Pengertian Respon Peradangan (Inflamasi) dan Contohnya

Pengertian peradangan adalah merupakan sesuatu yang menunjukkan respons perlindungan normal tubuh terhadap cedera. Terjadi saat sel darah putih melawan untuk melindungi kita dari infeksi, misalnya dari bakteri atau virus. Peradangan juga terjadi saat tubuh kita cedera, misalnya jika Anda terkilir sewaktu berolahraga, yang sering kali menjadi menyakitkan, bengkak, dan meradang.

Pengertian Inflamasi adalah salah satu respon protektif terhadap cedera atau kerusakan jaringan dengan cara menghancurkan, mengurangi, atau mengurung agen atau senyawa asing yang masuk untuk mempertahankan homeostasis tubuh dan membuang sel dan jaringan nekrotik yang diakibatkan oleh kerusakan sel.

2 Jenis Inflamasi atau peradangan adalah:

a. Inflamasi akut

Inflamasi akut adalah inflamasi yang berlangsung relatif singkat, dari beberapa menit sampai beberapa hari, dan ditandai dengan eksudasi cairan dan protein plasma serta akumulasi leukosit neutrofilik yang menonjol.

Inflamasi akut hanya terbatas pada tempat inflamasi dan menimbulkan tanda-tanda serta gejala lokal. Inflamasi akut merupakan respon langsung dan dini terhadap agen inflamasi. Biasanya inflamasi akut ditandai dengan penimbunan neutrofil dalam jumlah banyak.

Pembengkakan (udema) akibat luka (injury) terjadi karena masuknya cairan ke dalam jaringan lunak. Neutrofil muncul dalam waktu 30–60 menit setelah terjadi injury. Pada daerah injury neutrofil tampak mengelompok sepanjang sel-sel endotel pembuluh darah. Sedangkan leukosit mulai meninggalkan pusat aliran dan bergerak ke perifer. Pengelompokan yang luar biasa dari leukosit selama masih dalam pembuluh darah disebut marginasi.

b. Inflamasi kronik

Inflamasi kronik terjadi karena rangsang yang menetap, seringkali selama beberapa minggu atau bulan, menyebabkan infiltrasi sel-sel mononuklear dan proliferasi fibroblast. Inflamasi kronik dapat timbul melalui satu atau dua jalan, dapat juga timbul mengikuti proses inflamasi akut atau responnya sejak awal bersifat kronis.

Perubahan inflamasi akut menjadi kronik berlangsung bila inflamasi akut tidak dapat reda yang disebabkan oleh agen penyebab inflamasi yang menetap atau terdapat gangguan pada proses penyembuhan normal.

Inflamasi kronik ditandai dengan adanya sel-sel mononuklear yaitu makrofag, limfosit dan sel plasma. Makrofag dalam lokasi inflamasi kronik berasal dari monosit darah bermigrasi dari pembuluh darah. Makrofag tetap tertimbun pada lokasi radang, sekali berada di jaringan mampu hidup lebih lama dan melewati neutrofil yang merupakan sel radang yang muncul pertama kali. Limfosit juga tampak pada inflamasi kronik yang juga ikut serta dalam respon imun seluler dan humoral.

5 tanda atau ciri inflamasi atau peradangan adalah:

  • tumor atau membengkak
  • calor atau menghangat
  • dolor atau nyeri
  • rubor atau memerah
  • functio laesa atau daya pergerakan menurun

3 peranan inflamasi atau peradangan:

  • memungkinkan penambahan molekul dan sel efektor ke lokasi infeksi untuk meningkatkan performa makrofaga
  • menyediakan rintangan untuk mencegah penyebaran infeksi
  • mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak.

Proses inflamasi

Inflamasi dimulai ketika sel tubuh mengalami kerusakan dan terjadi pelepasan zat kimia tubuh sebagai tanda bagi sistem imun. Inflamasi sebagai respon imun pertama bertujuan untuk merusak zat atau objek asing yang dianggap merugikan, baik itu sel yang rusak, bakteri, atau virus.

Menghilangkan zat atau objek asing tersebut penting untuk memulai proses penyembuhan. Dengan melalui berbagai mekanisme lainnya, sel inflamasi dalam pembuluh darah memicu pembengkakan pada area tubuh yang mengalami kerusakan dan menyebabkan pembengkakan, warna kemerahan, dan rasa nyeri. Inflamasi memang akan menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi hal tersebut penting dalam proses penyembuhan.

Mekanisme inflamasi diawali dengan adanya iritasi, di mana sel tubuh memulai proses perbaikan sel tubuh yang rusak. Sel rusak dan yang terinfeksi oleh bakteri dikeluarkan dalam bentuk nanah. Kemudian diikuti dengan proses terbentuknya jaringan-jaringan baru untuk menggantikan yang rusak.

Inflamasi

Cara untuk mengurangi inflamasi atau peradangan

  1. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung Omega-3. Omega-3 dapat mengurangi proses inflamasi dalam tubuh dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Omega-3 banyak ditemukan di dalam makanan seperti ikan, kuning telur, flaxseed oil, minyak ikan, walnut, dan lain-lain.
  2. Kurangi dan hindari sedapat mungkin makanan yang mengadung gluten. Makanan yang mengandung gluten dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh dan organ. Gluten protein ditemukan di makanan yang mengandung tepung, dimana gluten protein ini sulit dicerna oleh tubuh. Dengan mengonsumsi terlalu banyak makanan yang mengandung kadar gluten, kita sering merasakan kembung pada perut. Gluten terdapat pada makanan-makanan seperti mie, roti, pasta, kue, dan makanan-makanan lain yang menggunakan tepung dalam proses pembuatannya.
  3. Latihan beban. Berdasarkan penelitian, latihan beban atau latihan otot yang dilakukan dengan benar dan rutin, dapat secara efektif menurunkan tingkat peradangan dalam tubuh, meningkatkan kesehatan sistem kardiovaskular, dan menurunkan kemungkinan terkena penyakit diabetes.
  4. Perbanyak makanan yang mengandung Zinc. Makanan yang mengadung zinc dapat menurunkan kadar inflamasi tubuh dan meningkatkan tingkat hormon testosteron dalam tubuh. Zinc dapat ditemukan pada makanan seperti kerang, daging merah, lobster, kepiting, dark chocolate, dan bayam.
  5. Tidur yang cukup dan berkualitas. Kurang tidur dapat memicu tingkat inflamasi dalam tubuh. Dengan berolahraga, menjalani hidup sehat secara disiplin, manajemen stress yang baik, dan menjaga pola makan yang sehat, kita akan mendapatkan kualitas tidur yang baik, sehingga fungsi-fungsi sistem hormonal dan tingkat hormon dalam tubuh kembali ke tingkat yang normal dan seimbang, inflamasi yang terjadi di dalam tubuh pun dapat diminimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *