Dampak negatif DDT

Pengertian DDT adalah Dichoro Diphenyl Trichlorethane (DDT), diproduksi dengan menyam­purkan chloralhydrate dengan chlorobenzene (Tarumingkeng), DDT ini memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Berikut ini penjelasan tentang dampak negatif dari DDT.

dampak negatif penggunaan DDT di lingkungan adalah:

  • DDT Meningkatnya kematian burung akibat akumulasi penimbunan DDT pada puncak piramida rantai makanan
  • DDT Meningkatkan resistensi serangga sebagai hama
  • DDT Menyebabkan penipisan cangkang telur
  • DDT Menurunkan tingkat kesuburan tanah
  • DDT Menyebabkan timbulnya penyakit kanker pada manusia apabila termakan dalam jangka yang panjang
  • DDT Menyebabkan keracunan pada ternak
  • DDT Menyebabkan kerusakan pada tanaman

Apa itu DDT?

DDT merupakan salah satu dari pembasmi hama (insektisida) yang sangat ampuh, namun memiliki banyak dampak negatif. DDT ( Dichloro Diphenil Trichloretan) bersama dengan senyawa hidrokarbon dengan kandungan khlor, seperti aldrin, dieldrin, dan endrin mulai dilarang penggunaannya karena banyak serangga yang resisten terhadap insektisida.

Sifat yang dimiliki DDT adalah:

  • mudah menguap,
  • di udara dapat dipindahkan oleh angin melalui jarak jauh,
  • terakumulasi dalam tubuh,
  • daya racun meningkat sepanjang rantai makanan
  • tak terurai melalui penguraian cahaya, biologis maupun secara kimia,
  • berhalogen (biasanya klor),
  • daya larut dalam air sangat rendah,
  • sangat larut dalam lemak,

Sejarah DDT

Ahli Kimia Swiss Paul Hermann Müller dalam 1948 mendapatkan penghargaan nobel atas penemuan DDT yang ampuh melawan serangga. Penggunaan DDT berkembang pesat setelah perang dunia kedua, tetapi konsekuensi ekologis belum begitu dirasakan. Tahun 1950, ilmuan telah mempelajari bahwa DDT akan tetap bertahan dalam lingkungan dan ditransportasi oleh air menuju area yang lebih jauh dari tempat.

Dampak negatif DDT

Dampak buruk DDT

etidaknya terdapat dua sifat buruk yang membuat DDT ini menjadi sangat berbahaya bagi lingkungan hidup. Pertama, DDT memiliki sifat apolar, dimana zat ini tidak bisa larut namun sangatlah larut dalam lemak. Jadi semakin larut suatu senyawa dalam lemak maka akan semakin tinggi sifat apolarnya dan hal inilah yang membuat DDT menjadi sangat mudah menembus kulit.

Kedua, sifat DDT yang sangat stabil dan persisten. Hal ini berarti DDT tidak bisa larut dan hilang begitu saja jika sudah dilepaskan di lingkungan, sebaliknya justru akan bertahan dan dapat masuk ke dalam rantai makanan. Hal ini membuat DDT akan bertahan lama di dalam tanah dan bahan organik lainnya.

Jadi, misalnya petani menggunakan zat DDT ini untuk mengusir serangga maka mungkin saja zat DDT akan masuk ke dalam tanah dan ikut masuk ke dalam padi. Jika padi dikonsumsi mengandung zat DDT maka dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit kepada yang mengkonsumsinya terutama pada jenis penyakit kanker dan kelainan jenis-jenis penyakit saraf.

Efek lainnya di bidang pertanian adalah munculnya hama dan patogen yang tahan terhadap pestisida, munculnya hama baru, terjadinya peningkatan populasi hama dan patogen sekunder, berkurangnya populasi serangga yang bermanfaat, keracunan terhadap ternak dan manusia, residu bahan kimia dalam tanah dan tanaman, serta kerusakan tanaman.

Sebenarnya, bukan saja DDT yang memiliki daya racun serta persistensi yang demikian lamanya dapat bertahan di lingkungan hidup. Racun-racun POP lainnya yang juga perlu diwaspadai karena mungkin saja terdapat di tanah, udara maupun perairan di sekitar kita adalah aldrin, chlordane, dieldrin, endrin, heptachlor, mirex, toxaphene, hexachlorobenzene, PCB (polychlorinated biphenyls), dioxins dan furans.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *