Pengertian hujan zenithal, orografis dan frontal

Advertisement

Kadang-kadang kita ingin bermain dalam hujan. Kadang-kadang kita ingin pergi! Tapi bagaimana hujan dibuat? Uap air, tetes kecil air, selalu hadir di udara. Udara panas dapat menahan banyak uap air.

Ketika udara hangat, itu naik. Saat udara naik, semakin dingin. Air mulai mengembun dan menjadi cair. Banyak tetesan awan berisi air dikumpulkan bersama-sama. Kadang-kadang pegunungan menyebabkan udara naik dan tetesan air di udara mengembun.

Jika awan cukup besar, tetes air berkumpul bersama-sama dan menjadi lebih besar. Ketika tetes cukup berat, mereka jatuh ke tanah sebagai hujan.

Hujan adalah peristiwa jatuhnya butir-butir air dalam bentuk cair atau padat menuju permukaan bumi. Hujan terbentuk ketika butir-butir air di dalam awan bergabung, menjadi berat, dan jatuh ke bumi. Curah hujan dapat diukur dengan menggunakan alat Fluviograf atau Rain Gouge yang dinyatakan dalam skala milimeter. Daerah yang memiliki curah hujan yang sama dihubungkan dengan garis isohyet.

Berdasarkan cara terjadinya, hujan diklasifikasikan atas tiga golongan besar, yaitu sebagai berikut.

Advertisement

1) Hujan konveksi (hujan zenithal), yaitu hujan yang terjadi karena massa udara panas membumbung ke atas. Suhu udara di bagian atas rendah sehingga uap air berkondensasi menjadi awan. Jika butir air pada awan tersebut bertambah besar, turunlah hujan di tempat udara tersebut naik. Hujan konveksi terjadi hampir sepanjang tahun di sekitar khatulistiwa dan pada musim panas di daerah iklim sedang.

2) Hujan pegunungan (hujan orografis), yaitu hujan yang terjadi karena angin yang lembap terdesak naik ke lereng pegunungan, terjadilah hujan orografis.

3) Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang lembap bersentuhan dengan massa udara dingin pada bidang front, terjadilah hujan frontal.

Leave a Reply

Your email address will not be published.