Sejarah Permasalah Politik Apartheid di Afrika Selatan

Nelson Mandela tokoh perjuangan anti-Apartheid. Pada tahun 1994, Nelson Rolihlahla Mandela terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan. Nelson Mandela aktif pada pergerakan anti Apartheid sejak tahun 1950.

Advertisement

Pada tahun 1962, ia ditangkap dan dipenjarakan oleh rezim nasionalis kulit putih. Pada tahun 1980, ia menjadi simbol perjuangan untuk demokrasi.

Pada tahun 1990, ketika Mandela berusia 72 tahun, ia dibebaskan dan menjadi pemimpin Kongres Nasional Afrika (The African National Congress) yang pada tahun 1994 memenangkan pemilihan multirasial di Afrika Selatan.

Ia memerankan kunci penting dalam mengintegrasikan kembali Afrika Selatan dengan dunia luar setelah selama 30 tahun terisolasi.

Apartheid merupakan suatu kebijakan dari pemerintah Afrika Selatan untuk memisahkan ras secara kaku. Kata apartheid sendiri berasal dari kata salah satu bahasa suku Afrika yang berarti pemisahan.

Politik apartheid pernah berlaku di Afrika Selatan dari tahun 1948-1991. Dalam politik apartheid bangsa Afrika Selatan terbagi menjadi empat golongan ras yakni: ras hitam, ras putih, ras berwarna (campuran), dan ras Asia.

Advertisement

Dalam politik apartheid diharuskan terdapat pemisahan dalam perumahan, pendidikan, lapangan kerja, sarana umum, sarana transportasi bahkan pantai sekali pun, ini dibuat dengan tujuan memisahkan warga agar tidak bercampur antara warga kulit Hitam dan warga kulit Putih.

Salah satu yang paling kontroversial dari kebijakan yang diskriminatif adalah larangan setiap pemain kulit hitam menjadi anggota klub olah raga. Oleh karena itu, Afrika Selatan pernah di boikot oleh dunia Internasional dalam berbagai pertandingan olah raga.

Istilah Apartheid

Istilah Apartheid pertama kali digunakan oleh orang-orang keturunan Belanda yang lahir di Afrika Selatan. Istilah itu sendiri mengandung arti pemisahan. Pemisahan di sini maksudnya adalah pemisahan orang-orang Belanda (kulit putih) dengan penduduk asli Afrika (kulit hitam). Istilah Apartheid kemudian berkembang menjadi suatu kebijakan politik.

Nelson Mandela
Gambar. Nelson Mandela

Apartheid, yang menjadi politik resmi Pemerintah Afrika Selatan, terdiri atas program-program dan peraturan-peraturan yang bertujuan untuk melestarikan pemisahan rasial. Secara struktural, Apartheid adalah kebijaksanaan mempertahankan dominasi minoritas kulit putih atas mayoritas bukan kulit putih melalui pengaturan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, politik, militer dan kebudayaan. Kebijaksanaan ini mulai berlaku resmi pada tahun 1948.

Orang-orang yang bukan kulit putih dihalang-halangi untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan politik. Mereka juga dibatasi untuk dapat bertempat tinggal dan tidak diberikan hak untuk bepergian dengan bebas. Sebaliknya, orang kulit putih berhak mengendalikan pemerintahan termasuk dalam urusan militer dan polisi.

Latar belakang

Munculnya masalah apartheid ini berawal dari pendudukan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa di Afrika. Bangsa Eropa pertama yang datang ke Afrika Selatan adalah bangsa Belanda. Bangsa Belanda datang ke Afrika Selatan di pimpin oleh Jan Anthony ban Riebeeck (1618 – 1677). Kedatangan bangsa Belanda di Afrika Selatan ini menimbulkan masalah baru dalam kehidupan masyarakat di Afrika Selatan. Kedudukan masyarakat, Afrika Selatan menjadi di bawah kedudukan bangsa Eropa (Belanda atau kulit putih), sehingga masalah warna kulit inilah yang menjadi titik pangkal munculnya masalah apartheid.

Kedatangan Bangsa Boer

Bangsa Belanda kemudian langsung menetap. Mereka sering disebut dengan nama bangsa Boer. Kedatangan bangsa Belanda itu kemudian diikuti oleh bangsa Inggris yang berhasil melakukan penguasaan dari ujung, Afrika Utara (Mesir) hingga ujung Afrika Selatan (Cape Town).

Kedatangan Inggris di Afrika Selatan mengakibatkan meletusnya Perang Boer (1899 – 1902) antara Inggris dan orang-orang Boer (Belanda). Dalam perang itu pihak Inggris berhasil mengalahkan bangsa Boer, sehingga wilayah Afrika Selatan menjadi daerah kekuasaan Inggris. Inggris akhirnya menjadi penguasa di wilayah Afrika Selatan. Selanjutnya, dibentuklah Uni Afrika Selatan pada tahun 1910. Dengan kemenangan Inggris di Afrika Selatan ini, maka semakin banyak orang-orang Inggris yang datang ke Afrika Selatan.

Kekuasaan Inggris di Afrika Selatan

Sejak Inggris berkuasa, di wilayah Afrika Selatan telah dibentuk sistem pemerintahan yang berada di bawah pengawasan Inggris. Di wilayah tersebut Inggris juga telah menjalankan politik rasial (pemisahan berdasarkan ras). Dalam negara tersebut, orang kulit putih yang merupakan minoritas menjadi penguasa terhadap orang kulit hitam yang mayoritas. Orang kulit putih, dengan Partai Nasional mendapat kemenangan dalam pemilu tahun 1948. Sejak tahun 1948, apartheid menjadi kebijaksanaan resmi negara Afrika Selatan, yang terdiri dari 15 persen dari jumlah penduduknya, mengatur segala masalah di negeri itu.

Penggolongan Penduduk Afrika Selatan

Melalui kebijaksanaan ini, penduduk Afrika Selatan digolongkan menjadi empat golongan besar, yaitu kulit putih atau keturunan Eropa, suku bangsa Bantu (salah satu suku bangsa di Afrika Selatan), orang Asia yang kebanyakan adalah orang Pakistan dan India, dan orang kulit berwarna atau berdarah campuran, di antaranya kelompok Melayu Cape.

Reaksi Terhadap Politik Rasial

Pemisahan suku yang dilakukan di Afrika Selatan ini mendapat tanggapan dunia internasional. Bahkan, Majelis Umum PBB mengutuk perbuatan itu. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah tersebut juga mendapat tanggapan yang serius dari rakyat Afrika Selatan. Di Afrika Selatan sering terjadi gerakan-gerakan pemberontakan untuk menghapuskan pemerintahan Apartheid. Gerakan yang terkenal dilakukan oleh kalangan rakyat kulit hitam Afrika Selatan dipelopori oleh African National Congress (ANC) yang berada di bawah pimpinan Nelson Mandela. Pada tahun 1961, ia memimpin aksi rakyat Afrika Selatan untuk tinggal di dalam rumah. Aksi tersebut ditanggapi oleh pemerintah Apartheid dengan menangkap dan kemudian menjebloskan Mandela ke penjara di Pretoria tahun 1962. Nelson Mandela baru dibebaskan pada tanggai 11 Februari 1990 pada masa pemerintahan Frederik Willem de Klerk. Pembebasan Nelson Mandela membawa dampak positif terhadap perjuangan rakyat Afrika Selatan dalam memperjuangkan penghapusan pemerintahan Apartheid. Pada tanggal 2 Mei 1990 untuk pertama kalinya pemerintah Afrika Selatan mengadakan perundingan dengan ANC untuk membuat undang-undang nonrasial. Pada tanggal 7 Juni 1990 De Klerk menghapuskan Undang-undang Darurat Negara yang berlaku hampir pada setiap bagian negara Afrika Selatan.

Perjuangan Nelson Mandela

Perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh Nelson Mandela dalam menegakkan kekuasaan tanpa adanya rasialisme di Afrika Selatan dan menghapuskan kekuasaan Apartheid memakan waktu yang cukup lama Nelson Mandela terus berjuang untuk mencapai kebebasan negerinya baik perjuangan yang dilakukan di dalam negerinya, agar mendapat dukungan dari seluruh rakyatnya, maupun perjuangan yang dilakukan di luar negeri, yaitu untuk mendapatkan pengakuan atas perjuangannya dalam menghapuskan kekuasaan Apartheid di Afrika Selatan.

Upaya-upaya yang ditempuh oleh Nelson Mandela tersebut mulai menampakkan hasil yang menggembirakan, ketika pemerintah minoritas kulit putih di bawah pimpinan F.W.De Klerk memberikan angin segar kebebasan bagi warga kulit hitam.

Perubahan Kebijaksanaan Apartheid

Pada tanggal 21 Februari 1991, di hadapan sidang parlemen Afrika Selatan, Presiden F.W. De Klerk mengumumkan penghapusan semua ketentuan dan eksistensi Sistem politik Apartheid. Pengumuman itu diikuti dengan penghapusan tiga Undang-undang yang memperkuat kekuasaan Apartheid, yaitu:

  • Land Act, yaitu undang-undang yang melarang orang kulit hitam memiliki tanah di luar wilayah tempat tinggal yang telah ditentukan,
  • Group Areas Act, yaitu undang-undang yang mengatur pemisahan tempat tinggal orang-orang kulit putih dan kulit hitam, dan
  • Population Registration Act, yaitu undang-undang yang mewajibkan orang kulit hitam untuk mendaftarkan diri menurut kelompok suku asing-masing.

Penghapusan undang-undang tersebut diikuti dengan janji pemerintahan De Klerk untuk menyelenggarakan pemilu tanpa pembatasan rasial (Pemilu multirasial).

Garis politik yang ditempuh Presiden De Klerk tersebut menghentak banyak pihak dan membangkitkan semangat perjuangan orang-orang kulit hitam dalam rangka memperjuangkan Afrika Selatan tanpa adanya perbedaan rasialis.

Pemilu Multirasial

Ketika diadakan pemilu multirasial pertama tahun 1994, partai yang dipimpin oleh Nelson Mandela, ANC berhasil menjadi pemenang Pada tanggal 9 Mei 1994, Nelson Mandela di pilih oleh Majelis Nasional (Parlemen Afrika Selatan) sebagai Presiden Afrika Selatan. Ia adalah Presiden pertama dari orang kulit hitam.

Pada tanggal 10 Mei 1994 Nelson Mandela dilantik sebagai presiden dalam upacara megah di Union Building, Pretoria. Upacara pelantikan di hadiri oleh sejumlah tokoh dunia dan disaksikan jutaan mata pemirsa televisi baik dan dalam maupun luar Afrika Selatan. Peristiwa bersejarah ini merupakan puncak perjuangan rakyat Afrika Selatan.

Sejak terhapusnya kekuasaan Apartheid, Afrika Selatan mulai membangun negerinya agar dapat sederajat dengan negara-negara lain di dunia.

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published.