3 penyebab Perang Diponegoro 20 juli 1825

Sebab-Sebab Perang 1) Rakyat sangat menderita karena dibebani macam- macam pajak. 2) Belanda ikut campur dalam urusan pemerintahan kerajaan Mataram. Bahkan dulu Daendels pernah menghendaki resimen Belanda duduk sejajar dengan sultan. 3) Belanda merencanakan membangun jalan raya di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa minta ijin terlebih dahulu.

Advertisement

Jalannya Perang

Perang Diponegoro dimulai pada tanggal 20 Juli 1825, ketika kediaman Pangeran Diponegoro di Tegalrejo dihantam meriam Belanda. Diponegoro dan pengikutnya menyingkir ke Selarong, daerah sebelah selatan kota Yogyakarta. Selanjutnya, tempat ini dijadikan markas kedudukannya.

Pasukan Diponegoro semakin kuat karena didukung ulama (bangsawan yang anti Belanda) dan rakyat. Di antaranya adalah Kyai Maja, seorang ulama dari Surakarta, dan Sentot Ali Basyah Prawirodirdjo.

Di pihak Belanda, Gubernur Jenderal Vander capellen menunjuk Letnan Jenderal Hendrick Marcus de Kock untuk  memimpin  pasukan.Perang Diponegoro

Pertempuran pada tahun-tahun  pertama meluas ke daerah-daerah seperti Pacitan, Purwodadi, Banyumas, Pekalongan, Semarang. Rembang, dan Madiun.  Pasukan Belanda banyak terpukul.  Pacitan, Purwodadi, Prambanan,  Plered, dan Kedu, berhasil direbut  pasukan Diponegoro. Memasuki  tahun  1827,  Belanda   menerapkan siasat Benteng Stelsel.

Menurut siasat ini,  benteng-benteng didirikan di daerah yang telah di rebut. Antar benteng dihubungkan dengan jalan, sehingga  komunikasi dan gerak pasukan dapat dilakukan  dengan cepat. Siasat  ini terbukti efektif sehingga pasukan Diponegoro dapat dibatasi  antara Kali Progodan Bogawonto.

Advertisement

Akibat diadakan  siasat benteng stelsel ini, pasukan Diponegoro mengalami banyak kekalahan. Banyak pemimpin tertangkap. Pangeran  Surya Mataram, Ario Prangwadono, Pangeran Serang, Pangeran Notoprojo, dapat dikalahkan   dan ditawan.   Pada tahun 1828, Kyai Maja menyerah kepada Letjen de Kock, disusul Sentot Ali Basyah Prawirodirdjo setahun berikutnya.

Pada akhir tahun 1829, pasukan Diponegoro sudah sangat lemah sehingga  pada tanggal   16 Februari 1830,  Diponegoro bersedia berunding  dengan Kolonel Kleerens, di desa Romo Kamol. Kemudian, dilanjutkan di Magelang  pada tanggal  28 Maret 1830, di kediaman Residen  Kedu.  Perundingan  gagal, dan dengan siasat licik yang telah direncanakan  sebelumnya, Diponegoro ditangkap  dan dibawa  ke Batavia,   untuk  kemudian   dibuang ke Manado.   Pada  tahun  1834, Diponegoro   dipindahkan  ke Ujung Pandang hingga  wafatnya  pada tanggal 8 Januari 1855.

Leave a Reply

Your email address will not be published.