Apa perbedaan antara Hibridisasi dan Kloning

Sebutkan 6 perbedaan antara Hibridisasi dan Kloning!

  1. Hibridisasi menimbulkan organisme genetik yang berbeda dari induknya yang dikenal sebagai hybridwhile, Sedangkan kloning menimbulkan salinan identik dari organisme induk yang dikenal sebagai klon.
  2. Hibridisasi memiliki karakter unggul atas induknya (meningkatkan kekuatan hibrida), namun kloning adalah 100% identik dengan induk mereka.
  3. Hibridisasi adalah metode reproduksi generatif sedangkan kloning adalah metode reproduksi vegetatif.
  4. Organisme Hibrid mengandung DNA dari jantan dan betina, tetapi organisme kloning mengandung DNA dari hanya satu jenis induknya.
  5. Teknik Hibridisasi yang hemat biaya dibandingkan dengan kloning.
  6. Hibridisasi hanya memberikan satu keturunan hibrida, sedangkan melalui kloning organisme identik tak terbatas dapat diproduksi.

Apa pengertian hibridasi?

Hibridisasi adalah sebuah konsep bersatunya orbital-orbital atommembentuk orbital hibrid yang baru yang sesuai dengan penjelasan kualitatif sifat ikatan atom.

Hibridisasi adalah metode reproduksi seksual di mana hybrid, organisme dengan karakteristik kedua orang tua, diperoleh. Ada subkategori hibridisasi, hibridisasi antarspesies di mana dua spesies dari genus yang sama dikawinkan untuk menghasilkan hibrida yang lebih baik (misalnya: hybrid bovid), dan dua individu dikawinkan untuk mendapatkan spesies hibrida (ex: Dua jenis Oryza sativa menyeberang untuk mendapatkan hibrida).

Meskipun ada istilah seperti hibridisasi antargenerasi, tidak mungkin untuk menghasilkan hibrida untuk penghalang genetik. hibridisasi alami juga ditemukan. Misalnya, Mule adalah keledai jantan hibrida dan kuda betina.

Apa pengertian kloning?

Kloning dalam biologi adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi) yang identik secara genetik.

Kloning adalah proses reproduksi untuk mendapatkan salinan dari induk yang tepat. Tidak seperti hibridisasi, kloning tidak memerlukan dua orang tua. Dalam lingkungan alam, klon yang dihasilkan oleh reproduksi aseksual dari organisme (misalnya bakteri).

Ada tiga jenis metode buatan kloning: kloning reproduksi dan kloning terapeutik. Gen kloning adalah produksi salinan gen pilihan yang sama persis. Dalam proses ini, gen yang diinginkan diekstrak dari genom dan kemudian dimasukkan ke dalam pembawa / vektor (misalnya, plasmid bakteri) dan dibiarkan kalikan (ex: insulin manusia).

Kloning reproduksi menghasilkan salinan identik dari hewan melalui proses yang disebut transplantasi inti (misalnya domba Dolly) atau metode kultur sel tunggal.Pada melalui kloning terapi, sel-sel induk embrio yang dihasilkan untuk membuat jaringan yang berbeda dalam organisme. Sehingga jaringan berpenyakit atau rusak bisa diganti dari jaringan clone kloning.

Dolly – domba kloning pertama di dunia Terlepas dari metode di atas, manusia kembar identik dan mamalia lainnya juga disebut sebagai klon alami karena berasal dari membelah telur yang telah dibuahi menjadi dua.

Apa itu Teknik Kloning?

Kloning berasal dari kata Yunani kuno, clone yang berarti ranting atau cangkokan. Dalam bahasa Inggris, clone (klona) digunakan untuk menyebut sekelompok makhluk hidup yang dilahirkan tanpa proses seksual. Istilah clone (klona) pertama diusulkan oleh Herbert Webber pada tahun 1903.

3 cara dalam melakukan kloning!

  • transfer gen
  • transfer embrio
  • transfer inti

a. Transfer Gen

Kloning ini dilakukan dengan menyisipkan potongan gen yang dikehendaki dari suatu spesies lain sehingga spesies ke spesies lain sehingga spesies yang di klon tadi akan memiliki sifat tambahan sesuai dengan gen yang telah di sisipkan ke dalam sel tubuhnya.

b. Transfer Embrio

Transfer embrio ini dilakukan dengan jalan mengambil ovum kemudian membuahinya dengan sperma, setelah terjadi zigot yang akan berkembang menjadi embrio, embrio- embrio ini di transfer atau ditanam dalam rahim individu betina sampai lahir menjadi individu dewasa.

c. Transfer Inti

Prinsip dari transfer inti yaitu dengan memasukkan inti sel (nukleus) dari satu spesies ke dalam sel spesies lain yang sebelumnya inti selnya telah dibuang atau dikosongkan.

Pada tahun 1952, Robert Brigs dan Thomas J. King (AS) mencoba teknik kloning pada katak. Sepuluh tahun kemudian (1962), John B. Gurdon juga mencoba teknik kloning pada katak, namun prcobaannya menghasilkan banyak katak yang abnormal atau cacat. Gurdon kemudian menyempurnakan percobaannya sehingga menghasilkan banyak katak yang tumbuh normal dan berkembang menjadi dewasa.

Kloning

Pada tahun 1986, Steen Wikkadsen (Inggris) mengklona sapi dengan tujuan komersial dengan metode transfer inti. Ia bekerja sama dengan Lembaga Grenada Genetics.

Pada tahun 1996, Ian Wilmut mengklona domba. Ia menggunakan sel kelenjar susu domba finn dorset sebagai donor inti dan sel telur domba blackface sebagai resipien. Sel telur domba blackface dihilangkan intinya dengan cara mengisap nukleusnya keluar dari sel menggunakan pipet mikro.

Kemudian, sel kelenjar susu domba finn dorset difusikan dengan sel telur blackface yang tanpa nukleus. Hasil fusi ini kemudian berkembang menjadi embrio dalam tabung percobaan dan kemudian dipindahkan ke rahim domba blackface. Kemudian embrio berkembang dan lahir dengan ciri- ciri sama dengan finn dorset. Domba hasil kloning ini diberi nama Dolly. Dolly disuntik mati pada tanggal 14 februari 2003 karena menderita penyakit yang sulit disembuhkan.

Perlu diperhatikan bahwa Wilmut melakukan 277 percobaan kloning dan dari sekian banyak percobaan, hanya 29 yang berhasil menjadi embrio domba yang dapat ditransplantasikan ke rahim domba, dan hanya satu yang menjadi domba normal. Dengan demikian, tingkat keberhasilan kloning domba masih sangat rendah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *