum. Untuk itu dia telah mengumumkan secara luas kepada rakyatnya seluruh bangunan hukum, yang disusun berdasarkan pengelompokan yang teratur, sehingga semua orang bisa membaca dan mengetahui apa yang dituntut oleh hukum yang dibuatnya.

Kode itu dipahat pada monumen batu hitam, setinggi 8 kaki. Jelas ini dirancang supaya dapat dijangkau pandangan publik. Batu yang terkenal ini ditemukan pada tahun 1901 yang diduga dibawa oleh para penakluk. Kalimat-kalimat hukum yang terpahat di monumen itu dimulai dan diakhiri dengan pujian pada Tuhan. Bahkan sebuah kode hukum digunakan sebagai bahan untuk berdoa walaupun doa itu terutama berisi celaan terhadap siapapun yang melanggar dan menghancurkan hokum.

Bangsa Ibrani mempelajari hukum mereka ‘sebuah mata untuk sebuah mata’. Hukuman yang bersifat balas dendam yang mengerikan ini tanpa ada kata maaf dan penjelasan, tapi hanya berdasarkan fakta dengan satu perkecualian yang mencolok. Seseorang tertuduh diizinkan untuk melemparkan dirinya sendiri ke sungai, Euphrates. Di sini tampaknya seni berenang tidak dikenal. Apabila dia selamat hingga ke tepian, ia dinyatakan tak bersalah. Apabila ia tenggelam ia dianggap bersalah.