Langkah-langkah Mengarang Cerita

Advertisement

Untuk mengarang cerita yang akan digelar dalam pertunjukan, pada dasarnya sama dengan mengarang cerita yang akan dibaca orang. Langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum mengarang adalah sebagai berikut.

Tentukan Tema Cerita dan Judul Karangan

a. Tema

Tema adalah gagasan inti yang dijadikan landasan penyusunan karangan. Syarat-syarat tema:

1. menarik
2. diketahui atau dikuasai penuh
3. tidak kontroversial
4. dirumuskan dalam kalimat yang jelas serta
5. memiliki, kesatuan gagasan sentral dan terarah

b. Judul

Judul merupakan nama yang diberikan untuk bahasan atau karangan itu. Selain itu, judul berfungsi pula sebagal slogan promosi untuk menarik minat pembaca dan sebagai gambaran isi karangan. Sering kali judul dirumuskan lebih dulu sebelum karangan dibuat. Namun demikian, dapat pula judul itu dirumuskan setelah karangan selesai.

Judul yang baik harus memenuh, syarat-syarat sebagai berikut.

Advertisement

1. Relevan, ada hubungannya dengan isi karangan.

2. Provokatif, dapat menimbulkan hasrat ingin tahu pembaca.

3. Singkat, mudah dipahami dan enteng diingat.

c. Menyusun kerangka karangan

Mengarang Cerita

Kerangka karangan adalah rencana kerja yang memuat garis besar suatu karangan. Manfaat kerangka karangan adalah sebagai berikut.

1.       Memudahkan penyusunan karangan sehingga karangan menjadi lebih sistematis dan teratur.

2.       Memudahkan penempatan antara bagian karangan yang penting dengan yang tidak penting.

3.       Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.

4.       Membantu pengumpulan data dan sumber-sumber yang diperlukan.

d. Mengumpulkan data

Untuk memperkaya pemahaman dan pengetahuannya, seorang penulis harus mengumpulkan data, informasi, atau pengetahuan tambahan yang berkaitan dengan tema karangan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan membaca bahan acuan tertentu mengadakan wawancara atau pengamatan lapangan.

e. Mengembangkan kerangka karangan

Setelah kerangka karangan tersusun rapi dan data yang dibutuhkan sudah lengkap, langkah berikutnya yang dilakukan penulis adalah mengembangkan kerangka karangan itu menjadi karangan yang lengkap dan utuh.

Tentukan Tokoh yang Terlibat dalam Cerita

Dalam menulis cerpen biasanya tokoh yang dilibatkan tidak sebayak jika ingin menulis novel cukup satu atau dua orang tokoh. Sedikitnya tokoh memberikan keleluasaan pada pengarang untuk menggali karakter tokoh-tokohnya secara intensif.

Tentukan Latar Cerita

Latar termasuk ke dalam unsur intrinsik karya sastra. Termasuk dalam latar adalah keadaan tempat waktu dan budaya. Tingkat kedalaman dan keluasan cerita menjadikan terdapatnya perbedaan kompleksitas antara latar yang digunakan dalam novel dengan yang ada pada cerpen. Eksplorasi cerita dalam cerpen cenderung ke dalam, penggalian secara intensif. Sementara itu, dalam novel lebih kepada eksplorasi ekstensif (horizontal).

Akibatnya, novel memerlukan tempat yang lebih beragam dan waktu yang lebih lama. Dalam cerpen, umumnya waktu yang digunakannya sesaat dan sepenggal bagian tempat yang sempit.

Tentukan Plot Cerita yang Disesuaikan dengan Durasi Pementasan

Plot adalah rangkaian cerita yang ditentukan oleh hukum sebab akibat. Bentuknya ada dua macam, yaitu sebagai berikut.

a. Plot ketat,dan

b. plot longgar

Tentukan Konflik yang Akan Dimunculkan dalam Cerita

Konflik dapat diartikan sebagai suatu pertentangan. Bentuk-bentuk pertentangan itu sangatlah bermacam-macam sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:

a. Pertentangan manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin).

b. Pertentangan manusia dengan sesamanya.

c. Pertentangan manusia dengan lingkungannya, baik itu lingkungan ekonomi, politik,sosial, dan budaya.

d. Pertentangan manusia dengan Tuhan atau dengan keyakinannya.

Bentuk-bentuk konflik atau pertentangan-pertentangan manusia dengan Tuhannya  atau dengan keyakinan itulah yang lalu diangkat ke dalam cerita fiksi. Konflik itulah yang menggerakkan alur cerita. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa konflik merupakan inti dari sebuah cerita.

Tanpa adanya konflik, sangat sulit bagi terbentuknya suatu cerita. Misalnya, cerita tentang pemogokan karyawan. Cerita itu tidak akan terjadi jika tidak ada konflik-konflik yang melatarbelakanginya. Konflik tersebut bisa berupa perselisihan antara karyawan dengan pimpinan perusahaan, bisa juga konflik antara karyawan dengan pemerintah yang tidak memberikan jaminan dan perlindungan hukum.

Berbagai bentuk konflik akan kita temukan dalam drama. Demikian pula dengan intensitasnya yang umumnya diawali oleh intensitas konflik yang lembut, yang kemudian semakin mengeras dan pada ujungnya diakhiri oleh sebuah penyelesaian konflik. Bentuk dan intensitas konflik diatur dengan maksud agar menimbulkan penasaran bagi pembaca dan penontonnya.

Konfliklah menggerakkan alur sebuah drama. Dalam rangkaian konflik itu tersimpan amanat atau pesan pengarang. Amanat tersebut tersimpan secara tersirat dalam seluruh rangkaian konflik ataupun dalam dialog-dialog para tokohnya. Amanat tersebut ada yang berupa harapan, pesan, ataupun kritik. Amanat kecil dapat ditemukan dalam sebuah adegan dialog.

Menggunakan Istilah dalam Karangan atau Cerita Secara Tepat

Penggunaan istilah yang tepat dalam suatu cerita dapat membuat cerita yang disajikan lebih menarik dan tidak membosankan. Sebaliknya, karangan suatu cerita akan menjadi tidak menarik jika istilah-istilah yang digunakan tidak tepat.

Sedikitnya terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan istilah dalam karangan yaitu.

a.       Kecermatan dalam membedakan makna suatu istilah. Misalnya, chop-stick dan chop su-ey. Kedua istilah tersebut memiliki makna yang jauh berbeda, yang satu berarti”sumpit” dan yang lain “cap cay”.

b.      Membedakan istilah-istilah yang mirip ejaannya

Dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, banyak dijumpai homofon, seperti “sanksi” dan “sangsi”.

c.       Menghindari istilah-istilah ciptaan sendiri

Karangan merupakan karya yang dibuat untuk dibaca orang lain. Oleh karena itu, hindarilah istilah-istilah lokal ataupun ciptaan sendiri. Gunakanlah istilah yang sudah menjadi konvensi ataupun yang sudah dipahami masyarakat luas.

Tentukan Pola Sudut Pandang yang Ingin Digunakan dalam Menulis

Pola sudut pandang adalah pola pengembangan karangan yang didasarkan atas tempat atau posisi penulis dalam melihat sesuatu.

Buat Garis Besar Ceritanya Dahulu Berdasarkan Amanat yang Ingin Disampaikan

Hal ini bisa dibuat dalam bentuk outline atau kerangka karangan. Langkah selanjutnya adalah mulai menulis cerita.

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published.