Biografi Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas adalah anak dari paman Rasulullah saw Abbas bin Abdul Muthalib, beliau terkenal sebagi orang yang alim dan shalih. Beliau sangat memahami Al Qur’an dan sangat paham maknanya. Bahkan beliau menguasai Al Quran sampai ke dasar-dasarnya, mengetahui tujuan penulisan ayat, serta memahami segala rahasia dan keutamaannya.

Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) lahir 3 tahun sebelum peristiwa hijrah. Ketika Nabi Muhammad saw wafat, ia baru berumur 13 tahun. Dalam usia itu, beliau telah menghafal 1660 hadis yang diterimanya langsung dari Nabi saw, dan telah dicatat oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka.

Ketika Ibnu Abbas dilahirkan, beliau langsung dibawa kepada Nabi saw. Nabi Muhammad saw memasukkan air liurnya ke dalam kerongkongan bayi tersebut. dan air liur Nabi saw yang suci dan penuh berkah itulah yang pertama-tama masuk kedalam rongga kerongkongan bayi tersebut sebelum disusui ibunya. Seiring dengan masuknya air liur Rasulullah saw, masuk pulalah benih-benih ketakwaan dan hikmah kedalam pribadi bayi itu.

Allah swt berfirman dalam surat al Baqarah ayat 269: “Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Ketika berusia 6 atau 7 tahun, ia tinggal di rumah Nabi saw. Ibnu Abbas selalu menyediakan air wudhu untuk Nabi saw, bila Nabi shalat, dia juga ikut shalat. Bila Nabi bepergian, ia selalu mengikutinya dari belakang. Orang-orang  menyebut Ibnu Abbas seperti bayang-bayang Rasulullah saw yang senantiasa mengikuti.

Ibnu Abbas merekam segala peristiwa yang ia lihat dan kata-kata yang didengarnya dari Nabi saw melalui hati dan pikirannya yang bersih. Ibnu Abbas menghafal ribuan hadis dan teladan tindak tanduk Rasulullah saw, yang kemudian menjadi pedoman bagi umat setelahnya.

Memiliki kecerdasan yang luar biasa

Ibnu Abbas pernah bercerita mengenai Nabi Muhammad saw, “Pada suatu ketika, Rasulullah saw hendak mengerjakan shalat. Aku segera menyediakan air wudhu untuk beliau. Beliau terlihat sangat gembira dengan apa yang kulakukan. Kerika bersiap untuk shalat, beliau memberi isyarat kepadaku supaya berdiri di dampingnya. Tetapi, aku tetap berdiri di belakang beliau. Setelah selesai shalat, beliau menoleh kepadaku seraya berkata,’Mengapa engkau tidak berdiri disampingku?’ lalu akupun menjawab, ‘Anda sangat tinggi dalam pandanganku dan sangat mulia untukku berdiri disamping anda.’ Rasulullah saw menengadahkan tangannya, lalu berdoa, ‘Wahai Allah, berilah ia hikmah’.”

Ternyata Allah swt memperkenankan doa Rasulullah saw tersebut. Allah memberi hikmah kepada Ibnu Abbas melebihi hikmah yang diberikan kepada ahli-ahli hikmah yang lain. Beberapa diantaranya adalah:

Pada suatu waktu, ketika sebagian sahabat mengucilkan dan menghina khalifah Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas menjumpai sang khalifah dan berkata, “YA Amirul Mukminin, izinkanlah saya mendatangi dan berbicara kepada mereka.”

Ali menjawab, “Saya khawatir risiko yang mungkin akan engkau terima dari mereka.”

Ibnu Abbas menjawab, “Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa.”

Ibnu Abbas pun segera mendatangi dan bergabung dalam majelis kaum yang memusuhi sang khalifah itu. Dilihatnya, mereka adalah orang-orang yang sangat rajin beribadah. Begitu melihat kedatangan Ibnu Abbas, seorang jamaah pun menyambutnya, “selamat datang wahai Ibnu Abbas. Apa maksud kedatangan anda kemari?”

Ibnu Abbas pun menjawab, “Saya datang untuk berbicara dengan tuan-tuan.”

Sebagian jamaah yang lain berkata, “Katakalah, kami akan mendengarkan anda.”

Setelah dipersilahkan duduk, ibnu Abbas kemudian berkata, “Coba tuan-tuan katakan kepada saya, apa sebabnya tuan-tuan membenci anak paman Rasulullah saw, suami anak perempuan beliau, sekaligus orang pertama-tama yang beriman kepada beliau?’

Jamaah itu menjawab, “Kami membencinya karena tiga perkara. Pertama, ia ber tahkim (mengangkat hakim) kepada manusia tentang urusan agama Allah swt. kedua, ia memerangi Aisyah dan kaum Mu’awiyah, tetapi dia tidak mengambil harta rampasan dan tawanan. Ketiga, ia menanggalkan gelar Amirul Mukminin dari dirinya, padahal kaum muslimin yang mengukuhkan dan mengangkatnya.”

Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Sudikah tuan-tuan mendengar ayat Al Quran dan hadis yang hendak saya bacakan? Tuan-tuan tentu tidak akan membantahnya. Masalah pertama tentang ber tahkim kepada manusia dalam urusan agama, Allah swt berfirman dalam surat al Maidah ayat 95:

 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’ba atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi Makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya Dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. dan Barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

Ibnu Abbas melanjutkan, “Saya bersumpah bersama tuan-tuan dengan menyebut nama Allah, apakah putusan seseorang tentang hak darah atau jiwa perdamaian antara kaum muslimin itulah yang lebih penting ataukah seekor kelinci yang harganya seperempat dirham?’

Para jamaah menjawab, “tentu darah kaum muslimin dan perdamaian diantara mereka yang lebih penting.”

Ibnu Abbas berujar, “Marilah kita keluar dari persoalan ini.”

Ibnu Abbas berkata, “Masalah kedua, yakni Ali berperang tetapi ia tidak menawan para wanita seperti yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Mengenai masalah ini, sudikah tuan-tuan mencaci Aisyah, lantas tuan-tuan halalkan ia seperti wanita tawanan yang lain? Jika tuan mengatakan ‘YA’, tuan-tuan telah kafir. Dan jika tuan-tuan berkata, ‘ia bukan ibu kami’, tuan-tuan telah kafir juga. Allah swt berfirman dalam surat al Ahzab ayat 6:

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Allah).

“Lalu, pilihlah mana yang tuan-tuan suka? Mengakui ibu atau tidak?”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Untuk masalah ketiga, yakni Ali menanggalkan gelar Amirul Mukminin dari dirinya, sesungguhnya ketika perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, mula-mula Rasulullah saw menyuruh untuk ditulis, ‘inilah perjanjian dari Muhammad Rasulullah’. Lalu kaum musyrikin berkata, ‘seandainya kami mengakui engkau ya Rasulullah, tentu kami tidak menghalangi engkau mengunjungi Baitullah dan tidak memerangi engkau. Karena itu, tuliskan nama engkau saja, (yakni) Muhammad bin Abdullah.’ Rasulullah pun memenuhi permintaan mereka seraya berkata, ‘Demi Allah, aku adalah Rasulullah , sekalipun kalian tidak mempercayaiku.”

“Bagaimana?” tany Ibnu Abbas mengakhiri penjelasannya.

“Tidak pantaskah masalah memakai atau tidak memakai gelar Amirul Mukminin itu kita tinggalkan saja?”

Kemudian, mereka menjawab, “Ya Allah, kami setuju.”

Hasil pertemuan Ibnu Abbas dengan mereka (kaum khawarij) dengan alasan-alasan yang dikemukakanya menyebabkan 20 ribu orang yang membenci Ali kembali masuk ke dalam barisan Ali.