Berikut ini Arti Tuman – dijelaskan lengkap

Kata “tuman” yang sangat banyak dianggap hanya ada didalam bahasa Jawa sebetulnya terdapat didalam bahasa Sunda dan juga bahasa Indonesia. Didalam Baoesastra Djawa tahun 1939 hasil karya W.J.S. Poerwadarminta, kata-kata “tuman” artinya ialah “manuh (kumudu, matuh ngrasakake maneh) marga wis tau ngarasakake enake”. Yang artinya kira-kira itu seperti“terbiasa, selalu senang, dan ingin mengulangi lagi (dikarenakan sudah merasakan enaknya)”. Sementara untuk arti kata “tuman” didalam bahasa Sunda, misalnya saja yang ditulis oleh R.A. Danadibrata didalam Kamus Bahasa Sunda (2015), ialah “dibiasakan yang pada nantinya jadi jelek, keenakan [sesuatu hal yang jelek]”. Bahasa Indonesia didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring sudah mengartikan kata “tuman” itu sebagai “menjadi biasa (suka, gemar, serta lain sebagainya) sesudah untuk merasai senangnya, enaknya, dan lain sebagainya”. Agaknya, KBBI sudah mengambil arti tuman ini dari bahasa Jawa. Apabila dilihat dari arti-arti yang ada di atas, tampaknya yang ada didalam Tesaurus Bahasa Indonesia ini ialah perasan yang menjadi sebuah inti dari semua arti kata-kata “tuman” yang disediakan dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan juga bahasa Indonesia. Sejumlah meme yang sudah beredar pun hampir semuanya itu menyiratkan bahwa sanya bocah yang sedang ditampar oleh bocah yang lainnya ialah bentuk tindakan dikarenakan kebiasaan ataupun pengulangan perilaku yang seharusnya dihentikan dengan mendapatkan hukuman. “Tuman’ itu seperti halnya ngelunjak. Seringkali muncul saat memarahi anak-anak ataupun remaja yang sudah kebablasan. Nakal yang sudah diulang secara terus menerus. Sudah dibilangin berkali-kali, sudah selalu diingatkan, tetapi perilaku itu dilakukan secara terus menerus,” ungkapnya pada Tirto, Jumat (15/3/2019). Secara normatif serta pertimbangan perkembangan dari kematangan diri memang seperti itulah, sehingga orang dewasa tak dilekatkan didalam konteks dari kata ini. Sebagai catatan, didalam Kamus Jawa Kuno Indonesia yang setebal 1.496 halaman hasil karya dari P.J. Zoetmulder yang sudah bekerjasama dengan S.O. Robson, kata-kata “tuman” tak ditemukan. Hal ini, menurut dari Yuwono, dikarenakan kata itu ialah kata-kata yang relatif baru didalam bahasa Jawa sehingganya tak ada didalam kamus kuno.