Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya akan berbagai macam budaya. Walaupun berbeda-beda, Indonesia terbungkus dalam suatu kesatuan, atau dengan kata lain Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu bentuk atau wujud bahwa Indonesia kaya akan budaya ialah banyaknya jenis tarian. Tarian-tarian tersebut tersebar di berbagai daerah dan suku. Beberapa diantaranya yaitu sebagai berikut:

Tarian Saman

Tarian Saman Meuseukat berasal dari Arab yang memiliki latar belakang agama Islam. Tarian ini dinamis penuh dengan keseimbangan dengan suasana keagamaan. Tarian ini juga sangat disenangi dan terkenal di daerah Aceh. Tari Saman Meuseukat dilakukan pada posisi duduk berbanjar dengan irama yang sangat dinamis. Tarian daerah ini dilakukan dengan syair penuh ajaran kebajikan, terutama ajaran agama islam.

tari saman

Tari Pendet

Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangku pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.

Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada,merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. Dan tari pendet disepakati lahir pada tahun 1950.

Tari Tor tor

Tor tor adalah tari tradisional Suku Batak. Gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.

Menurut sejarah, tari tor tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur). Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan. Jenis tari tor tor beragam. Ada yang dinamakan tor tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar.

Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya. Selanjutnya ada tari tor tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja.

Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung). Terakhir, ada tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah.

Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.

Tari topeng

Tari topeng adalah sebuah tarian tradisional Betawi dalam menyambut tamu agung. Tarian ini akan dipentaskan pada saat acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya. Biasanya kostum yang digunakan pun selalu memiliki unsur warna kuning, hijau, dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *