Latar Belakang Konferensi Asia Afrika di Bandung Tahun 1955

Advertisement

Kerja sama antar bangsa untuk menciptakan kehidupan dunia yang aman dan damai sangat diperlukan oleh setiap bangsa di dunia. Kerja sama ini juga diperlukan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidup setiap bangsa di dunia.

Kerja sama tersebut dapat ditempuh melalui hubungan kerja sama regional dan internasional. Indonesia melihat bahwa kerja sama regional dan internasional merupakan salah satu usaha peningkatan ketahanan regional.

Melalui kerja sama ini, Indonesia ikut menciptakan perdamaian dunia pada umumnya dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara pada khususnya. Upaya untuk menciptakan perdamaian dunia telah ditunjukkan oleh Indonesia melalui penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Dari sinilah Indonesia membenahi diri dan aktif dalam hubungan antar bangsa serta ikut aktif menciptakan perdamaian dunia.

Latar Belakang Penyelenggaraan KAA

Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika dilatari oleh suasana makin meningkatnya perjuangan bangsa-bangsa terjajah untuk memperoleh kemerdekaannya pada masa pasca Perang Dunia II.

Pada pasca Perang Dunia II, konfigurasi politik dunia ditandai oleh munculnya bipolarisasi kekuatan antara dua kekuatan dunia yang saling berebut pengaruh, yaitu Blok Barat dan Blok Timur. Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat, sedangkan Blok Timur dipimpin oleh Uni Soviet. Kedua kekuatan tersebut saling berlomba membuat persenjataan modern.

Advertisement

Perlombaan pembuatan senjata itu telah menimbulkan ketegangan dan kecemasan dunia. Masyarakat dunia mencemaskan akan terjadinya perang dahsyat di antara dua kekuatan itu.

Negara-negara berkembang yang melihat situasi dunia tersebut terdorong untuk mencari jalan keluar membantu meredakan ketegangan dan menciptakan perdamaian dunia sebagai negara berkembang Indonesia berinisiatif mengadakan konferensi perdamaian yang dikenal sebagai Konferensi Asia Afrika.

Konferensi Kolombo

Gagasan untuk menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika, muncul dalam Konferensi Kolombo yang di selenggarakan dari tanggal 28 April – 2 Mei 1954 di Kolombo, Srilangka. Konferensi Kolombo dihadiri oleh 5 perdana menteri, yaitu Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo (Indonesia), Perdana Menteri Shri Pandit Jawaharlal Nehru (India), Perdana Menteri Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), Perdana Menteri Sir John Kotelawala (Srilangka), dan Perdana Menteri U Nu (Burma).

Konferensi Asia Afrika

Konferensi Pancanegara

Dalam konferensi tersebut, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, mengemukakan gagasan tentang perlunya diselenggarakan Konferensi Asia Afrika. Keempat Perdana Menteri lainnya mempertimbangkan usul Perdana Menteri Indonesia. Kelima Perdana Menteri, yakni Ali Sastroamidjojo (Indonesia), Perdana Menteri Shri Pandit Jawaharlal Nehru (India), Perdana Menteri Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), Perdana Menteri Sir John Kotelawala (Srilangka), dan Perdana Menteri U Nu (Burma) menyelenggarakan pertemuan persiapan sebagai langkah awal dari Konferensi Asia – Afrika. Pertemuan dilaksanakan di Bogor, dan Pertemuan ini lebih dikenal dengan Konferensi Bogor atau Konferensi Pancanegara (28 – 29 Desember 1954). Dalam konferensi ini, dirancang dan di rumuskan beberapa masalah yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di Asia – Afrika pada khususnya, maupun dunia pada umumnya.

Rumusan masalah-masalah yang dihasilkan dalam Konferensi Pancanegara tersebut adalah sebagai berikut.

  • Memajukan kerja sama, kepentingan-kepentingan, dan persahabatan diantara bangsa-bangsa di Asia – Afrika.
  • Mempertimbangkan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan serta hubungan negara-negara yang terwakili.
  • Mempertimbangkan masalah-masalah kepentingan khusus bangsa-bangsa Asia – Afrika seperti kedaulatan nasional, rasialisme, dan kolonialisme.
  • Meninjau kedudukan rakyat Asia – Afrika khususnya dan dunia umumnya dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka berikan untuk memajukan perdamaian dunia.

Pembukaan Konferensi Asia – Afrika

Akhirnya, berkat kerja sama yang dilakukan oleh kelima perdana menteri itu, Konferensi Asia – Afrika berhasil diselenggarakan dan dibuka oleh Presiden Soekarno pada tanggal 18 April 1955. Dalam pidato pembukaannya, Presiden Soekarno mengingatkan akan penderitaan dan perjuangan bangsa-bangsa Asia-Afrika ketiak menghadapi kolonialisme barat. Presiden Soekarno juga menyinggung tentang perjuangan para mahasiswa tahun 1927 di Brussel, Belgia dalam Konferensi Internasional Liga Menentang Imperalisme dan Kolonialisme. Selanjutnya ia menyerukan kepada peserta konferensi untuk menyatukan diri dalam menghadapi berbagai tantangan dunia. Setelah Presiden Soekarno berpidato, para peserta konferensi kemudian memilih Perdana Menteri AIi Sastroamidjojo sebagai Ketua Konferensi. Sedangkan Roeslan Abdulgani ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi.

Negara-negara Peserta

Dalam konferensi tersebut diundang 30 negara yang berada di kawasan Asia – Afrika. Tetapi Afrika Tengah (Rhodesia) tidak dapat hadir dalam Konferensi tersebut. Ketidakhadiran Rhodesia karena kondisi dan situasi dalam negerinya yang belum stabil. Walaupun demikian, konferensi Asia – Afrika tetap dilaksanakan dengan dihadiri oleh 29 negara berikut:

1.       Afganistan

2.       Ethiopia

3.       Fhilipina

4.       India

5.       Indonesia

6.       Irak

7.       Iran

8.       Jepang

9.       Kamboja

10.   Laos

11.   Libanon

12.   Liberia

13.   Libia

14.   Mesir

15.   Myanmar

16.   Nepal

17.   Pakistan

18.   Pantai Emas (Ghana)

19.   Saudi Arabia

20.   Srilanka

21.   Sudan

22.   Syria

23.   Thailand

24.   Tiongkok

25.   Turki

26.   Vietnam Selatan

27.   Vietnam Utara

28.   Yaman

29.   Yordania

 

Melalui perdebatan yang sangat panjang, akhirnya para peserta berhasil mencapai kesepakatan yang terdiri dari tujuh keputusan penting berikut.

Hasil-hasil Konferensi

Dalam Konferensi Asia Afrika ada beberapa kerjasama yang dihasilkan diantaranya sebagai berikut.

Kerja sama Ekonomi

  • Kerjasama ekonomi atas dasar saling menguntungkan dan saling pengertian serta menghormati kedaulatan nasional masing-masing.
  • Saling memberikan bantuan teknik berupa tenaga ahli, fasilitas latihan, proyek-proyek percontohan dan pendirian lembaga riset serta latihan.
  • Segera dibentuk badan khusus PBB untuk pembangunan ekonomi dan pengalokasian dana yang lebih besar dari Bank Internasional untuk pembangunan Negara-negara Asia-Afrika.
  • Perlunya pemantapan perdagangan komoditas di kawasan Asia-Afrika.

Kerjasama Kebudayaan

  • Menumbuhkan saling pengertian dalam membangun kerja sama bidang kebudayaan.
  • Pertukaran informasi mengenai kebudayaan masing-masing yang saling menguntungkan.

Hak-hak Asasi Manusia

  • Mendukung sepenuhnya terhadap prinsip-prinsip dasar hak-hak asasi seperti tercantum dalam Universal Declaration of Human Rights.
  • Mengecam kebijakan dan praktek-praktek pemisahan dan diskriminasi rasial serta bertekad menghapusnya.

Masalah Rakyat Terjajah

  • Kolonialisme dalam bentuk apapun adalah suatu kejahatan yang segera harus diakhiri.
  • Penaklukan bangsa-bangsa, dominasi dan eksploitasi asing merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia.
  • Mendukung perjuangan dan kemerdekaan rakyat-rakyat yang masih terjajah. seperti rakyat Aljazair, Maroko, dan Tunisia untuk menentukan nasib sendiri.

Masalah-masalah Lain

  • Mendukung penuh hak-hak rakyat Palestina atas tanah airnya dan menyerukan penyelesaian masalah secara damai.
  • Mendukung posisi Indonesia dalam masalah Irian Barat.
  • Mendukung Yaman dalam masalah Aden.

Memajukan Perdamaian dan Kerja Sama Internasional

  • Menyokong masuknya beberapa negara yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota PBB, seperti Jepang, Kamboja, Libia, Nepal, Srilanka, Vietnam, dan Yordania.
  • Menghimbau semua pihak untuk membatasi, mengontrol, dan mengurangi persenjataan.

Dasa Sila Bandung

Sepuluh pokok hasil Konferensi Asia Afrika adalah sebagai berikut.

  • Menghormati hak dasar manusia sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB.
  • Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  • Mengakui persamaan semua bangsa, baik besar maupun kecil.
  • Tidak melakukan intervensi atau campur tangan soal-soal dalam negeri negara lain.
  • Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri, baik secara sendirian maupun secara kolektif sesuai dengan Piagam PBB.
  • Tidak melakukan tekanan-tekanan terhadap negara-negara lain.
  • Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman-ancaman agresi terhadap keutuhan wilayah dan kemerdekaan negara lain.
  • Menyelesaikan perselisihan internasional dengan jalan damai sesuai dengan Piagam PBB.
  • Memajukan kerja sama untuk kepentingan bersama.
  • Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Pengaruh KAA

Setelah berakhirnya Konferensi Asia-Afrika, banyak negara yang belum merdeka atau masih berada di bawah pengawasan kaum imperialis mulai memperjuangkan nasibnya untuk mencapai kemerdekaan dan kedudukan sebagai negara yang berdaulat penuh. Di samping itu, Konferensi Asia Afrika juga sangat besar pengaruhnya di dunia internasional dan bahkan turut menjadi pendorong berdirinya organisasi Gerakan Non-Blok. Dengan demikian, Konferensi Asia-Afrika sangat besar pengaruhnya dalam usaha untuk menciptakan perdamaian dunia yang kekal dan abadi.

Hubungan antara negara- negara di kawasan Asia Afrika terus berlanjut. Hubungan itu diwujudkan dalam konferensi-konferensi yang lebih khusus lagi antara lain seperti berikut.

  • KMAA (Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika)
  • KWAA (Konferensi Wartawan Asia-Afrika)
  • KWAA (Konferensi Wanita Asia-Afrika)
  • KSKAA (Konferensi Setia Kawan Asia-Afrika)
  • KIAA (Konferensi Islam Asia-Afrika)
  • MMAA (Musyawarah Menteri Asia-Afrika)
  • FFAA (Festival Film Asia-Afrika)
  • KPAA (Konferensi Pengarang Asia-Afrika)

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published.