Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah seorang berilmu yang menjadi pengajar

Abdullah bin Abbas atau yang dkenal dengan nama Ibnu Abbas adalah anak dari paman Rasulullah saw Abbas bin Abdul Muthalib.

Ibnu Abbas dikenal rajin menuntut ilmu, sehingga kepandaiannya mampu mencengangkan ulama-ulama besar. Masruq bin Ajda’, seorang ulama besar tabi’in pernah berkata, “Paras Ibnu Abbas sangat elok. Bila ia berbicara, bicaranya sangat fasih. Bila ia menyampaikan hadist, ia sangat ahli dalam bidang itu.”

Setelah mencari ilmu kemana-mana, Ibnu Abbas kemudian mengajar. Rumahnya dirubah menjadi jami’ah (semacam universitas) kaum muslimin. Perbedaan antara universitas Ibnu Abbas dengan dengan universitas modern saat ini terletak pada jumlah pengajarnya. Karena hanya Ibnu Abbaslah seorang yang menjadi pengajar.

Salah seorang teman Ibnu Abbas pernah bercerita tentang kehebatan universitas ini. Ia berkata, “Saya berpendapat, seandainya kaum Quraisy mau membanggakan universitas Ibnu Abbas, memang sangatlah pantas. Saya melihat banyak orang berkumpul dijalan menuju rumah Ibnu Abbas, sehingga jalan itu menjadi sempit karen atertutup oleh kepala yang banyak. Saya pun segera masuk menemuinya dan memberi tahu bahwa orang banyak sudah berdesak-desak di muka pintu. Kemudian Ibnu Abbas berkata, ‘Tolong ambikan air wudhu!’”

“Lalu, ia pun berwudhu dan duduk di ruangan majelis. Ia berkata, ‘Siapa yang hendak belajar Al Quran, suruhlah mereka masuk!’ saya pun keluar mmeberitahukan pesannya tersebut kepada semua orang di depan pintu. Mereka pun masuk sehingga seluruh ruangan dan kamar-kamar penuh dengan orang-orang yang hendak belajar Al Quran. Apa saja yang mereka tanyakan dijawabnya dengan panjang lebar.”

“Kemudian, Ibnu Abbas berkata kepada jamaah barisan pertama, ‘beri kesempatan kepada kawan-kawan yang lain,’ suruh msuk orang yang hendak belajar tafsir Al Quran dan takwilnya!’ maka, kuumumkan hal ini kepada orang banyak, sehingga mereka masuk dan memenuhi ruangan serta kamar-kamar. Semua yang ditanyakan dijawabnya sampai mereka puas.”

“lalu ia berkata, ‘sekarang beri kesempatan kepada kawan-kawan yang lain!’ dan, sekali lagi saya disuruhnya keluar mempersilahkan orang yang hendak belajar tenang halal dan haram serta masalah fikih. Mereka pun masuk, segala pertanyaan dijawabnya dengan panjang lebar. Setelah cukup waktunya, ia kembali berkata, ‘kini beri kesempatan kepada orang yang hendak belajar faraidh (ilmu hitung waris) dan sebagainya!’ mereka pun keluar dan masuklah orang yang hendak belajar ilmu faraidh.”

“Setelah selesai pelajaran faraidh, disuruh masuk pula oarng-orang yang hendak belajar sastra Arab, syi’ir, dan kata-kata Arab yang sulit. Kemudian, Ibnu Abbas membagi hari-hari untuk berbagai macam bidang ilmu dalam beberapa hari untuk mencegah orang berdesak-desakan di muka pintu. Misalny, sehari dalam seminggu untuk ilmu tafsir, esoknya ilmu fikih, esoknya ilmu peperangan (sejarah perang Rasulullah) atau strategi perang. Hari berikutnya ilmu syi’ir, dan selanjutnya ilmu sastra Arab. Tidak ada orang alim yang duduk dalam majelis Ibnu Abbas melainkan mereka menundukkan diri (hormat) kepadanya.”