Pengertian dan Teori Perubahan Sosial Budaya

Ada beberapa teori para ahli dalam hal perubahan sosial budaya yang akan dikemukakan dalam artikel kali ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat.

Advertisement

Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan yang terjadi pada unsur-unsur sosial disebut sebagai perubahan sosial. Atau dapat dikatakan perubahan sosial adalah suatu keadaan di mana terjadi ketidaksesuaian unsur-unsur yang ada dalam kehidupan sosial yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.

Unsur-unsur sosial dalam masyarakat meliputi nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-poIa perilaku, organisasi, susunan lembaga-Iembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial, dan hubungan sosial.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur kebudayaan disebut perubahan kebudayaan. Atau dapat dikatakan, perubahan kebudayaan adalah suatu keadaan di mana terjadi ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaanyang saling berbeda,sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.

Para ahli sosiologi menjelaskan tentang perubahan sosial adalah sebagai berikut.

Advertisement

a. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt

Perubahan sosial (social change) adalah perubahan dalam segi struktur dan hubungan sosial, sedangkan perubahan budaya mencakup perubahan dalam segi budaya masyarakat.

b. Selo Soemardjan

Perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi system sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap, dan pola-pola perilaku diantara kelompok masyarakat.

Perubahan Sosial budaya

c. Kingsley Davis

Perubahan sosial adalah  perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat, misalnya timbulnya pengorganisasian buruh dalam  masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya, sehingga menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.

Teori Perubahan Sosial Budaya

Ada beberapa teori perubahan sosial budaya, yaitu sebagai berikut.

a. Teori Evolusioner

Teori ini menjelaskan bahwa perubahan sosial memiliki arah tetap yang dilalui oleh semua masyarakat. Setiap masyarakat akan melalui tahapan perubahan yang sama, mulai dari tahap perkembangan awal menuju tahap perkembangan terakhir. Jika tahap terakhir ini telah tercapai, maka perubahan evolusioner pun akan berakhir. Menurut Herbert Spencer (1820 – 1903), teori evolusioner ini bisa disamakan dengan teori evolusinya Darwin, namun ia melihatnya dari segi evolusi sosialnya, yaitu peralihan masyarakat yang berawal dari segi evolusi sosialnya, yaitu peralihan masyarakat yang berawal dari kelompok suku yang homogen, sederhana, dan primitif ke tahap masyarakat yang modern dan kompleks.

b. Teori Siklus

Teori ini menjelaskan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat juga melalui suatu tahapan seperti halnya teori evolusioner, namun proses peralihan masyarakat itu tidak berakhir pada tahap terakhir yang sempurna, melainkan berputar kembali ke tahap awal untuk peralihan selanjutnya.

Beberapa ahli beranggapan bahwa teori ini dapat diibaratkan sebagai tahapan kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan kematian seperti halnya siklus hidup manusia.

c. Teori Fungsional

Teori ini menganggap bahwa perubahan itu sebagai sesuatu yang konstan atau tetap dan mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini akan berhenti jika perubahan yang terjadi telah menyatu atau terintegrasi dengan kebudayaan suatu masyarakat. Pengintegrasian itu akan terjadi jika perubahan yang dialami oleh masyarakat yang bersangkutan dianggap bermanfaat (fungsional), sedangkan perubahan lain yang terbukti tidak berguna (disfungsional) akan ditolak.

d. Teori konflik

Teori ini menganggap bahwa perubahan itu terjadi karena adanya konflik dalam masyarakat. Jadi, teori ini menilai bahwa yang konstan itu adalah konfliknya, bukan perubahannya. Jika konflik berlangsung terus, maka perubahan pun akan terus terjadi. Demikian pula konflik antar kelompok dan kelas sosial akan melahirkan perubahan berikutnya. Hal ini disebabkan karena perubahan yang terjadi setelah konflik menunjukkan keberhasilan suatu kelompok atau kelas tertentu dalam memenangkan konflik tersebut. Kelompok yang menang akan melaksanakan kehendaknya sendiri untuk mengubah sistem yang pernah dianut oleh kelompok lain.

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published.